Agus Lenyot

Setelah Dua Tahun di Jakarta. Lalu Apa?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 15, 2013

Jakarta-skyline

Aku pertama kali datang ke Jakarta itu sekitar 15 tahun yang lalu, masih kelas 5 SD waktu itu. Itu berkat jasa pamanku yang bekerja sebagai sopir truk Jakarta – Bali. Saat libur panjang kenaikan kelas, aku ditawari liburan ke Jakarta, menemaninya sebagai sopir truk. Itulah tamasya termewah yang kurasakan sepanjang hidupku kala itu.

Jakarta, bagi anak desa sepertiku adalah dunia lain. Kampungku baru teraliri listrik saat aku berusia 5 tahun. Setiap hari hanya main di sawah dan kebun. Layangan, nyuri mangga, mandi di sungai, sampai ngelawar capung. Itulah kegiatanku sehari-hari. Melihat mobil adalah kemewahan. Jangan heran, aku sangat senang kalau sedang duduk di jalan Denpasar – Gilimanuk karena bisa melihat banyak kendaraan.

Daerah paling wah yang pernah aku lihat adalah kota kabupaten, Negara. Itupun aku datangi sebulan sekali belum tentu. Maklum, keluarga desa yang tak punya apa-apa. Keluargaku tak punya motor, boro-boro mobil. Untuk ke kota, kami harus naik angkutan pedesaan berdempetan dengan pedagang pasar. Itupun jarang-jarang. Lagipula sebagai keluarga petani tulen, rasanya kakek dan nenek tidak punya banyak uang untuk sering mengajakku ke kota.

Ketika ada tawaran tentang Jakarta, itu adalah kemewahan.

Kota ini hanya bisa aku ketahui lewat kotak kaca bernama televisi. Di televisi, yang dimonopoli TVRI, aku hanya tahu bahwa semua yang baik ada di Jakarta. Yang aku bayangkan ketika itu, Jakarta adalah segala-galanya. Yang kaya ada di Jakarta. Yang ganteng dan cantik ada di Jakarta. Jakarta adalah ilusi yang tak pernah bisa aku jangkau. Jadi begitu ada tawaran ke Jakarta dari pamanku aku langsung girang bukan kepalang.

Aku bakal menjadi orang kedua di kampungku setelah paman yang pernah ke Jakarta. Aku bahkan menjadi satu-satunya orang di sekolahku yang pernah di Jakarta.

Aku lupa tanggal persis aku berangkat ke Jakarta, tapi yang pasti pertengahan 1997, setahun sebelum kerusuhan 1998. Truk pamanku ketika itu memuat susu Indomilk kadaluarsa. Tidak semua kadaluarsa sebab ada beberapa susu yang ‘akan kadaluarsa’.

Sebelum berangkat, aku diminta pamanku untuk memilih susu kental manis yang tanggalnya ‘akan kadaluarsa’. Maklum, tak punya banyak uang. Karena buru-buru, aku juga memilih susu yang sudah memasuki kadaluarsa. Sepanjang perjalanan tiga hari dua malam, aku makan susu yang ‘akan kadaluarsa’ dan ‘sudah kadaluarsa’. Ternyata masih enak. Dari situlah aku tahu bahwa makanan kadaluarsa itu sebenarnya tetap aman dikonsumsi. Buktinya, masih hidup sampai sekarang. Hehehe.

Singkat cerita, sampailah aku di Jakarta.

Seperti anak desa pada umumnya, aku hanya terbengong-bengong melihat Jakarta. Aku melihat banyak gedung tinggi, mobil mewah, dan orang yang lalu lalang. Istilah Balinya, SENGAP! Kalau kata kakekku, care sampi mebalih blabar. Bengong! Aku mikir, “Gimana ya caranya bisa kerja di gedung tinggi sana itu.”

Aku senang banget setiap ada kemacetan. Maklum, di kampungku kan jarang-jarang ada mobil. Noraklah. Pokoknya setiap macet, aku senang karena bisa melihat banyak sedan mewah. Sempat juga terjebak banjir. Aku juga senang bukan kepalang. Di kampungku aku sama sekali nggak pernah melihat ada air meluap sampai ke jalanan dan rumah warga. Kalau tukad blabar sih sering. Hehehe.

Karena membawa truk, aku hanya bisa menikmati gedung tinggi dari kejauhan. Aku juga tidak bisa ke Monas, tapi bisa melihat puncaknya dari jalan tol. Setelah aku menetap di Jakarta, aku baru tahu, jalur yang kulalui itu namanya Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta. Truk dilarang masuk ke dalam jalan-jalan dalam kota. Toh, karena aku tidak mengerti, aku tetap senang. Yang penting melihat Jakarta. JAKARTA!

Lalu dimana tinggal?

Jangan bayangkan tempat peristirahatan para sopir truk itu penginapan atau rumah mewah. Pamanku menyebutnya Tongkol, di bawah jalan tol. Setelah aku tinggal di Jakarta, aku baru tahu nama tempat istirahat para sopir truk itu Jalan Tongkol, dekat dengan Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Waktu masih liputan Metropolitan, aku sempat mampir ke Tongkol, tapi nggak ada sopir atau kernet yang aku kenal lagi.

Selama tiga hari, menunggu muatan ke Bali, aku tidur di atas truk. Aku yang biasa tidur enak, di kasur dan ditemani jangkrik tiba-tiba harus tidur di tempat kumuh. Nyamuknya banyak dan besar-besar. Malam-malam, aku kadang-kadang dengar lenguhan kernet truk yang nyewa pelacur. Modalnya cuma kardus dan ember berisi air untuk cebok. Soal yang ini aku ketahui dari beberapa kernet truk yang biasa nyewa pelacur.

Itulah pengalaman pertama ke Jakarta. Sampai di kampung, teman-temanku antusias menunggu ceritaku. Tentu saja aku bangga bercerita. Sedikit membual tentu saja. Hahaha. Yang pasti, menjadi yang pertama itu selalu bikin bahagia. Setelah pengalaman pertama itu, setiap liburan aku selalu ngikutin pamanku menjadi kernet truk Jakarta Bali. Pekerjaan sambilan ini aku lakoni hingga tamat SMA. Ketika itu aku sempat mikir, “Suatu hari aku mesti datang ke Jakarta dengan suasana yang berbeda. Lebih beradab.”

Selepas kuliah, aku memang ingin meninggalkan Bali, merantau ke mana saja. Sempat terpikir Kalimantan. Toh, akhirnya nasib membawaku ke Jakarta.

Tanggal 9 Oktober 2011 pagi, diiringi tangis pacar aku meninggalkan Bali merantau ke Jakarta. Semua serba mendadak. Aku masih ingat nunggu temanku yang datang dari Surabaya, mau numpang nginep di kosnya. Sudah tiba sejak pagi, eh temanku baru datang jam 12 malam.

10 Oktober pagi, diantar temanku, aku berangkat ke Pulogadung menuju ke Kebayoran Lama. Aku naik busway dengan carrier yang amat besar di punggung dan tas ransel di depan, berhimpitan dengan orang yang berangkat kerja. Oleh temanku aku sudah dikasih tahu rute. Dari Pulogadung, transit di Harmoni lalu ke Blok M. Sebagai newbie di Jakarta, aku tetap memerlukan GPS untuk memastikan posisiku. Sempat kebingungan di Harmoni, apakah harus membeli tiket busway lagi atau mesti langsung antri. Dengan bawaan carrier dan ransel, aku sepertinya lebih pas ada di gunung ketimbang berhimpitan dengan mbak dan mas rapi jali yang siap berangkat kerja.

Aku diminta datang ke Jakarta ikut pelatihan tiga bulan, ikut seleksi dan ternyata lolos. Jadilah aku sah menjadi bagian dari rutinitas kota yang tak pernah mati ini. Mewek juga sebenarnya ninggal pacar. Tapi apa daya, toh ini demi cita-cita. Eh, sekarang malah pacarku yang mau pergi ke Amerika karena beasiswa. Asem!

Sudah dua tahun tak terasa. Apa yang sudah dicapai? Apa yang sudah terjadi? Ah, tak perlu aku cerita sedemikian rupa. Kerja belum selesai, semua belum apa-apa. Mari kita nikmati realita.

Terima kasih sudah menempa, Jakarta!

Gambar diambil dari sini

Iklan
Tagged with:

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Edy 'Idhu Mulyawan said, on Oktober 16, 2013 at 4:27

    Sensasi Jakarta memang beda, terutama ketika terhimpit ria di dalam bus kota dan transjakarta. Juga ketika duduk manis di atas trotoar sembari menunggu ketoprak atau mie ayam dihidangkan *Edisi kapah-kapah ke Jakarta*

  2. lodegen said, on Oktober 16, 2013 at 4:27

    bentar lagi denpasar seperti itu. gutlak di jakarte gan 🙂

  3. a! said, on Oktober 20, 2013 at 4:27

    jakarta tempat orang2 hebat, nyot. berbanggalah kamu sudah menjadi bagian dari mereka. ;))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: