Agus Lenyot

Menukar Sepatu yang Sudah Dibeli

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Januari 1, 2014
Ini sepatu barunya.

Ini sepatu barunya.

Siapa tahu ada yang punya masalah kayak aku. Ceritanya begini: 29 Desember 2013 lalu saat membeli bungkus kado untuk hadiah adik-adik, tak sengaja menemukan diskonan sepatu di Sport Station Gramedia Matraman. Karena memang pengen beli sepatu, plus ada sedikit uang lebih, harganya sesuai dan modelnya cocok, ya sudah tengok-tengok saja dulu. Nggak ada salahnya menyenangkan diri sendiri dengan membeli barang baru, pikirku.

Setelah menimang model, besaran diskon dan ukuran, aku sempat bimbang memilih antara dua model. Tapi setelah berdiskusi dengan Kadek Doi, aku akhirnya memilih satu sneakers bernomor 43. Saat dicoba, sebenarnya ukuran sepatu itu pas di kaki. Kepada mas-mas penjaga toko, aku bilang deal untuk ukuran 43. Sebenarnya tak ada yang aneh sampai saat itu kecuali, aku sempat berpikir kok tumben beli lebih gede satu nomor dari biasanya.

Setelah membayar, karena toko mau tutup kami, aku dan Kadek Doi pulang ke rumah. Karena tak sabar, aku kembali memakai sepatu baru ini di kosan Kadek Doi. Rupanya, keanehan mulai terjadi di sini. Ternyata sepatu yang kubeli benar-benar kegedean satu nomor. Kupencet-pencet bagian depan, ternyata masih ada spasi yang begitu lebar. Tidaaaaaaak!!! Keringat dingin mulai menetes di dahi. Rugi dah ngeluarin uang, yang menurutku, tidak sedikit ini.

Aku berpikir, apakah bisa sepatu ini ditukar dengan nomor yang lebih kecil di lokasi pembelian. Dan aku berharap jawabannya, bisa. Seperti biasa aku mencari mencari di Google, apakah ada orang yang pernah mengalami persoalan sama. Aku mencoba dengan berbagai kata kunci, “menukar sepatu di toko”, “tukar sepatu di sport station”, “menukar barang di gramedia” dan “sepatu kebesaran+sport station”. Rupanya, tak ada orang yang pernah mengalami permasalahan seperti aku. Atau, bisa jadi, mungkin ada tetapi tak menuliskannya di blog.

Ya sudahlah, aku akhirnya memutuskan mencoba menukar sepatu dengan ukuran yang lebih kecil keesokan harinya. Aku mikir keras, alasan apa yang bisa kupakai untuk menghindari malu. Aku yakin si penjaga toko bakal mikir, “Ya kok bisa sih nggak ngerti ukuran kaki sendiri.”

Keesokan hari, 30 Desember, aku janjian dengan Kadek Doi ke Gramedia Matraman. Kesepakatan awal. Kami rencananya ke sana sekitar jam 5 sore, aku sepulang kerja dan dia usai kuliah. Deal. Di tengah waktu jelang sore, ada perubahan rencana. Kadek Doi membuat janji ke salon untuk facial sekitar jam 6 sore di Kuningan City. Dia bilang, paling selesai di salon sekitar jam 7 malam. Kesepakatan diperbaharui, ya udah kita jalan ke Gramedia sekitar jam 7 usai dia ke salon.

Setelah menyelesaikan sejumlah pekerjaan di kantor, aku berangkat ke Kuningan City, tempat pacarku nyalon. Hujan deras membuat jalanan macet di mana-mana. Di Jalan DR Satrio, seperti nyaris tak bergerak. Padahal pagi harinya, Jokowi baru saja meresmikan Jalan Layang Non Tol Casablanca. Kemacetan tetap mengular di jalur ini.

Di tengah hujan deras, aku akhirnya nyampai di Kuningan City. Waktu menunjuk hampir setengah 8 malam. Rupanya, acara facial belum kelar. Katanya masih ada satu tahap lagi yang aku nggak mengerti itu apa. Ya sudah, akupun menunggu acara facial beres. Sambil baca majalah, aku melihat di sekeliling. Banyak juga ya laki-laki ‘korban’ menunggu pacarnya di salon. Jadi gini toh rasanya nungguin cewek ke salon. Oke, aku (merasa) menjadi bagian dari cowok mainstream.

Sambil menunggu, aku iseng googling waktu buka toko Gramedia. Aku langsung mules, karena ternyata waktu buka toko hanya sampai pukul 21.00. Aku langsung menghitung alokasi waktu. Mulai jalan kaki dari salon di lantai 1, turun ke parkiran, pakai jas hujan dan menerabas kemacetan. Hitunganku paling tidak butuh waktu selama 35 menit. Belum lagi aku mesti mengambil sepatu dan struk belanja yang kutinggal di kosan Kadek Doi di Salemba. Dari Salemba ke Gramedia, paling tidak perlu waktu 10-15 menit. Perutku makin mules. Harapan untuk menukar sepatu sepertinya bakal sirna.

Sembari menunggu Kadek Doi, aku mulai memikirkan alternatif bagaimana cara menjual sepatu ini. Nggak mungkin aku memakai yang satu nomornya kebesaran. Ini soal kenyamanan berpakaian. Sempat terpikir menghibahkan pada adikku, tetapi ukurannya satu nomor lebih kecil. Namun aku bertekad, tak ada salahnya mencoba. Kenapa nanti tidak ngebut saja berjuang sampai detik terakhir. Kalaupun gagal, ya sudah, yang penting sudah bekerja keras.

Daaaaaan, acara facial baru beres sekitar jam 20.00. Alokasi waktunya mepet betul. Dengan terburu-buru aku ke tempat parkir dan bersiap menjalankan misi: menukar sepatu yang kebesaran. Untung hujan sudah sedikit reda. Sedikit ngebut aku menyusuri Jalan Dr Satrio. Awalnya aku akan mengambil rute, Dr Satrio – Casablanca – Tebet – Manggarai – Pramuka, Salemba (Kosan Doi) – Matraman – Gramedia. Tapi di terowongan Casablanca kendaraan tak bergerak. Aku berputar cepat, lebih baik lewat Kuningan.

Untung Kuningan – Manggarai – Pramuka lancar jaya. Sempat kulihat jam sesampainya di Salemba. Sudah pukul 20.32. Masih ada waktu. Fiuh, dengan bergegas kuminta Kadek Doi menyiapkan nota pembelian. Tak mau menunggu waktu lama, kembali si Beracun ngebut membelah jalan Matraman arah Kampung Melayu. Macet! Perutku mules lagi.

Di lampu merah Matraman, aku mengecek jam. Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Otakku segera berputar cepat. Jika harus mutar balik di Slamet Riyadi, aku akan kehilangan waktu sekian menit dan dipastikan sampai saat toko sudah tutup. Tiba-tiba aku ingat, di depan Gramedia Matraman ada halte busway. Aku bisa memanfaatkan itu sebagai jalan pintas menyeberang di arah sebaliknya. Kukebut segera motorku dan segera kuparkir di samping mas-mas tukang rokok. Aku merogoh hape melihat waktu 21.52.

Masih ada waktu. Dengan berlari aku naik jembatan penyeberangan, dan masuk ke Gramedia. Para penjaga rupanya sudah bersiap-siap menutup toko. Aku segera menuju konter Sports Station. Untung yang jaga berbeda dengan mas-mas kemarin. Aku mengutarakan persoalanku. Setelah berdiskusi dengan manajer toko, mereka bersedia menukar sepatuku dengan nomor yang lebih kecil.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Selain karena memperoleh sepatu yang sesuai ukuran kakiku, aku merasa menang karena berhasil mewujudkan tekad dengan alokasi waktu yang begitu mepet. Aku berpikir, kalau semua diperjuangkan hingga detik terakhir, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Sebelum janur kuning melengkung, apapun bisa terjadi bro!

Saking senangnya, aku nggak sempat bertanya apa syarat menukar barang yang sudah dibeli. Padahal itu poin penting yang kupikirkan sebelumnya. Tapi ya sudahlah. Hikmahnya adalah meskipun di nota pembelian ada klausul barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar, asal ada bon asli dan barang tidak rusak, barang yang kita beli masih bisa dikembalikan. Segera tukar jika merasa barang yang kita beli tak sesuai dengan keinginan kita. *bersulang*

Bertele-tele ya ceritanya? Emang.

Iklan

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Made Wirautama said, on Januari 2, 2014 at 4:27

    Seru…!! hehehe

  2. kadekdoi said, on Januari 8, 2014 at 4:27

    Tumben juga aku nyalon uda masuk blog aja :’) *makpak sandal*

  3. gustulang said, on Februari 21, 2014 at 4:27

    Wah menunggu pacar nyalon itu LAKIK! :p

  4. Rusta Adijaya said, on April 21, 2014 at 4:27

    Kak Le memang lakik banget. Tapi terlalu mainstream untuk urusan menunggu pacar di salon :p
    Setidaknya lakik tapi mainstream 😀

  5. […] Menukar Sepatu yang Sudah Dibeli | Agus Lenyot – 1/1/2014 · … aku kembali memakai sepatu baru ini di … alternatif bagaimana cara menjual sepatu ini. Nggak mungkin aku memakai yang satu nomornya kebesaran…. […]

  6. jeffry said, on Januari 23, 2016 at 4:27

    aku juga nih gan kegedean 1 nomor bisa gk ya ditukar lokasi ane jogja,, hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: