Agus Lenyot

Bola Liar ‘Dugaan Lobi di Toilet’ Seleksi Hakim Agung

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Oktober 3, 2013

jurnalisme gosip1

Pertanyaan besar yang sering ada di kepalaku, bagaimanakah menyampaikan fakta dalam jurnalistisk?

Aku sendiri sejak awal memutuskan tidak menulis dugaan lobi toilet antara calon hakim agung dengan seorang anggota Komisi III DPR karena dua alasan. Pertama, aku tak melihat sendiri peristiwa itu terjadi. Kedua, aku tak yakin di sana ada lobi, kemudian transaksi atau pemberian sesuatu.

Karena tak yakin, aku memutuskan untuk tidak menjadikannya berita. Aku cuma berpikir, bagaimana mungkin aku menulis sesuatu yang tidak aku lihat sendiri peristiwanya dan tidak aku yakini kebenarannya. Meskipun saat itu, berbagai media daring menjadikan isu sebagai berita hangat kala itu.

Peristiwa yang menghebohkan publik itu terjadi pada 18 September 2013 saat uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung. Peristiwanya sederhana saja. Ketika itu, aku bersama beberapa kawan nongkrong di depan Badan Kehormatan menunggu anggota Dewan sembari mengolah isu politik. Aku duduk persis di depan toilet di samping Komisi VIII, termasuk bersama seorang kawan wartawan yang memergoki pertemuan itu.

Kawan wartawan ini mencurigai pertemuan ini. Apalagi, berdasarkan cerita kawan ini, ada bisik-bisik dan tanya-tanya saat keduanya di urinoir. Sang anggota Dewan, konon menyodorkan secarik kertas kepada calon hakim agung. Curiga dengan pertemuan itu, kawan ini akhirnya berusaha meminta konfirmasi kepada sang calon hakim agung apakah sedang melakukan lobi kepada anggota Dewan.

Siangnya, informasi mengenai dugaan lobi di toilet bersliweran. Aku yang membaca berita kawan wartawan bertanya kepada kawan itu. Dia menjelaskan seperti yang tertuliskan dalam berita Okezone ini. Inilah berita yang menjelaskan bagaimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi dari kacamata sang wartawan yang melihat.

Aku sendiri akhirnya memilih menunda menulis peristiwa itu. Kepada teman yang memergoki peristiwa itu aku berujar, “Bro, kalau ditagih kantor gue pakai kesaksian loe ya.” Sang kawan ini mengiyakan. Sampai sore, aku akhirnya memilih untuk tidak menulis informasi ini sama sekali, bertahan dengan dua alasan di atas.

Rupanya, media-media lain langsung mengolah isu ini dari berbagai perspektif. Seperti sebuah bola salju, informasi mengenai dugaan suap ini pun bergulir, membesar dan tak terkendali. Komisi III yang menyelenggarakan uji kelayakan kebakaran jenggot. Sang anggota, Bahrudin Nasori, Bendahara Partai Kebangkitan Bangsa, menyelenggarakan konferensi pers. Sang calon hakim, Sudrajad Dimyati, calon hakim agung yang juga Ketua Pengadilan Tinggi Pontianak juga menyelenggarakan konferensi pers dengan selisih waktu yang tak terlalu jauh.

Aku berusaha mencocokkan informasi ketiganya dan mencoba merekonstruksi bagaimana peristiwa itu terjadi.

Jika dikonstruksi peristiwa seperti ini: Sudrajad masuk ke dalam toilet, dia pipis di urinoir. Tak lama kemudian, Bahrudin masuk, berdiri di samping Sudrajad yang sudah selesai menunaikan hajatnya. Kawan wartawan ini masuk ke toilet, melihat dan mendengar Bahrudin bertanya kepada Sudrajad. Sayangnya, kawan wartawan ini tidak mendengar dengan utuh apa saja yang dipercakapkan. Sampai di sini sebenarnya peristiwa itu tidak bermasalah.

Namun kawan wartawan ini curiga bahwa ini adalah lobi dari calon hakim kepada anggota Dewan yang bakal memilihnya. Curiga dengan indikasi ini, kawan ini bersama beberapa kawan mengejar Sudrajad. Kawan-kawan wartawan ini, bertanya apakah Sudrajad melakukan lobi di toilet? Dari berbagai berita yang aku baca di media daring, Sudrajad membantah adanya lobi. Jawaban ini dia sampaikan dengan gugup.

Lalu naiklah berita soal ini di berbagai media. Ada yang mengatakan anggota Dewan memberikan sesuatu ‘seperti amplop’. Ada yang menulis, terjadi pemberian sesuatu. Ada yang memakai istilah, lobi-lobi calon hakim agung di toilet. Berita menjadi liar sehingga bagaimana fakta sesungguhnya menjadi tidak jelas betul. Tentu saja yang paling meradang atas pemberitaan ini adalah Sudrajad dan Bahrudin.

Semua bereaksi. Sepekan kemudian, Badan Kehormatan selaku penegak etik DPR bereaksi. Semua pihak dipanggil; Bahrudin, Sudrajad, kawan wartawan ini termasuk Iman Anshori juga dipanggil. Mereka tak terima marwah lembaga yang konon terhormat ini dicoreng oleh suap. Komisi III yang penyelenggara seleksi hakim agung juga bereaksi tak kalah panas. Semua merasa marwahnya tercoreng. Hasilnya? Tidak ada yang bisa membuktikan adanya upaya suap.

Dalam kasus ini, aku teringat dengan dua dari sembilan elemen jurnalisme Bill Kovach yakni jurnalisme itu adalah mencari kebenaran dan disiplin melakukan verifikasi. Dalam konteks ini, seorang wartawan merasa ada sesuatu yang mencurigakan antara Sudrajad dengan Bahrudin, apalagi bertemu di tengah-tengah proses seleksi hakim agung. Menurutku wajar kecurigaan timbul di tengah berbagai sentimen miring terhadap anggota Dewan. Apalagi lokasi toilet yang digunakan letaknya jauh dari Komisi III tempat seleksi hakim agung dilakukan.

Saat itulah, berdasarkan berita yang aku baca, terjadi percakapan dengan cepat dalam suasana gelisah, insting wartawan bekerja. Curiga dengan indikasi, wartawan melakukan verifikasi. Sampai sejauh ini, kerja jurnalistik sebenarnya sudah terpenuhi. Ada dugaan lobi dan ada upaya verifikasi. Clear.

Tapi jurnalisme menyampaikan fakta.

Menurutku tidak ada yang bisa meyakinkanku, salah satu alasan untukku tidak menulis peristiwa ini, bahwa terjadi lobi. Hanya ada tiga orang yang terlibat dalam peristiwa ini. Wartawan, Sudrajad dan Bahrudin. Wartawan sayangnya tidak memegang bukti apalagi selain ingatan dan penglihatan dia sendiri. Dia hanya punya satu alat bukti.

Sialnya, dia berhadapan dengan dua orang yang punya satu kepentingan: membantah terjadi fakta sebagaimana dugaan wartawan. Posisi wartawan terjepit. Sampai pada titik ini, kebenaran itu menjadi milik Sudrjad dan Dimyati. Tidak ada yang bisa membuktikan terjadinya lobi atau pertukaran barang kecuali wartawan itu sendiri.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya fakta jurnalistik disampaikan ke pembaca? Sampai pada titik aku menghela nafas. Aku tidak menyalahkan siapapun. Tetapi kita seringkali lupa, apa yang kita tulis, lalu dibaca jutaan orang bisa membunuh karir dan kehidupan seseorang. Lihat saja, bola liar ini memakan korban. Bahrudin dipindah dari Komisi III. Sudrajad gagal terpilih sebagai hakim agung.

Lagi-lagi aku menghela nafas…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: