Agus Lenyot

Legalisasi Pelacuran, Berani Nggak?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 20, 2013

shiza5-600x341

Bisnis birahi seharusnya dilegalkan. Selain untuk pendapatan daerah, legalisasi pelacuran juga bisa menimbulkan efek jera dan melokalisir penyakit menular seksual.

Di Tempo.co, ada liputan khusus mengenai kawasan Dolly, kompleks pelacuran terkenal di Surabaya. Kalau main ke Surabaya, rasanya akan selalu terlontar joke, “Jangan lupa mampir ke Dolly ya.” Kawasan yang konon merupakan kawasan pelacuran terbesar di Asia Tengara ini rencananya akan ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya akhir tahun ini.

Aku sendiri belum pernah mampir ke Dolly. Dulu waktu masih kelas 1 SMA, sekali aku pernah mampir ke Surabaya, mengurus SIM dan STNK pamanku yang kena tilang. Surabaya yang panas, bau dan kotor sama sekali tidak menarik minatku untuk tinggal lebih lama. Setiap bepergian, meskipun singgah di Surabaya, aku tak menyempatkan mampir di kota ini. Jadi, Dolly pasti selalu terlewati. Tapi sekarang katanya sejak dipimpin Bambang DH dan dilanjutkan oleh Tri Rismaharini, Surabaya berubah menjadi jauh lebih tertata. Setidaknya dari tulisan Mas Anton di sini.

Oke, balik lagi ke soal pelacuran.

Di kabupaten tempatku berasal di barat Bali, ada sebuah lokalisasi terkenal pada zamannya. Namanya Batu Karung, lokasinya di sebelah barat Kota Kecamatan Melaya. Aku tak tahu apa lokalisasi masih eksis sampai sekarang. Yang pasti, pada zamannya, Batu Karung ini sangat melegenda dan identik dengan lokalisasi kelas murah meriah.

Pelacur, dalam bahasa lokal Jembrana disebut NENER. Pokoknya kalau mau cari Nener, datang saja ke Batu Karung. Nah Batu Karung ini menjadi semacam peristirahatan favorit bagi sopir dan kernet truk yang melintas ke Denpasar dari arah Jawa atau sebaliknya. Modusnya lokalisasi pada umumnya, semacam warung kopi atau warung makan. Di dalamnya ada penyedia jasa ‘pelepas syahwat’.

Cerita soal Batu Karung ini aku dengar dari tetanggaku yang memang menjadi pelanggan di sana. Tetanggaku ini bahkan pernah menginap berminggu-minggu di lokalisasi pelacuran ini. Kadang, kalau mau ke Gilimanuk atau Singaraja, aku juga melirik ke arah warung-warung pinggir jalan di Batu Karung ini. Pengen tahu. Dari cerita-cerita, sih wanitanya sih sudah setengah tua. Yang muda-muda juga ada, tapi minoritas. Konon, beberapa diantara wanita-wanita ini juga sudah ada yang terjangkit virus HIV.

Ketika masih kerap menemani pamanku sebagai kernet truk, antara kelas 6 SD hingga kelas 3 SMA, aku juga sudah akrab melihat lokalisasi di sepanjang Pantura. Pokoknya dimana ada parkiran truk ramai, di situ pastilah ada lokalisasi kelas teri. Wanitanya yang tua-tua tentu saja. Istilahnya, barang apkiran. Salah satu yang aku ingat, karena pernah disuruh nunggu seorang teman kernet ngamar, adalah di dekat Alas Roban.

Alas Roban lokasinya sebelah Barat Semarang, awal jalan raya Batang. Ketika itu jalan ini belum mulus, masih diperbaiki sana sini. Nah, di dekat Alas Roban inilah, ada semacam peristirahatan para sopir truk. Sebenarnya ada banyak warung. Tapi ada beberapa waung yang terletak di dekat hutan jati. Nah, di situlah lokalisasi pelacuran kelas tengik itu bertempat. Lokalisasi yang aku ketahui tentu jauh lebih sedikit ketimbang yang ada di realita.

Ngomong-ngomong soal pelacuran, aku jadi ingat Indramayu. Daerah ini memang legenda kalau soal beginian. Dimana ada razia pelacuran, rasanya salah satu pekerja seks yang terjaring pasti ngaku dari daerah ini. Entah benar apa tidak. Barangkali karena daerah di pesisir Jawa ini lekat dengan kemiskinan sehingga para perempuannya terpaksa menjajakan diri.

Dulu, salah satu warung favorit para sopir truk namanya Warung Hilda. Di sekitar warung Hilda, atau di sepanjang Jalan Indramayu ada banyak warung yang di depannya duduk cewek-cewek berpakaian seksi. Entahlah, yang pasti mereka duduk dari jam 7 sore sampai bubaran warung. Pamanku pernah bercerita kalau cewek-cewek itu bisa ‘dibeli’. “Tapi harganya tidak terjangkau sama sopir truk,” begitu kata pamanku dulu. Aku hanya manggut-manggut tak mengerti.

Jadilah setiap lewat Indramayu, selalu ada pemandangan syur perempuan-perempuan molek dengan pakaian seksi duduk kentara menghadap jalan raya. Bagi bocah sepertiku, ini sudah hiburan yang menyenangkan dan menimbulkan tanda tanya. Menimbulkan fantasi yang aneh-aneh bagi remaja yang sedang beranjak gede. Hehehe.

Di Jalan Tongkol, Jakarta, tempat parkir truk-truk, aku pernah mengalami kejadian lucu. Suatu hari ketika tidur, aku terbangun karena bak truk yang bergoyang. Aku yang terkaget-kaget, bangun dan menyalakan senter mencari ke pusat goyangan. Begitu senter di arahkan ke pusat goyangan, ada seseorang menghardik meminta senter dimatikan. Ternyata ada seseorang yang lagi asyik bergoyang dengan PSK di atas bak truk dengan beralaskan koran dan seember air. Koran sebagai alas, seember air untuk cebok. Beres!

Aku lalu menceritakan kejadian ini kepada beberapa kernet asal Bali. Mereka cuma tertawa cekikikan. “Yang kayak begituan udah biasa, murah meriah,” kata kawan kernet ketika itu. Mereka bercerita, di sepanjang rel kereta banyak yang menawarkan wisata syahwat semacam ini. Seorang kernet mengatakan padaku kalau tarif pelacur ini sangat murah, antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu.

Malam harinya, aku diajak menyusuri rel antara Stasiun Duri dengan Stasiun Kampung Bandan. Ternyata, di sepanjang rel ini banyak banget ada pelacur-pelacur yang menyasar ‘rakyat kecil’. Seorang rekan memberi tips, jika tertarik, pandangi saja seorang penjaja seks dia akan menghampiri kita. Aku mencoba mempraktekkan tips ini pada seorang penjaja seks yang agak tua. “Ayo, Mas murah-murah aja. Rp 50 ribu, sekalian buat latihan,” kata dia. Aku langsung ngacir sambil bilang terima kasih. Bandel-bandel gini, aku tidak mau mati karena terjangkit penyakit menular seksual.

Sebenarnya masih ada sejumlah lokalisasi pelacuran yang pernah aku singgahi semasa menjadi kernet truk. Cuma aku lupa namanya. Yang pasti, di mana ada sopir yang jauh dari istri di situ ada perempuan yang siap menjajakan untuk memenuhi kebutuhan biologis lelaki. Hukum alam sih menurutku. Apalagi tempat wisata. Cuma kadang kita munafik saja untuk mengakuinya. Di Denpasar yang terkenal di Jalan Danau Tempe, Sanur. Aku juga pernah sekali ke sana karena penasaran.

Syahwat adalah hasrat hewani manusia karena itu pelacuran adalah bisnis paling purba yang dilakoni manusia. Bisnis ini bisa jadi sudah ada sejak peradaban dimulai. Apakah yang kayak begini bisa dihilangkan? Rasanya tidak. Naluri ini akan tetap ada sampai kapanpun. Wong ini hasrat yang manusiawi. Mereka yang pintar kemudian menjadikannya bisnis, mengubah syahwat manusia menjadi pundi-pundi uang. Menghentikan dengan ayat-ayat agama? Omong kosong. Yang bisa manusia lakukan adalah mengendalikan bisnis birahi dengan segala konsekuensi dan akibatnya.

Kita terlalu lama berlindung dibalik moralitas atas sebuah kemunafikan. Kita menganggap pelacur tak bermoral. Tapi koruptor kita puja-puji dan dukung menjadi kepala daerah. Ngaku bermoral, tapi korupsi tak pernah pupus. Kita malu menyembunyikan kebutuhan bawah perut tapi tak punya malu mempertontonkan kerakusan atas nama kebutuhan perut.

Kita, atau sebut saja aparat penegak hukum memang selalu tak pernah adil pada mereka yang tak berduit. Aku selalu gemas dengan yang ini. Razia esek-esek kerap menyasar losmen murah yang disewa mereka yang tak berduit. Tapi pernahkah, atau beranikah Satpol PP dan ‘penjaga moral’ itu menggerebek hotel berbintang. Lokasi dimana pejabat-pejabat hilir mudik menyalurkan syahwat dengan harga puluhan hingga ratusan juta.

Tak percaya? Lihat saja Ahmad Fathanah. Jika tak digerebek oleh petugas KPK, kita tak pernah melihat secara telak seorang mahasiswa dibooking oleh om-om berduit seharga Rp 10 juta semalam. Nginep di Hotel Le Meridien, hotel elit di jantung Jakarta.

Sederhananya gini deh. Jika kita menginap di hotel berbintang, apakah petugas hotel suka usil nanya apakah pasangan yang diajak masuk merupakan pasangan sah secara hukum? Privasi memang bisa dibeli. Yang tak punya uang, siap-siap saja nyewa hotel jam-jaman dengan risiko digrebek petugas lalu masuk televisi. Malu seumur hidup.

Kita tak pernah adil terhadap diri kita. Pelacuran kelas tengik dikejar-kejar. Pelacuran kelas kakap tak bisa sentuh. Munafik, kan? Karena itulah aku berpikir, kenapa tak sekalian saja kita legalkan prostitusi. Diatur agar bisa bermanfaat bagi kepentingan publik dalam bentuk pendapatan daerah, dilokalisir agar penyebaran penyakit mudah dideteksi sekaligus didata untuk mengetahui siapa sesungguhnya pria-pria hidung belang di negeri ini.

Bagaimana Konsepnya?

Kajian soal prostitusi dan pornografi di Indonesia bisa dibaca dalam tulisan ini. Tapi itu tulisan dalam perspektif hukum Islam. Aku tidak berkomentar banyak soal tulisan itu, silakan baca sendiri. Seingatku, PBB dalam laporan tanggal 18 Oktober 2012 menyerukan soal legalisasi prostitusi di Asia Pasifik. Cuma aku nggak nemu link tulisannya. Atau bisa saja aku salah. Okelah, tak terlalu penting itu. Toh tulisan ini bukan disumbangkan untuk mendukung PBB. Hehehe.

Aku membayangkan ada undang-undang bagaimana prostitusi diselenggarakan dengan terbuka, jujur dan berempati pada pekerja seks. KIta kesampingkan jauh-jauh deh dulu perdebatan soal moral. Aku mengusulkan namanya, “Undang-Undang Legalisasi Prostitusi dan Perlindungan Pekerja Seks. Aturan ini mengatur berbagai hal soal definisi, kriteria, partisipasi publik, peran pemerintah dan partisipasi publik.

Misalnya, bagaimana pengaturan dan definisi pekerja seks. Mereka yang bekerja di sektor ini misalnya wajib sudah berusia 21 tahun ke atas. Di bawah umur itu adalah pelanggaran hukum berat. Undang-undang ini juga menetapkan, setiap wilayah atau provinsi menentukan kawasan lokalisasi yang tersentralisasi. Jumlah lokalisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Daerah wisata dan kerap menjadi persinggahan kaum pedagang dan wisatawan, tentu kuantitasnya berbeda dengan daerah yang sepi dengan lalu lintas manusia.

Pekerja seks yang berpraktek di luar kawasan, didenda dengan pidana yang berat, bisa denda uang miliaran rupiah atau hukuman sosial. Pengawasan di hotel diperketat. Pelanggar wajib membersihkan taman kota, kamar mandi umum atau ruang publik lain. Persempit celah dan ruang gerak pihak-pihak yang ingin memanipulasi aturan ini.

Kawasan lokalisasi ini tentu saja diisolisasi dengan jam operasi yang sudah ditentukan. Misalnya hanya bisa beroperasi mulai jam 20.00 hingga jam 3 pagi. Di luar itu, silakan pekerja seks tidur siang, beristirahat atau cek kesehatan. Berpraktek di luar jam itu, pekerja seks dan pelanggan kena hukuman berat. Konsep ini juga menitikberatkan perlindungan kepada pekerja seks yang kerap dikriminalisasi oleh negara dan pemakai jasanya.

Karena diisolisasi, pekerja seks juga terdata. Tujuannya apa? Tentu saja untuk mendeteksi dan mengantisipasi penularan penyakit seksual. Besaran tarif juga semestinya diatur agar tidak merusak harga pasar. Besaran tarif tentu saja tergantung lokasi, usia dan kemahiran pekerja seks. Tak hanya itu, karena dilokalisasi negara juga menyediakan tenaga pencatat arus orang yang keluar masuk lokalisasi. Tentu saja yang boleh masuk hanya mereka yang sudah berusia 21 tahun ke atas.

Agar lebih spektakuler, setiap tahun, negara atau provinsi mengumumkan siapa pelacur terbaik, siapa pelanggan teroyal dan paling kerap berkunjung. Nama-nama pelanggan, tentu saja pria hidung belang, ini diumumkan di media cetak atau online, di televisi dan fotonya dipajang di mana-mana. Jadi kita akan dengan mudah menemukan seandainya ada sanak family yang kerap bertandang ke lokalisasi pelacuran. Dahsyat!

Para pengunjung, karena datanya sudah ditangan negara, bisa disurvei untuk menentukan bagaimana kualitas lokalisasi prostitusi, pelayanan dan apa yang mesti dibenahi. Aku yakin, semua lelaki di negeri ini pasti akan bermimpi dinobatkan sebagai, “PELANGGAN FAVORIT.” Cadas!

Begitulah. Jadi tidak seperti sekarang, prostitusi dilakukan diam-diam. Penyebaran penyakit menular tak terkendali dan negara tak mendapatkan apa-apa. Negara cuma dapat susah karena harus mengurus akibat, ya itu tadi penyakit seksual. Jika diatur dengan cara model begini, bukankah setiap lelaki akan malu dengan sendirinya?

Apakah cita-cita ini cuma mimpi? Sepertinya sih, iya. Ilusi. Sebab kita ini orang-orang munafik.

Gambar dari sini.

Iklan

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. jaya ratha (@jayaratha) said, on Oktober 21, 2013 at 4:27

    haha…ade ade gen lenyot! aku justru tertarik dengan penentuan tarif “Besaran tarif tentu saja tergantung lokasi, usia dan kemahiran pekerja seks.” Apakah artinya semakin tidak mahir tarifnya semakin mahal? 😛

    • Agus Lenyot said, on Oktober 21, 2013 at 4:27

      Bli Jaya, karena profesional tentu semua praktek pelacuran harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Negara harus membuat parameter yang jelas soal ini. Lelaki hidung belang juga bisa menghitung kemampuan bujet sebelum masuk lokalisasi. Intervensi negara mutlak diperlukan dalam urusan syahwat ini :p

  2. Engga C said, on Oktober 21, 2013 at 4:27

    Bagaimana cara mengukur kemahiran seseorang bli ?
    Harus ada tim penilai berarti kan ?
    Saya jadi tim penilai nya saja 😀

  3. Cahya said, on Oktober 22, 2013 at 4:27

    Lha, mau dilegalisasikannya saja masih tarik ulur. Politik selalu melihat mana yang lebih menguntungkan bagi dirinya, bukan benar salah masalah legalisasi.

  4. Made Wirautama said, on Oktober 25, 2013 at 4:27

    Seperti biasa, ide anda brilian Gus.. Walaupun saya berani bertaruh akan susah direalisasikan di negara ini.

  5. yantok said, on Desember 21, 2013 at 4:27

    batu karung bo tue,sing nafsu.adena singgah sik Bu Eni ,nafsu lapar terobati

  6. BapakGuru said, on Mei 14, 2014 at 4:27

    ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA / MELANJUTKAN KULIAH / KENAIKAN JABATAN ?!?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH.
    BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN.

    -SMU:4.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE: 085736927001.ku@gmail.com
    BERMINAT?

    HUB: +6285736927001

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya.

  7. munasari said, on Mei 28, 2014 at 4:27

    TOLONG MENOLONGLAH KAMU DALAM KEBAIKAN DAN TAQWA, JANGAN KAMU TOLONG MENOLONG DALAM PERBUATAN DOSA DAN PERMUSUHAN

  8. Luh Tu said, on Juli 8, 2014 at 4:27

    saya

  9. tangeran9 said, on Agustus 2, 2014 at 4:27

    Infonya keren

    http://tangeran9.wordpress.com/

  10. Mas koddrat said, on Desember 27, 2014 at 4:27

    Ide brilian gan tapi rasanya tak mungkin deh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: