Agus Lenyot

Percakapan yang Menyenangkan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 20, 2014

Malam minggu lalu aku diajak seorang kawan menemaninya membeli sebuah hadiah ulang tahun untuk pacarnya. Aku menyarankan, berilah dia hadiah yang tidak ternilai harganya. Misalnya, kataku, “Harapan untuk hidup yang lebih baik.” Rupanya usulku ditolak.

Kawanku ini beralasan, sang pacar naksir pada satu barang yang sudah tak ada lagi di kotanya. Saat bertanya harga barang itu, kawanku ini menyebutkan satu nominal dan aku cuma manggut-manggut. Ya sudah, aku temani meskipun aku juga nggak ngerti alasan kawanku mengajakku. Kalau nyari tempat konsultasi soal mode, jelas dia salah orang.

Pendek kata, hadiah itu terbeli. Temanku sepertinya bahagia betul. Membahagiakan orang yang kita sayangi memang menyenangkan. Aku paham perasaan itu. Tetapi melihat orang yang kita sayangi bahagia bersama orang lain itu omong kosong. Hahaha.

Sesampainya di rumah, aku kirim pesan ke pacarku kalau habis nganter teman beli kado. Aku lalu menyebutkan harga barang yang dibeli kawanku itu. Lalu aku ingat bulan depan pacarku berulang tahun. Aku sih berniat belikan dia hadiah. Cuma seperti biasa, aku bingung mau kasih dia apa.

Seperti biasa, kalau mau belikan sesuatu aku pasti selalu tanya dia mau hadiah apa. Tapi karena sebentar lagi dia berangkat ke Amerika, di ujung percakapan.
aku berujar, “Nanti kamu minta hadiah jangan yang mahal-mahal ya.”

Pacarku membalas pesan ini.

“Aku cuma minta dilamar aja kok.”

Lalu ada hening yang berkepanjangan.

Aku merasa terjebak pertanyaan sendiri. Hahaha.

Aku termasuk orang yang (berusaha) percaya bahwa tidak semua perempuan menyenangi kemewahan. Lha, kalau semua cewek matere, cowok kere macam aku mana kebagian pacar, dong? Untungnya pacarku bukan orang yang mewah-mewah amat. Sesekali bisalah diajak susah.

Aku pun percaya, perempuan menyukai lelaki pekerja keras. Untuk apapun. Saat pedekate, nyari sekolah, ngerjain skripsi biar lulus, hingga nyari pekerjaan.

Seorang teman perempuanku punya alasan begini, “Lelaki pekerja keras pasti akan selalu berusaha sekuat tenaga mencapai cita-citanya.”

Dia melanjutkan, “Jika kebahagiaanku adalah sebagian cita-citanya, aku percaya dia akan berusaha mewujudkannya.”

Romantis.

Ini yang kemudian tidak menyurutkan semangatku awal-awal pedekate ke pacarku dulu. Maklum, tampangku pas-pasan, kayak kagak, pinter apalagi. Sementara sainganku, anak pejabat, bermobil, calon dokter pula. Sedangkan aku? Motor Supra butut yang sudah dua tahun tak bayar pajak. Lulus masih jauh padahal semester udah banyak. Pokoknya madesu, masa depan suram.

Tapi aku selalu ingat dengan ucapan kawan perempuan itu.

“Buatlah percakapan yang menyenangkan, lalu perempuan akan menemukan rasa nyaman.”

Aku percaya jika ada dua orang yang bisa ngobrol berjam-jam tanpa kehilangan rasa bosan itu awal yang baik untuk sebuah persahabatan. Jika kalian sejenis, itu tanda kalian bisa menjadi teman yang menyenangkan. Jika kalian beda jenis kelamin, itu awal yang baik untuk jadian.

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Juli 20, 2014 at 4:27

    Waduh, kalau tiap orang yang rela aku ajak ngobrol berjam-jam bisa aku ajak jadian sudah berapa kali ya aku jadi-jadian haahaha

  2. Gung Ws said, on Juli 24, 2014 at 4:27

    hwahahahaha… jdi gimana ni? hestek kempeinnya #GoNikahGo atau #nikah2015 ? :))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: