Agus Lenyot

Cinta tapi Beda Agama

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Juli 21, 2013

Puisi_5_4

Seperti kata Sudjiwo Tedjo, kita bisa merencanakan menikah dengan seseorang. Tapi kita tidak bisa merencanakan jatuh cinta kepada siapa.

Bunga Kering Perpisahan. Ini cerita tentang dua anak manusia. Albert namanya. Anak pendeta. Humanis. Tak pasrah buta pada satu agama. Yang kedua, Dewi namanya. Cantik. Taat beragama, patuh pada orang tua.

Mereka dipertemukan asmara. Cinta mereka baik-baik saja. Sampai suatu ketika mereka bertemu dengan sekat maya yang tak pernah kita lihat rupanya: agama. Di luar sana, sekat senada meski tak sama juga ada. Di Bali kita menyebutnya kasta. Jika agama horizontal, kasta relasi atas bawah. Ada yang merasa lebih tinggi dibandingkan yang lain. Persoalan jatuh cinta yang tersekat agama, juga kasta tak cuma urusan Albert dan Dewi semata. Ada banyak dari mereka yang sedang dirundung masalah serupa.

Film Bunga Kering Perpisahan karya Hanung Bramantyo ini, cerita tentang Albert dan Dewi, pun menghadirkan duka. Dewi menikah dengan kekasih pilihan orang tuanya. Albert meninggal dalam kesendirian, juga kesetiaan. Kita tahu tak semua cerita cinta (harus) berakhir bahagia.

Ada penggalan menarik dari puisi Bunga Kering Perpisahan karya Denny JA ini.

Manusia lebih tua dari agama,
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta.

Kita tidak pernah memilih lahir di keluarga mana, suku tertentu hingga agama apa. Kebetulan aja kita dilahirkan menjadi bagian dari keluarga Islam, Kristen, atau Hindu. Kebetulan saja kita dilahirkan menjadi suku Jawa, Batak atau Papua. Kebetulan saja kita dilahirkan di Amerika, Eropa atau Afrika. Kebetulan saja kita dilahirkan berwarna sawo gosong, kuning langsat atau pucat pias.

Jika cinta lebih tua dari agama, mengapa agama menjadi lebih kuasa? Agama seharusnya tidak menjadi penghambat mereka yang ingin menyatukan diri membina rumah tangga, hidup bahagia atau membangun impian setiap dari kita. Toh misalnya, agama yang kita anut, sebagian besar dianut karena faktor keturunan, warisan orang tua. Bukankah sedikit dari kita yang memeluk agamanya karena benar-benar pencarian spiritual?

Tapi cinta kerap irasional dan di luar logika. Karena itulah cinta menjadi kompleks, tidak terdefinisikan dan penuh warna. Termasuk ketika tersekat oleh agama. Dia datang pada waktu yang tak terduga, menyiksa bukan karena kita tak mampu menggapainya tapi karena kita tak mengerti bagaimana langkah untuk mewujudkannya. Karena penuh warna, maka cinta acap penuh drama.

Untunglah, tidak semua cerita cinta tapi beda agama harus setragis Albert dan Dewi. Beberapa rekan kerja, berjuang untuk mempertahankan dan mewujudkan cerita cinta mereka. Ada asa bahwa yang yang terhalang sekat agama akan berakhir dengan sukacita. Aku senang melihat mereka berjuang dan berkorban untuk ini. Cinta memang sudah seharusnya saling menguatkan.

Bisa jadi soal (cinta tapi beda) ini sebenarnya sederhana jika relasinya hanya antara dua manusia yang mengalaminya. Tapi di Indonesia, jatuh cinta yang ingin diakhiri dengan pernikahan menciptakan relasi banyak pihak: orang tua, keluarga dan negara. Karena itulah cinta beda agama menjadi tidak sesederhana yang kita kira. Cinta bisa saja satu, tapi bukankah menikah perlu restu orang tua. Perjuangan memperoleh restu orang tua yang beda agama inilah yang kerapkali penuh drama.

Karena terlalu banyak faktor yang berkelindan itulah sebagian besar dari kita memilih pasangan yang relatif tidak banyak perbedaan sosial. Agama yang sama, suku yang sama. Kelas sosial yang sama.

Kenapa?

Seminimal mungkin perbedaan yang terbentang diantara kita, semakin sedikit usaha untuk meluruskan perbedaan yang kita punya. Pernikahan, meski aku belum mengalaminya, bukanlah untuk menyamakan perbedaan dua anak manusia. Melainkan membuat perbedaan yang ada menjadi seirama sehingga tujuan yang dicita-citakan tergapai dengan lebih cepat.

Lalu, apakah mereka yang beda agama, suku dan status sosial hidup bahagia hanyalah sebuah utopia? Tentu saja tidak. Hanya, jalannya menjadi lebih terjal. ‘Harga’ yang harus dibayar menjadi lebih mahal dan bisa jadi waktu yang dibutuhkan lebih lama. Karena simpangan dan derajatnya besar, kompromi terhadapnya juga menjadi lebih besar. Namun tidak semua dari kita bersedia berkorban terus menerus bukan? Karena itulah, perjuangannya mereka yang ‘cinta tapi beda’ menjadi lebih berat. Berbanggalah mereka yang menikah beda agama akhirnya bisa hidup bahagia.

Toh kalau mau mengikuti logika, kita sebenarnya bisa menghindari jalan terjal ‘beda agama’ ini. Jika sudah tahu beda agama, kenapa mesti didekati? Jika sudah tahu risikonya, kenapa mesti stalking diam-diam? Kenapa harus ada perhatian lebih dan mengapa harus membiarkan hati kita terbuka untuk dia. Bukankah sejak awal kita bisa membatasi diri tidak mengikuti rasa penasaran terhadap dia yang mencuri perhatian kita.

Toh, sebenarnya tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukankah untuk bisa jatuh cinta kita mesti mengalami yang namanya pertemuan kedua, ketiga dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Bukankah pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kita mengetahui lebih banyak tentang dia. Bukankah artinya kita bisa berpikir waras bahwa ada jalan terjal yang akan menunggu di depan kita. Ah, tapi itulah cinta memang menabrak logika. Kalau sudah cinta, di ujung dunia pun akan kita kejar.

Cinta membuat kita kalap mata, buta terhadap risiko, nekat menerobos rambu-rambu dan ya begitu yang akhirnya terjebak pada situasi rumit yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kita terjebak pada dilema yang kita ciptakan sendiri. Ketika sudah masuk pada ‘pertemuan-pertemuan berikutnya’, pilihan jatuh cinta adalah pilihan dengan kesadaran. Kita tahu artinya. Termasuk jalan terjal yang mungkin akan ditempuh. Kita sadar risikonya.

Sayangnya, tidak setiap dari kita bisa memilih takdir yang kita suka…

Iklan

63 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Made Wirautama said, on Juli 22, 2013 at 4:27

    Belum pernah jatuh cinta dengan yang beda agama, tapi yang beda kasta? *jelas pernah 😀

  2. Mudda Bima said, on Juli 23, 2013 at 4:27

    Ulasan yang menarik.
    Dan bukankah agama juga hadir karena cinta kepada seluruh umat manusia, tanpa pandang bulu? Mengapa pada akhirnya manusia-manusia sendiri yang menafsirkan agama sebagai pemisah cinta.

  3. widiya said, on Juli 31, 2013 at 4:27

    Tulisan yg menarik dan memberikan inspirasi.

    Begitulah, ketika cinta terbentur tembok perbedaan. Maka yg ada hanya pilihan utk lanjut atau pisah. Keputusan yg akhirnya membuat kita menemukan kesejatian cinta ilahi. Hikmahnya luar biasa. Semoga bg yg jatuh cinta (tp beda) tdk sampai lumpuh logika… Mmg tdk setiap waktu kita bertemu dgn hal2 yg menyenangkan. Tp dr situ kita tau, Tuhan selalu memberikan apa yg hambaNya butuhkan. Sesekali Dia mmbiarkan kita makukan kesalahan yg tolol, spy kita paham betapa dhaifnya kita dan hrs punya nyali utk rendah hati.. Makasih sdh memberikan ruang utk berkomentar. Salam kenal, smg silaturahmi ini membawa berkah..

  4. SIge said, on Agustus 5, 2013 at 4:27

    Perbedaan yang pastinya membuktikan apakah itu benar Cinta adanya..

  5. amoy adelia jansen said, on Agustus 13, 2013 at 4:27

    apakah cinta beda agama tidak bisa disatukan
    jika TUHAN bilang dia hanya satu kenapa kita harus berbeda
    salah jika kita cinta jika tau kita berbeda mengapa tuhan beri rasa cinta dan mengasihi hingga melumpuhkan semua logika mengapa tuhan pertemukan jika akhirnya tuhan inginkan perpisahan

    • ellis said, on Agustus 27, 2014 at 4:27

      sediihhhh ka amoy baca nya ..
      ku juga pacaran beda agama , sering kali berdebat tentang agama sama pacar .
      ujung-ujung nya marahan trs bilang putus, tapi tetep ajah dalam hati kita masih ingin bersama n bersatu dalam ikatan pernikahan ..
      tapi apa mungkin seorang muslim bisa menikah dengan seorang khatolik ????
      selalu berdoa minta yang terbaik sama allah ..

      • elviana sitorus said, on September 9, 2014 at 4:27

        Hemm klw cerita tentang agama aku sangat sedih dengar nya dan aku uga termasuk pcaran lain agama,
        Aku gk tau sampai kpan hubung’an kmi begini aku takut rang tua ku gk setuju jika aku masuk k’agama nya
        ap yg pertama x yg harus aku katakan k’pada keluarga jika aku yg masuk k’agama nya,????
        Hufff †̥ªp̯͡Ȋ̊ aku tetap yakin semua itu sudah d’rencana kan ALLah untk kmi berdua, 😦 😦

      • irene said, on November 11, 2014 at 4:27

        boleh, asalkan yang muslim lakinya
        ada surat nya di al-qur’an kalau seorang laki laki muslim boleh menikahi perempuan non muslim tetapi harus ahli kitab. ahli kitab itu orang khatolik / kristen
        selain perempuan akhli kitab maka tidak di perbolehkan
        di surat ini di jelaskan kenapa harus laki laki nya yang muslim, karena laki laki adalah kepala keluarga sehingga nanti dapat membawa anak nya menjadi seorang muslim

      • Ichsan Secang said, on Februari 1, 2016 at 4:27

        doa dan usaha. Usul aja gimana kalau kalian pindah ke agama yang lain bukan I dan bukan K. Kita kan tidak menuhankan agama jadi pindah agama bukanlah hal yang luar biasa.

  6. widhy said, on Agustus 15, 2013 at 4:27

    cinta beda agama ya……
    hemmmmm…………
    susah ngomongnya. terlalu sentimentil untuk di bicarakan,,,,,
    jalani saja lah sapa tau ada baiknya….
    tuhan pasti tau kox yeng terbaik. meski beda….

  7. pietry said, on Agustus 16, 2013 at 4:27

    Semoga apa yang berbeda menjadi suatu berkah….. Dan menjadi mengerti mengapa kita dipertemukan dengan berbeda agama

  8. yenni rosari said, on Agustus 16, 2013 at 4:27

    kita ada untuk saling melengkapi, seperti halnya nenek moyang manusia adam&hawa

  9. ida eka anggraini (@ida_ikka) said, on Agustus 28, 2013 at 4:27

    speakless…………… 😦 😦 😦

  10. lanno bae said, on September 4, 2013 at 4:27

    gimana cara menyatukany,,, sedangkan dari salah satu pihak kluarga sangat menghalang hubungantu,,, walau tlah d halang pihak kluarga tetapi mereka
    masih tetap ingin bersama,,, bahkan ingin menikah,,,,,, g mana cara meyatukn tu,,

  11. aya said, on September 10, 2013 at 4:27

    Saling mencintai..sama2 tdk bisa pisah..
    Tp kluarga tdk mgijinkan.
    Keluargany hny mw jika aq pndah agama.
    Namun bgaimanapun aq tdk bisa,
    Krn agama yg qu anut ini..mjadi identitas qu krn tlh bnar2 qu imani..qu rasakan Tuhan itu ad lewat agama ini & brulang x qu rasakan keajaiban dgn NAMANYA..yg slma ini qu panggil sbg Tuhan.
    n itu smua Bukan skedar krn kluarga,krn kluarga pun tdk pnh tw pgalaman ajaib yg qu alami.
    Aq tak pnh memintany ikut keimanan qu.
    dy pun bgtu.
    Tapi..knp hrs bgini.
    Jika takut pada keluarga..
    Knapa tdk mw pisah?
    Knapa sulit skali.. 😥

    • Agus Lenyot said, on September 10, 2013 at 4:27

      Sabar ya mbak….. 😦

      • Raka Suaningsih said, on September 11, 2013 at 4:27

        Semua agama itu mengajarkan kebaikan. dan Tuhan hanya ada 1,hanya beda sebutan di setiap agama. Saya salah 1 orang yg berpacaran selama 7 tahun beda agama dan sekarang akhirnya sudah menikah selama 1 tahun.Saya memilih ikut agama suami,karena saya merasa setelah menjadi keluarga,tidak boleh ada perbedaan lgi.

      • ryan said, on Januari 17, 2014 at 4:27

        Cinta lain agama, hmm.. sejujurnya saya sedang mengalami ituu.. entah kemana ahkirnya .. :’) Yang jelas ini sangat berat, saat ini pun saya hanya bisa curhat pada memo saya ada kala waktu nya saya memberi memo saya itu, agar iaa tahu.. masa masa yang akan indah akan datang, SELAIN Saya :’) saya tidak menganggap hubungan ini putus, adakalanya lebih baik menjauh dan mencari kehidupan baru :’) TANPA mengatakan PUTUS karna saya takut, ada lelaki lain yang mengusap air matanya didepan saya :’)

    • nesya said, on November 21, 2013 at 4:27

      nikah beda agama aja mbak

    • ellis said, on Agustus 27, 2014 at 4:27

      sama persis seperti yang saya alami saat ini , sudah 4 tahun berhubungan tapi belum ada kepastian tentang hubungan ini. karna perbedaan agama yang kami anut ..

  12. orenz said, on September 17, 2013 at 4:27

    Aq termasuk orang yang mengalami hal ini,
    memang berat untuk mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan hubungan, tapi inilah yang terbaik, daripada semakin lama semakin terikat dan semua bisa terluka. untuk membuat semuanya baik baik saja memang ada ada pengorbanan.

  13. nur ain said, on September 24, 2013 at 4:27

    aq termasuk orang yang mengalami hal ini,kami sudah 3 tahun berhubungan tapi sampai sekarang cinta kami tidak di restui,,aq pernah terpikir untuk berpisah,tapi aq tidak mampu,,,sekarang kami hanya mampu bersabar,walau pun tidak tau sampai kapan… 😦

  14. sulistia said, on September 26, 2013 at 4:27

    Lumayan nyesek kalo bahas ttg beda agama,, ngalamin langsung itu susah…
    Sedih senang campur aduk,,tapi kebanyakan sedihnya sih…
    Kalo kata temen gue “kalian itu sebenernya udh cocok,, tapi satu…agama”
    Pilih yg terbaik menurut kita ªªjjªª deh:D

  15. yuliana said, on September 27, 2013 at 4:27

    Berat memang…aku sudah merasa cocok, pas, tapi beda agama…maunya dia… aku yg hrs ikut keyakinannya tp aku gx bs….sebenarnya keluarga menyerahkan kepd keputusanku….seandainya dia mau masing2….

  16. indria said, on Oktober 6, 2013 at 4:27

    keyakinan yang memisahkan kita …
    buat kubertanya ( adilkah iniii ?????

    salah kah aku atas perasaan ini ,yang tak mampu menutupi aku masih cinta kamu

  17. Defina said, on Oktober 13, 2013 at 4:27

    He’s my first love…
    Kita sama2 saling mencintai tapi ada tembok yg sangat tinggi yg memisahkan kita berdua, AGAMA…
    Kita gak bisa ngelepasin satu sama lain…

    Nyesek banget rasanya kalo ngomongin masalah ini…
    * nangis*

  18. puisieva said, on Oktober 14, 2013 at 4:27

    Cinta…….?
    Tak ada agama dan kasta yg mampu menghalangi cinta. Cinta jangan dikerucutkan hanya pada hubungan pria dan wanita yg harus terwujud lewat pernikahan.

    • De said, on Juni 23, 2014 at 4:27

      Jadi cinta = hub pria dan wanita yg tdk hrs terwujud lewat pernikahan…siippp bnyk terjadi d sekitar kita..q jg mw.. Wkwkwk
      Jadi gk bawa2 agama..yg penting bercinta…

    • De said, on Juni 23, 2014 at 4:27

      Hedewh..klo gk nikah gk perlu bhs agama kalee,.

  19. Ko Mat said, on Oktober 22, 2013 at 4:27

    Antara hati dan logika.. Doi minta pisah sebelum terlalu dalam.. Till our path reunited again..

  20. hana said, on Oktober 23, 2013 at 4:27

    berat kalo ngomongin cinta beda agama,, namun yang pasti tak ada agama yang mengajarkan keburukan. secinta apapun logika juga harus dipakai,, jangan sampai agama jadi taruhan hanya demi cinta,, jangan khianati tuhan cuma karena alasan cinta.

  21. Xiane said, on Oktober 26, 2013 at 4:27

    Pada satu posisi ini, sangat sulit untuk dinasihati. Hanya pihak yang terkait yang bisa merasakan hati mereka.
    Cinta tapi beda agama sampai kapan harus tersakiti. Rasa sayang kita terhadap pasangan, harusnya tidak terhalangi SARA. Tuhan menciptakan perbedaan apakah untuk dibedakan? untuk disulitkan? Hanya meng-iya-kan pasangan seagama? Jika iya, dimanakah keadilan untuk yang merasakan?
    Jika kau melepaskan pasangan karena beda SARA, cobalah berpikir sejenak, apakah dia itu penting untukmu? Jika tidak, its fine.
    Kenapa agama diciptakan jika pada akhirnya hanya untuk ter-beda-kan? Dimana kah relevansi agama dan arti menyatu? Bukankah kita akan bertemu kembali dengan-Nya?
    Saat kita bertemu dengan-Nya, apakah kau akan ditanya, kau dari ras apa? Agama apa? Keturunan apa?
    Cinta tapi beda agama itu adalah hal tersulit yang harus dirasakan, tapi jika kau benar ingin bersamanya, berjuanglah, Tuhan akan bersama kita. Commit dan selalu berdoa, banyak rintangan berat menanti, tapi niscaya, it will take you to a happy ending

  22. Vika said, on Oktober 31, 2013 at 4:27

    Sperti kisah saya saat ini, Stidaknya saya masih berjuang untuk ini :’). Tasbih digengaman saya dan Rosario dijemarinya. Walau saya tak pernah tau ujung kisah ini.. Tapi saya tau Tuhan sayang kita :’))

    • nesya said, on November 21, 2013 at 4:27

      NBA aja mbak

  23. Oal said, on November 2, 2013 at 4:27

    nyesek..
    bingung untuk memilih..

  24. Fie said, on November 4, 2013 at 4:27

    kalo membahas masalah perbedaan agama ini, terasa sesak sekali dadaku. berusaha menyatukan perbedaan yang amat sangat rumit. berpisah pun sungguh tak sanggup. seperti berjalan di jalan yang buntu. itulah yang saya alami saat ini. :’)

  25. shintadewi said, on November 6, 2013 at 4:27

    Reblogged this on Just Writing and commented:
    sayangnya.. tidak setiap dari kita bisa memili takdir yang kita suka..

  26. Rudi said, on November 11, 2013 at 4:27

    untuk jiwaku yang tercinta,maaf sebesarnya membiarkanmu menangung smua yang disana dan aku tidak bisa berbuat apa apa,dan tidak bisa menghubungi kamu,
    ku ingin kamu tetap bertahan sampai kapanpun,hati ini sakit sesakitnya..walau harus kukorbankan nyawaku kurela,
    disini jg aq akan berjuang tak peduli apa kata orang,kamu keyakinanku
    tidak ada kamu ku bersumpah tidak akan ada perempuan lain dihidupku.
    (love you lisa oon)

  27. mila said, on November 14, 2013 at 4:27

    Mumet -_-

  28. Lesa said, on November 20, 2013 at 4:27

    Tidak dapat bnyak brkata,,karna saya mngalaminya juga.. jiwa yg teramat lelah dgn prbedaan ini..

  29. nesya said, on November 20, 2013 at 4:27

    Nyesek sh…tp hrus ttp brjuang….buktikn bwt org2 klau qt bs N pntas brsma….Cinta tapi beda agama itu hal tersulit yang dirasakan, tapi jika kita benar ingin bersamanya, kita berjuang, Tuhan akan bersama kita. selalu berdoa,meski banyak rintangan berat menanti, tapi it will take you to a happy ending…

  30. putra said, on November 21, 2013 at 4:27

    Solusi buat mbak/mas yg pngen nkah tp bda agama
    Hp/Whatsapp: 0812-8064-9567
    BBM: 293ABF48
    Email: info@nikahbedaagama.org
    Official website: nikahbedaagama.org

  31. AL,EL said, on Desember 8, 2013 at 4:27

    aku takut klo aku pisah,,,aku dah sayang bangt ma dia 😦

  32. AL,EL said, on Desember 8, 2013 at 4:27

    Hmmm…. cinta?
    yea emang susah mau bilang apa,,,
    ingt gk? hawa trcipta dari tlang rusuk adam, bagi aku gk msalah

  33. rinto. said, on Desember 12, 2013 at 4:27

    Cinta beda agama….itu yg sekarang yg lagi aku alami…pihak orang tua merestui…TAPI dengan satu catatan….
    Salah satu dari kita harus ada yg mengalah…
    Yg aku harap kan…pasangan ku mau ikut keyakinan ku….seperti komentar dari bak.Raka Suaningsih.istri harus ikut suami…karna suami itu kepala rumah tangga..tapi aku takan pernah memaksakan kehendak ku…
    Aku gk mau ada ungsur pemaksaan.
    Dan begitu jga sebalik y…pasangan ku ingin aku yg pindah keyakinan…buat aku gk masalah.aku beraggapan semua agama itu mengajarkan kebenaran.
    Tapi aku jga belum bisa memutus kan…semua ini butuh pertimbangan yang sangat matang.”Tapi besar harapan ku kita bisa bersatu,dan membagun keluarga kecil kita”Amin.

  34. Sayaa setujuuu bgt sma cerita n saran nya,,benar2 betul bgt kata lu bro..n itu yg gw jalani skrg,pacaran sma seorang non muslim anak seorang pendeta,yg bnar2 gw cintai,namun smpai skrg belum ada kepastia’an jelas selanjutnya akan sperti apa hubungan gw sma pacar gw.

  35. feronika said, on Februari 17, 2014 at 4:27

    emang gak mudah ngejalani cinta beda agama,, kadang aq berpikir aq yg slah mencintai, semuanya membinggungkan, ingin pisah tapi aq udah syang, ingin ya terus tpi tkut gak di restui ortu,, uuhh,, ruwet deh klo dh mslah beda agama,,

  36. dewi said, on Maret 14, 2014 at 4:27

    Saya adalah salah 1 pasangan yg menjalani pernikahan beda suku sekaligus beda agama. Awalnya begitu banyak pertentangan yg menghalangi perjalanan hubungan kami. Alhamdulillah selepas umroh tahun 2010, saya merasa mendapat jawaban atas doa2 saya selama ibadah disana. Akhirnya mei 2011 kami syah menjadi pasangan suami istri hingga kini hubungan kami baik2 saja semoga sampai maut memisahkan. Kuncinya adalah toleransi dalam menjalankan ibadah. Orang lain memang akan menghujat hubungan ini, tapi sebenarnya siapa juga yg menginginkan keadaan seperti ini?????

  37. sesy said, on Mei 9, 2014 at 4:27

    I’m working on it. =)

  38. andreas said, on Juni 2, 2014 at 4:27

    Saya pun mengalami hal itu.smp skrg pun saya msh trs berjuang n berusaha.trkdg rasa sesak itu hadir kalau mengingat memori kebersamaan kita.sedih senang miris menjadi satu.smpai trkdg saya sendiri pun iri mwlihat kakak perempuan saya yg menikah beda agama.orgtua ipar saya setuju2 saja karena yg menjalani mereka dan mereka hanya merestui hubungan itu,karena cinta tak seorangpun yg berhak melarang.karena cinta itu satu dan Tuhan itu satu.yg membedakan adalah cara beribadahnya saja. Tanpa ad paksaan kakak saya hrs ikut agama ipar saya,begitupun sebaliknya.saya hanya bisa pasrah saja menjalani hubungan saya skrg.karena saya yakin usaha dan maksud baik memank tdk selalu mulus,pst ad terjalnya jg.orangtua pacar saya tdk setuju krn agamanya yg kental.akhirx kami backstreet..banyak air mata yg sdh menetes tentang cinta dan perbedaan ini.

  39. Dan said, on Juni 10, 2014 at 4:27

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Maaf ustad, saya mau bertanya.
    Saya laki-laki beragama nasrani, akan menikahi perempuan muslim. Keinginan saya nanti ingin menjalani kehidupan rumah tangga dengan 1 agama. Masalahnya Ustad dari dulu saya selalu beri kebebasan kepada calon istri saya ini untuk mencari laki-laki muslim, sedangkan saya sudah niatkan memang tidak menikah. memang sudah nasib cinta tidak sesuai keinginan. Tapi seiring berjalannya waktu calon istri saya ini kembali & lebih memilih saya sebagai calon suaminya. Kata calon istri saya, dia tidak mau ikut umroh ataupun jadi hajjah karena tidak mau menyakiti hati keluarganya bila nanti pindah agama & tetap menunggu kepastian kami. Menurut pengalaman saya hidup pak ustad, di daerah saya beberapa perempuan nasrani menikah dengan laki-laki muslim ikut suaminya jadi islam. Dalam kasus saya ini, adil apa tidak jika saya meminta calon istri saya masuk kristen, karena saya yang akan jadi kepala rumah tangga. Dalam Alquran seorang nasrani disebut ahli kitab, saya juga pernah baca bahwa diijinkan perempuan muslim menikah dengan laki-laki dari nasrani-Ahli kitab. Pak Ustad percaya apa tidak dengan pernyataan jika kita setuju menerima seorang perempuan nasrani masuk islam & mendukungnya karena mualaf. Apakah tidak adil juga jika jika kita tidak menghujat orang yang murtad karena pilihan hidupnya. Bagaimana pendapat Pak Ustad dengan tulisan ini “Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat pribadi” jadi jika mualaf atau murtad adalah hak manusia itu sendiri. Saya menghargai Islam tapi saya hidup di negara yang hanya mengizinkan pernikahan satu agama. Sudah saatnya kita bisa saling toleransi & saling menghargai. Terima kasih.

  40. Rahma said, on Agustus 20, 2014 at 4:27

    Gue pernah ngalamin dan gue bilang “Emangnya kalo gue masuk agama lo, lo masih percaya sama gue? Tuhan gue aja gue khianatin, Apalagi lo entar” akhirnya kita ga ditakdirin buat sama-sama sampe lama. Tapi percaya deh. Tuhan akan mempertemukan kita sama seseorang yang lebih baik lagi 🙂

  41. Dan said, on September 6, 2014 at 4:27

    Saya memohon kepada Hakim MK agar menolak permohonan Damian Agata Yuvens, Rangga Sujud Widigda, Varida Megawati Simarmata dan Anbar Jayadi serta Luthfi‎ Sahputra yang meminta untuk membatalkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mengatur syarat pernikahan seagama. Alasan 1). Tidak ada satu agama pun yang menganjurkan pernikahan beda agama. 2). Orangtua akan jadi korban pertama ketika pernikahan beda agama ini dipaksakan, banyak yang sakit hati. 3). Sungguh tersiksa anak-anak dari hasil pernikahan beda agama karena sampai umur 17 tahun anak-anak itu tidak punya agama yang jelas merayakan semua hari raya, melaksanakan semua ibadah, misalnya 5X sehari sholat tapi minggu ikut ibadah di gereja. 4). Banyak contoh yang melaksanakan pernikahan beda agama ujung-ujungnya cerai. 5). Menurut saya pernikahan beda agama mencemarkan ke sakralan pernikahan secara agama & negara. 6). Pernikahan beda agama hanya berdasarkan nafsu duniawi bukankah pernikahan itu juga hubungan kita dengan Tuhan yang Maha Esa bukan sekedar dapat surat nikah/akte nikah, atau pernikahan bisa disebut ibadah apakah layak ibadah yang disakralkan agama yaitu pernikahan tapi tujuan ibadahnya kepada pasangan beda agama. 7). Kepada Sarjana Hukum yang punya ilmu tinggi 5 orang tersebut tolong juga pikirkan nasib mental & lingkungan anak-anak hasil pernikahan beda agama, kehidupan sosialnya akan banyak mengalami pergunjingan, akan banyak tekan & ejekan yang dihadapi anak yang punya 2 agama, secara sikis mental anak-anak hasil pernikahan beda agama akan tertekan, sedangkan kita mengetahui agama adalah dasar pijakan kita dalam hidup bagaimana orang bisa berdiri di atas dua perahu, tolong jawab 5 sarjana hukum yang pintar-pintar, anda hanya akan merusak kehidupan yang sudah teratur & paling cocok diterapkan di Indonesia. Pernikahan beda agama hanya cocok diterapkan di USA, Negara-negara Barat, karena di negara-negara barat kesadaran akan sangsi sosial cukup rendah buktinya banyak pasangan di USA yang bebas tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan & punya anak dari hasil perkawinan versi binatang tanpa harus menikah, bagi anda yang tetap memaksakan pernikahan beda agama dipaksakan diterapkan di Indonesia saya juga mohon kepada Hakim Konstitusi agar memberikan kemudahan urusan administrasi kepada pasangan muda yang menikah beda agama untuk pindah kewarganegaraan ke negara-negara yang mengizinkan pernikahan beda agama. Terima kasih ^^

  42. elviana sitorus said, on September 9, 2014 at 4:27

    Hmmm cerita tentang agama sangat lah sulit tuk d’bicara kan
    Aku uga pcran beda agama kmi saling mencintai apa ƪa̐ğΐ dia
    Aku gk tau harus sampai kpan begini,
    aku takut rang tua ku gk setuju jika aku masuk k’agama nya †̥ªp̯͡Ȋ̊ aku merasa nyaman d’agama nya †̥ªp̯͡Ȋ̊ d’sisi lain aku gk ♏åƲ buat keluarga ku sedih
    Hufff 😦 aku uga gk tau harus gimana nnti nya

  43. Aku 07.58 said, on September 21, 2014 at 4:27

    Saya islam, dan tersangkut masalah cinta beda agama dgn seorang laki2 HIndu.
    Setiap kali memutuskan untuk berpisah, dia selalu bilang untuk lebih baik mati :
    “Kalo kita gak bisa bersama, aku pengen Tuhan buru2 ambil nyawaku. Aku harap di kehidupan selanjutnya kita akan dilahirkan kembali dengan agama yang sama, dan bahagia sampai maut memisahkan”
    Walaupun islam tidak mengenal reinkarnasi, namun kata2nya membuat sesak 😥

  44. Nur said, on Oktober 4, 2014 at 4:27

    Saya seorang muslim,dan saya pun juga tengah menjalin hubungan dekat dengannya. Seorang laki2 yang berbeda keyakinan dengan saya.
    Kami menjalani semua baik2 saja,namun dalam hubungan kami tak pernah terlontar ungkapaan cinta darinya. mungkin karena hal barusan. Kamu terpisah oleh pemisah bernama agama.
    saya tidak tau akan sampai sejauh apa hubungan kami akan berlangsung,namun jika agama dan cinta adalah sebuah pilihan. Insyaallah saya akan terus mempertahankan agama saya,seperti apa yang diamanahkan oleh ibu saya setiap hari. karena saya pun meyakini,bahwa jika kamu berjodoh,pasti akan ada jalan dalam setiap permasalahan kami.

  45. Hana said, on Desember 5, 2014 at 4:27

    Saya Hana,wanita muslim…
    dan saat ini sy juga tengah menjalani hubungan dengan seorang lelaki nasrani…
    jujur, sy sngat mncintainya…
    bukankh cinta itu fitrah manusia?
    tp yg mnjd prmasalahan adlh keluargaku yg mnganut islam yg taat melarang hubungan kami….
    sy jg tau sy mencintai org yg salah…
    dlm Islam dikatakan, ssorg itu dinikahi karna 4 hal..
    yg prtama adalah agamanya…
    jujur..
    smpai saat ini sy bingung mau melangkah..
    mau melepaskan ataukah tetap hrus berjuang…
    jk melepaskan, dy sgt mnyayangiku dn akupun jg sngat mnyayangiku…
    jk tdk aku lepaskan, ortu bersikeras tdk merestui hubungan kami…
    lagi2 agamalah yg hrus dpertaruhkan…
    hny bs berdo’a stiap sujudku…
    jika dia adlh org yg terbaik untuk keluarga dn agamaku…mk dekatkanlah kami..
    namun jk bukan, brikanlah keikhlasan hati kami untuk menerima takdir-Mu…
    jk aku hrus mmilih antara agamaku dan dia… aku tetap mmilih agamaku…
    dn akn aku prjuangkan agamaku smpai aku mati…
    aku sngat mncintai Allah..
    dn cintaku pada-Nya tk bs trgantikan apapun dgn apapun di dunia ini…

    menikah adalah pnyempurna agama…
    mudah2an ada jalan bagi kita untuk bersama…
    love u coz Allah….

  46. Cacih Arlina said, on Januari 17, 2015 at 4:27

    Saya juga salah satu orang yang sedang menjalani hubungan kaya gitu kak:’)
    Nyesek banget emang kalo kita sayang banget sama orang, tapi harus dibatasi oleh benteng yang tinggi. Kadang suka kangen juga ada yang ngingetin solat, kangen nyuruh pacar jumatan, tapi ya mau gimana lagi, kita yang pilih jalan kaya gini:’)

  47. uli * said, on Februari 22, 2015 at 4:27

    Sy wanita muslim, lelaki sy seorang hindu. Suka duka sy selalu mendampinginya. Baik buruk sy selalu menerimanya. Cintaq kpdnya sdh tak terbantahkan lg. Hari2q selalu kulalui dgn menunggu & mendoakanya diiringi dgn air mata yg mengaliri pipiq . Berharap suatu saat ku bisa brsamanya. Restu org tua & kk mnjadi pnghalang. Dgn ku mati semoga dia tdk tersiksa dan terbebani dgn semua ini. I love you tutut, love you Ketut Ardi Saputra

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2015 at 4:27

      Tuhan pasti menunjukkan jalan pada kalian berdua. Amin.

  48. bukanprincess said, on Mei 2, 2015 at 4:27

    saya juga wanita muslim, pacar saya orang Nasrani. Kami sama2 sudah lelah untuk berpacaran, tetapi 1 hal, kami berbeda keyakinan. Aku sudah bilang dari awal, tetapi dia tetap mempertahankan. Aku ingin melepaskan, tapi dia yang membuatku tersenyum dan kembali semangat menjalani hidup di kota besar ini. Aku dan dia LDR, long distance relationship juga love different religion. kami sama2 mengerti akibat2nya yang akan ditimbulkan nantinya apa, tetapi aku tidak bisa menolak cinta yang datang, karena aku tidak tau kapan akan jatuh cinta dan kepada siapa. dan itu jatuh pada hati seorang Nasrani di Bali, Michael Alexander.

  49. JJRevolkova said, on November 23, 2015 at 4:27

    Izinkan saya menceritakan apa yang sedang saya alami. Aku pria katolik yang sedang manjalani hubungan beda agama dengan wanita beragama muslim, ia dari Aceh dan aku dari Flores (NTT), Kami tahu daerah kami masing2 ini merupakan daerah dengan mayoritas agama yg kuat. Tetapi Tuhan mempertemukan kami begitu uniknya.
    Di Aceh terkenal dengan mayoritas Islamnya yg diatas 90% dan dikatakan sbg bumi serambi mekkah, sedangkan di daerah saya dengan mayortitas Katolik yg luar biasa besar juga.
    Tak sampai situ saja, kami bahkan LDR / berhubungan jarak jauh dan kami belum pernah bertemu langsung sebelumnya. Hanya mengenalnya saja via tlp & VC / sekedar chating saja, namun Aku tahu dan bisa merasakan bahwa dia adalah orang yang membuatku teduh dan nyaman, sudah mewakili apa yg aku butuhkan sebagai teman hidup / pendamping yg istimewa untukku. Konyol2nya dia, manja-manjanya dia, sikap pedulinya.. hehe maklumlah kami sedang jatuh kedalam jurang cinta.
    2 bulan hubungan kami terasa indah dan manis, pernah ia mengatakan “aku senang menjalani hubungan denganmu walaupun tau berbeda keyakinan tetapi kita seperti tidak ada penghalangnya”, 2 bulan memupuk cinta dan kasih dan seiring waktu berlalu dan semakin banyak pikiran kami yg tersita, pastilah kami ingin melakukan ke jenjang yg lebih serius. melangkah ke jenjang pernikahan itu sudah pasti kami pikirkan, tetapi semakin kami mencoba melangkah maju semakin dekat juga kami dengan Tembok yang luar biasa besar yg dinamakan “Agama” , pernah mencoba mencari ujung dari masalah ini, tapi hasilnya selalu jalan buntu dan itu smakin membuat saya galau.
    Aku setia dengan ajaran agamaku, begitupun dia. sehingga bila membicarakan ini dengannya ibaratnya tak ada ujungnya. tetapi kami selalu menghargai satu sama lain, tak pernah memaksakan kehendakku dan tau bahwa kami sangat sangat sangat sangat saling sayang lebih dari apapun yg orang2 tahu. Selepas(akan) berjibaku dengan masalah agama satu sama lain, Aku harus siap menerima resiko terburuk dari kedua orang tua kami, seandainya Tuhan masih percayakan dia untukku, Aku harus siap apabila melihat calon anakku akan kebingungan dengan keyakinan dan cibiran akan menjadi hal yg lumrah yg harus aku jalani (aku sudah jauh memikirkan itu)
    Ya Tuhan kenapa hubungan kami serumit ini, kenapa cinta ini terbentur dengan tembok besar itu.
    Ya Tuhan aku begitu mencintainya, tapi aku juga tidak bisa meninggalkanmu. Orang lain bahkan bisa dengan ringannya mengatakan “kyk gk ada orang lain aja sih” , but.. please dude i through my own feeling in this way, you really didn’t know about us and our deeper feeling inside. Yang sedikit pro mengatakan “Klo emg sayang, perjuangkan!! tapi cobaan lu di depan bakalan berat, apalagi nama depannya dia udah Cut”. Aku tersenyum membenarkan pernyataannya, tapi aku juga mengatakan, memang masalah ini berat adanya, bahkan segaris harapan juga tidak terlihat, tetapi ingat juga akan kuasa Tuhan, jangan lupa menyisipkan kuasa Tuhan disela2 ketidakmungkinan ini.
    Baiknya kita percaya bila Tuhan sudah berkehendak semua yang mustahil bahkan yang tidak terpikirkanpun akan terjadi. Aku bukan satu2nya yg memiliki kisah benturan seperti ini, aku juga percaya masih banyak orang diluar sana yang memiliki kisah lebih berat dan rumit dariku. Hmm ingin ku tepis smua ending dari para kisah beda agama diatas dengan happy ending, dengan tidak adanya kata berpisah, biarkan cinta dari Tuhan yang bekera, dengan tidak adanya rasa bingung untuk calon anak2 nanti. dengan mendahulukan rasa cinta dari pada permasalahan hukum agama (toh kita menyebah 1 Allah aku tak pernah menduakannya, tetapi diajaranku Aku melalui perantara yaitu Yesus Kristus)
    Akhir kata, Berusahalah memperjuangkan cinta, sisanya serahkan pada Tuhan, percaya kekuatan doa, semoga dikuatkan apapun hasilnya nanti, bahagia / tidak. Tapi semoga berakhir bahagia. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: