Agus Lenyot

Disiplin Menggunakan Sumber Anonim

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 21, 2014

1383693590251579338

Ada filosofis baru di kalangan wartawan: makin anonim makin keren. Buat saya justru sebaliknya, banyak sumber anonim justru akan merendahkan tingkat kepercayaan pada produk jurnalistik.

Saya tertarik (lagi) membahas sumber anonim ketika membaca tulisan di The Jakarta Post, Jokowi Shrugs off infighting. Dalam artikel ini, sumber anonim The Jakpost mengatakan Puan Maharani marah pada Jokowi dan mengusirnya pada rapat evaluasi usai pencoblosan 9 April lalu. Megawati menangis mendengar pertikaian anaknya, Puan dan Prananda Prabowo. Konflik klasik antara dua orang saudara tiri. Drama abis. Hehehe.

Produk jurnalistik menurut saya setidaknya mesti memenuhi dua kebenaran yaitu kebenaran prosedur dan benar secara substansif. Seorang mentor saya di Tempo mengatakan, jurnalis itu mesti jujur sejak dalam proses. Setiap tahapan pembuatan berita yaitu riset, reportase dan wawancara harus transparan dan dapat diuji. Ini untuk meminimalisir kesalahan dan agar lebih dekat pada fakta yang ingin kita laporkan.

Tulisan The Jakpost soal drama pengusiran Jokowi, setidaknya mengalami cacat yang sangat elementer yaitu konfirmasi. Tulisan tersebut tidak dilengkapi jawaban (yang pasti bantahan) Jokowi atau Puan. Atau setidak-tidaknya, belum ada upaya untuk meminta konfirmasi kepada mereka berdua. Padahal mengusir calon presiden adalah tuduhan serius. Berita ini bisa saja dipakai oleh lawan politik untuk mendelegitimasi Jokowi dan membenarkan pernyataan bahwa Jokowi adalah capres boneka. Siapa yang diuntungkan oleh tulisan ini? Tentu saja lawan politik yang terancam dengan pencalonan Jokowi. Tahu kan siapa yang paling kelihatan marah di publik dengan pencalonan Jokowi? Hehehe.

Kedua, saya tidak mengerti mengapa yang diminta konfirmasi justru Aria Bima. Apakah Aria Bima ada di lokasi kejadian dan melihat drama pengusiran itu? Lagipula, Aria Bima bukan pengurus pusat partai berlambang banteng itu. Toh, tulisan ini sendiri sudah dibantah oleh petinggi Partai Demokrasi Indonesia. The Jakarta Post lalu memuat wawancara Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Lagi-lagi saya tak mengerti mengapa yang diwawancara justru Hasto, bukan Puan atau Jokowi, tokoh utama dalam drama yang diceritakan The Jakarta Post.

Ketika pihak-pihak yang disebut dalam artikel sudah membantah terjadinya peristiwa itu, pertanyaannya kemudian: apakah drama pengusiran yang diberitakan ini fakta atau fiksi? Publik mesti percaya pada siapa? Siapa yang berbohong disini? PDIP atau The Jakarta Post? Pada titik inilah, dua kebenaran dalam jurnalisme yaitu prosedur dan kebenaran faktual menjadi sangat penting.

Soal kebenaran prosedur dan kebenaran substansif, saya teringat dengan kasus Tempo dengan Tomy Winata yang menghebohkan itu. Kasus ini pun bermula dari pemakaian sumber anonim. Artikel “Ada Tomy di Tenabang” secara prosedur jurnalistik sudah terpenuhi yaitu verifikasi terhadap keabsahan dokumen dan klarifikasi terhadap Tomy yang menjadi tokoh dalam artikel itu. Tetapi apakah artikel ini benar secara substansi?

Sumber anonim tentu bukan sesuatu yang haram dalam jurnalisme. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, ketika membahas kasus Monica Lewinsky dalam Warp Speed memberikan sejumlah kriteria dalam pemakaian sumber anonim. Kriterianya ketat memang. Tidak mudah memberikan ruang kepada seseorang bersembunyi dalam anonimitas. Mereka, narasumber anonim itu misalnya mesti orang pertama dan berada di lingkaran kejadian. Atau, jika dia membuka identitasnya, keselamatan narasumber itu bakal terancam.

Tentu dalam praktek, jurnalis dan perusahaan media, kerap memberikan kelonggaran terhadap kriteria ini.

Dalam liputan politik, apalagi dalam suasana pemilu, informasi bawah tanah banyak bersliweran. Tentu saja, informasi yang sensitif kerap dilontarkan oleh politikus yang tak ingin namanya diumbar ke depan publik. Mereka memilih menjadi anonim dengan berbagai alasan. Informasinya menarik, tetapi kerap cuma merupakan klaim sepihak terutama jika menyangkut lawan politik. Wartawan yang lemah iman (halah), kerap gampang terprovokasi dengan informasi semacam ini. Asal eksklusif, jadilah berita (yang seolah-olah hebat) dengan sumber anonim.

Karena itulah, setiap informasi mesti diuji. Jangankan yang anonim, informasi yang resmi pun mesti diuji. Kalau mengutip seorang redaktur saya, jangan terjebak pada jurnalisme ludah. JUrnalis tidak hanya menampung omongan orang, mempercayainya, menyiarkan ke hadapan publik padahal informasinya sesat dan membingungkan. Kuncinya, disiplin verifikasi.

Saya ingin bercerita tentang penggunaan sumber anonim. Akhir Februari, seseorang membisiki saya, “Megawati sudah memberi restu kepada Jokowi menjadi calon presiden.” Ketika itu, elektabilitas Jokowi dalam survei sedang tinggi-tingginya. Tetapi Megawati dan Jokowi sama-sama mengelak saat ditanya soal kepastian penetapan calon presiden. Jokowi setiap ditanya, selalu punya format jawaban, “Nggak mikir!”

Seorang redaktur meminta saya menghidupkan informasi ini. Tentu saja saya pusing setengah mati. Bagaimana caranya agar informasi yang off the record ini bisa menjadi on the record, atau setidaknya bisa menjadi informasi background dengan sumber anonim.

Saya mendekati beberapa orang, termasuk lingkaran dalam Megawati. Satu orang membenarkan informasi ini, tetapi dia meminta namanya dianonimkan. Oke, berarti sudah ada dua narasumber yang membenarkan informasi ini. Redaktur saya meminta agar saya meminta konfimasi kepada satu orang lagi. Politikus PDIP memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Beruntung, seorang lingkaran dekat Megawati kembali membenarkan informasi ini. Lengkap dengan kapan Megawati memutuskan Jokowi sebagai calon presiden. Dapat! Meski dengan status anonim.

Tiga narasumber, meski semuanya berstatus anonim membenarkan informasi ini. Setelah melalui diskusi, kami akhirnya menurunkan artikel ini dengan judul, “Megawati Restui Jokowi” sebagai cover Koran Tempo pada 3 Maret 2014, jauh-jauh hari sebelum Jokowi resmi dideklarasikan beberapa pekan kemudian.

Meski begitu, saya tak bisa menyembunyikan rasa deg-degan terhadap artikel ini. Walaupun sudah mendapat konfirmasi dari tiga orang, saya tetap saja cemas karena mereka semua berstatus anonim. Saya berpikir, selalu ada peluang ketiganya memberikan informasi yang salah. Ketika informasi ini salah, jurnalislah yang akan menanggung segala beban kesalahan ini. Menggunakan sumber anonim berarti mengalihkan tanggung jawab informasi kepada jurnalis.

Wahyu Dyatmika, redaktur yang kini memegang Rubrik Investigasi di Majalah Tempo pernah berucap pada saya, “Selalulah skeptis terhadap data dan informasi yang kamu miliki.” Jangankan informasi dari sumber anonim, informasi yang sifatnya on the record pun harus diuji dan diverifikasi. Skeptis akan membuat jurnalis tak pernah berhenti mengejar kebenaran.

Saya sepakat untuk soal ini.

Gambar diambil dari sini

Iklan
Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: