Agus Lenyot

Nyaris Putus Gara-gara Jokowi

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 10, 2014

Suasana di GBK saat konser dua jari.

Suasana di GBK saat konser dua jari.


Ini serius.

Pemilihan presiden ternyata nggak cuma merusak persahabatan yang dibina bertahun-tahun seperti kisah dua tukang becak di Madura. Bahkan pacaran sudah dibina selama bertahun-tahun bisa berakhir gara-gara copras capres ini. Bukan orang lain, tapi aku sendiri yang mengalaminya.

Ceritanya, malam sebelum pencoblosan, aku ngobrol sama pacarku via Whatsapp. Seperti biasa, materi obrolan kami ngalor ngidul. Obrolan akhirnya berakhir tentang pemilu presiden (Iye, iye, berat emang topik pacaran kami).

Di beberapa percakapan kami sebelumnya, topik ini memang selalu jadi diskusi yang hangat. Bukan karena berbeda pilihan, tetapi lebih sering mendiskusikan apa keunggulan dan kelemahan masing-masing calon presiden. Aku sih sejujurnya ngefans dengan Ahok.

Aku, yang ngepos di DPR, sedikit banyak tahu mengenai kedua calon, Jokowi dan Prabowo. Termasuk, ini yang penting sebenarnya, orang-orang di sekeliling mereka. Sesekali aku juga pernah meliput Jokowi. Dengan Prabowo, aku pernah wawancara panjang di kantor dan di rumahnya yang megah di Bukit Hambalang.

Dari pengalaman itu, aku sedikit banyak mengetahui sisi-sisi kedua calon presiden ini yang mungkin tak banyak orang ketahui. Misalnya, Prabowo yang sebenarnya humoris meskipun saat ngobrol emosinya kerap naik turun. Intinya, aku tak terjebak menjadi fanboy para capres seperti halnya wartawan yang ngepos di dua kubu.

Malam hari sebelum pemilihan, jadilah topik obrolan ini menjadi bahan diskusi yang hangat.

Obrolan sebenarnya seru sebelum kemudian aku nyeletuk.

“Aku golput euy.”

“Lho, kan bisa pakai A5?” A5 adalah surat keterangan pindah tempat pemungutan suara.

Aku mulai merasa ada yang tak beres.

“Baru ngeh saat-saat akhir,” jawabku.

Pacarku langung ngeluarin emo sedih.

“Aku pikir kamu sudah beres. Ish, aku lho koar-koar di sosmed share info ini.”

Dia melanjutkan, “Jleme joh bakat kenehang, ane paak sing kerunguang.”

Aku yang memang bersalah, memilih diam (dan menyesal dalam hati) daripada ngajak berantem pacar yang sedang menstruasi. Itu namanya cari perkara.

“Maaf,” kataku.

“Kalah dah Pak Jokowi. Kesel kali aku sama kamu,” dia melanjutkan.

Aku memilih nggak membalas pesannya. Bingung mau bilang apa.

Datang pesan lagi.

“Ish gedeg kalik!”

Lalu dia menjelaskan soal tetek bengek soal perpindahan TPS menggunakan A5.

Aku cuma bisa manggut-manggut dari kejauhan.

Aku akui, kadang-kadang, eh sering ding, lalai soal administrasi yang kelihatannya sepele.

Dulu aku nyaris nggak bisa lulus karena telat mengembalikan buku di perpustakaan kampus. Aku lupa pernah meminjam buku di semester tiga. Aku baru ngeh saat membuat surat keterangan bebas perpus di semester 12. Setelah merayu sana sini, akhirnya petugas perpus bersedia negosiasi. Aku cukup bayar Rp 150 ribu untuk tiga buku yang telat dikembalikan selama hampir empat tahun!

Kasus lain soal administrasi adalah motorku, si Beracun. Di Denpasar, dulu nyaris selama dua tahun dia alpa bayar pajak. Bukan karena nggak punya duit, tapi karena prosedurnya ribet (setidaknya aku doang yang merasakan ribet). Kelalaian ini terjadi selama dua tahun. Pajak motor akhirnya baru terbayar saat si Beracun menyusulku ke Jakarta tahun 2012. Aku mesti mengakumulasi pembayaran pajak selama tiga tahun plus denda sebesar Rp 750 ribu. Lumayan juga ternyata.

Di Jakarta, lagi-lagi si Beracun lagi-lagi telat bayar pajak. Seharusnya aku mengganti plat kendaraan pada Juni 2013, tetapi sudah setahun lebih aku nggak membayar pajak. Sekali lagi bukan karena nggak punya duit. Beberapa kali motorku distop razia polisi. Tapi ya itu, cuma karena kemampuan bersilat lidahlah, motorku nggak pernah kena angkut.

Kasus terakhir adalah paspor yang hilang. Aku menyadarinya sejak beberapa bulan lalu saat pindah kamar kos. Cuma karena nggak ada agenda ke luar negeri (cieelaaah!), kehilangan ini malas kuurus. Ya gitu deh. Jadi terjebak pada persoalan adminitrasi sebenarnya bukan hal baru buatku. Tetapi ya itu, aku nggak kapok-kapok juga. Jadi aku sih paham kalau pacarku marah.

Balik lagi ke soal Jokowi, karena malas berantem, aku akhirnya memilih tidur. Kebetulan pula aku mau nonton Brasil lawan Jerman. Sembari aku berharap, kemarahan pacarku udah reda dengan sendirinya dibawa tidur.

Subuh-subuh aku bangun, bersiap menonton Brasil lawan Jerman. Seperti biasa, ritual yang kulakukan saat bangun tidur adalah mengecek ponsel. Ada berapa pesan masuk dan penugasan via surat elektronik kantor.

Ada satu pesan Whatsapp yang membuatku ketar-ketir. Pacarku minta putus. JEBRET! Katanya, kalau sampai Jokowi kalah akulah penyebabnya. Aku yang baru bangun, langsung keringat dingin.

“Ternyata benar, pilpres bisa merusak hubungan rumah tangga,” pikirku.

Ya sudah, itu aku pikirkan nanti. Aku memilih nonton bola, meskipun dengan hati tak tenang. Stres mikirin diputusin pacar jika Jokowi kalah. Perut makin mules saat pelan-pelan Jerman mulai membobol gawang Brasil dengan mudah.

Tuhan, ujian macam apa yang kau berikan pada hambamu ini. Nyaris diputusin pacar dan klub idola dihancurkan dengan skor gila-gilaan. Daripada tambah stres, aku memilih untuk tidur. Aku berharap, dua kejadian buruk yang menimpaku cuma mimpi.

Aku bangun dengan kepala penat. Pergi ke tempat liputan tanpa motivasi. Sesampainya tempat liputan, aku menerima pesan dari pacarku.

*deg-degan berharap dia nggak jadi minta putus*

Aku buka pesannya.

Kampret.

Isinya link download formulir A5. Tetep ya usaha. Aku bilang kalau aku sudah di tempat liputan, nggak mungkin ngurus administrasi di lingkungan tempat kosku. Aku kembali merasa bersalah. Kalau Jokowi sampai kalah, bubarlah mahligai kebahagiaan yang sedang kurintis. Tsaaah.

Sore hari aku ditugaskan meliput hitung cepat di salah satu lembaga survei. Hasilnya melegakan, ada peluang menyelamatkan hubungan yang hampir kandas. Aku membuka beberapa berita. Jokowi diprediksi menang di berbagai lembaga survei. Aku bersyukur. Berita ini bisa dijadikan ajang untuk rekonsiliasi. Rujuk, kalau meminjam istilah Prabowo ke Titiek Soeharto (yang akhirnya nggak jadi).

Sesaat setelah aku kirim berita soal kemenangan Jokowi, pacarku kirim pesan.

“Nggak jadi putus dah ya.”

Dia melanjutkan, “Kata teman aku, pahalamu jauh lebih besar karena bikin berita Jokowi.”

Aku tersenyum senang. Terima kasih Pak Jokowi, sudah menyelamatkan hubungan kami. Hehehe.

Iklan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Juli 20, 2014 at 4:27

    SALAM DUA JARI brooooo

  2. wildan said, on Juli 22, 2014 at 4:27

    jangan kaya gini nih harus nya pada pilih prabowo

  3. Gung Ws said, on Juli 24, 2014 at 4:27

    kalian sungguh jenaka :)))

  4. Ervansah SETYO SANTOSO said, on Agustus 5, 2014 at 4:27

    Pinter banget lo ngarang cerita… hhahahhah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: