Agus Lenyot

Mereka (yang) Pelan-Pelan Terlupakan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Agustus 16, 2013
Dua bocah terkecil di foto itu adalah Sidika dan Khotam, pengungsi di Transito.

Dua bocah terkecil di foto itu adalah Sidika dan Khotam, pengungsi di Transito.

“Ayah kapan kita pulang ke rumah sendiri?”

Ucapan polos dua anaknya, Maryam Nur Sidikah, 6 tahun, dan Muhammad Khotaman Nabiyyin, 4 tahun, kerap mengusik pikiran Sahidin, koordinator pengungsi Ahmadiyah di Wisma Transito Majeluk, Kota Mataram. Sahidin hanya mengelus dada. “Sabar ya Nak, nanti kita pulang kok ke rumah.”

Sidikah dan Khotam merupakan dua dari 24 anak Ahmadiyah yang lahir di pengungsian Asrama Transito. Kini sebanyak 32 kepala keluarga yang berjumlah 130 jiwa menghuni tempat pengungsian ini. Mereka resmi berstatus pengungsi sejak penyerbuan perumahan Ahmadiyah di 4 Februari 2006 silam. Anak-anak ini tak pernah mencecap hidup nyaman di rumah sendiri.

Wisma Transito, milik Pemerintah Provinsi NTB, berdiri di atas lahan seluas separuh lapangan sepakbola. Lokasinya hanya 5 menit perjalanan kendaraan bermotor dari pusat Kota Mataram. Terdiri dari empat bangunan utama, mirip aula sekolah dasar, pengungsi Ahmadiyah menempati tiga bangunan diantaranya. ‘Masjid’ Ahmadiyah beradai di pojok barat bangunan. Jangan bayangkan ada corong ke empat penjuru mata angin. Di sinilah jemaah Ahmadiyah melaksanakan sholat berjemaah dan taraweh selama ramadhan.

Pengungsi Ahmadiyah menjadikan tiga bangunan besar sebagai rumah mereka. Yang dimaksud ‘rumah’ hanya penyekatan dengan kain kusam tipis setinggi dua meter. Mirip sal kelas I rumah sakit pemerintah. Jemaah yang ingin masuk ke ‘rumah’ tinggal menyibakkan kain tipis itu. Yang beranjak dewasa dibuatkan kamar sendiri atau dikumpulkan dengan yang sebaya. Beberapa diantaranya memilih ruang kosong seperti mushola sebagai kamar tidur.

Di luar bangunan, jemuran digantung di depan. Dapur, yang terbuat dari bilik bambu, dibuat berjejer sejajar dengan bangunan wisma dan terletak persis di tengah-tengah bangunan. Aroma ikan goreng sambal tomat meruap ketika Tempo datang ke sana. Tujuh tahun sudah jemaah Ahmadiyah hidup di pengungsian, meninggalkan rumah mereka di Ketapang, Lombok Barat.

Ketapang hanya berjarak sekitar 20 menit perjalanan dari Transito. Bekas rumah dibiarkan mangkrak tak terawat. Atap rumah, yang dulu dilempari massa, masih bolong di sejumlah titik. Rumah-rumah itu kini dijadikan tempat istirahat petani yang menggarap sawah di sekitar perumahan. Di dinding ada sejumlah coretan berbau porno menggunakan bahasa Lombok. Bangunan ini makin mengkhawatirkan karena tergerus penambangan pasir di sisi timur. Batas antara tambang pasir dengan rumah jemaah hanya sejengkal kaki. Suasana Transito yang semrawut dan kumuh amat kontras dengan pemukiman yang sejuk karena angin sawah.

Toh meski hidup sumpek, sebagian anak-anak Ahmadiyah seolah tidak peduli kondisi ini. Ketika saya datang, mereka asyik berlarian ke sana kemari sembari tertawa cekikikan. Mereka amat senang tatkala ada orang baru datang ke Transito. Mereka cepat akrab dan menyalami tangan saya satu per satu. Anak-anak ini bahkan menempel dan bergelayut di bahu saya. Ada pula yang sembari tersenyum malu-malu dan memanggil-manggil untuk menarik perhatian.

Di depan gedung, ada halaman seluas lapangan basket. Sepanjang hari di lapangan inilah anak-anak menghabiskan keceriaan. Sore hari, empat bocah di lingkungan sekitar Transito sedang bermain bola. Tapi tak seorang pun anak Ahmadiyah yang ikut nimbrung. “Mereka nggak mau ngajak kami,” Sidikah saat ditanya kenapa tidak ikut bermain. Beberapa bocah Ahmadiyah hanya asyik menonton sembari termangu.

Sahidin tak memungkiri kehadiran jemaah Ahmadiyah tak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Majeluk. Saat puasa misalnya, beberapa kali remaja di sekitar Transito mengarahkan tembakan kembang api ke wisma. Bunyinya mengagetkan jemaah yang sedang istirahat. Sahidin sebenarnya ingin menegur kelakuan ini namun tahu diri dengan status sebagai ‘pendatang’. “Kalau kami protes, nanti mereka bilang, siapa suruh datang ke sini.” Meski marah, Sahidin memilih berkompromi pada keadaan.

Beberapa anak Ahmadiyah yang usianya belasan paham dengan status mereka. Tapi tidak dengan anak-anak yang usianya di bawah 10 tahun, mereka yang lahir di pengungsian. Mereka kerap menanyakan, mengapa rumah mereka berbeda dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka. Diskriminasi dan stereotif berupa kalimat sinis, “Kamu anak Ahmadiyah ya?” juga kerap mereka terima. Sahidin memberikan pemahaman, bahwa mereka memang jemaah Ahmadiyah dan itu bukan masalah.

Toh, inilah yang memotivasi anak-anak Ahmadiyah untuk menunjukkan mereka punya kelebihan. Basirudin Aziz, mubalig Ahmadiyah di Transito menuturkan anak-anak Ahmadiyah rata-rata berprestasi di kelasnya. Sebelumnya sejumlah anak Ahmadiyah sempat dilarang bersekolah karena tidak memiliki akte kelahiran. Tapi setelah ada kebijakan dari pemerintah, anak-anak Ahmadiyah ini akhirnya diperbolehkan bersekolah. “Karena berprestrasi, kepala sekolah akhirnya kenal baik dengan saya,” kata Basir.

Tujuh tahun lebih di pengungsian, jemaah Ahmadiyah ini hidup tanpa kepastian. Pulang kembali ke Ketapang, tapi tak ada jaminan keamanan dari pemerintah. Di janjikan relokasi ke sebuah pulau, hingga sekarang tak ada jawaban pasti. Menurut Sahidin, belum pernah ada perwakilan pemerintah yang menawar tanah mereka secara resmi.

Satu-satunya yang pernah dilakukan pemerintah adalah memberikan pembinaan ke jemaah Ahmadiyah agar ‘kembali ke jalan yang benar’. Pembinaan ini diisi oleh sejumlah tuan guru di Lombok. Direncanakan selama setahun, program ini berhenti di bulan keenam. Program ini gagal karena kedua pihak bersikukuh dengan keyakinan masing-masing.

Pilihan yang tersedia adalah hidup di Transito dengan segala ketidakpastian. Mereka kehilangan hak sebagai warga negara karena gagal memperoleh KTP. Akibatnya, beberapa diantara mereka memperoleh kartu identitas melalui cara ‘ilegal’. Pemuka agama yang diharapkan bisa menjadi oase juga tak berbuat apa-apa, bahkan menyudutkan dan menyesatkan mereka. “Ulama di sini memilih tidak mau tahu terhadap kami,” kata Basir.

Ketika kami pamit dari Transito anak-anak Ahmadiyah terus mengeliling kami sembari menanyakan apakah saya akan menginap di sana atau tidak. Raut kecewa mereka tunjukkan ketika saya berkata tidak. Tatapan kosong bocah-bocah Ahmadiyah mengiringi kepergian. Saya takut, Sahidin harus kerepotan menjawab pertanyaan dua anaknya.

“Ayah kapan kita pulang ke rumah sendiri?”

Catatan:
1. Foto merupakan milik Dwianto Wibowo. Foto ini, yang merupakan salah satu dari esai foto tentang pengungsi Ahmadiyah di Transito, menjadi Juara I kategori Foto Esai Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012.

Iklan
Tagged with: ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Agustus 16, 2013 at 4:27

    :’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: