Agus Lenyot

Menemukan Orang yang Tepat

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 27, 2014
Kalau toh tulisannya nggak enak dibaca, minimal fotonya sedap dipandang.

Kalau toh tulisannya nggak enak dibaca, minimal fotonya sedap dipandang.

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat lama datang bercerita. Jika dia ngontak aku malam-malam aku sudah menduga, ini bakal soal asmara. Ternyata benar! Dari nada suaranya, kawanku ini sepertinya cuma perlu didengar dan tak butuh nasihat. Sebagai pendengar yang baik aku hanya bilang, “Ooh.” atau “Oiaa.” berkali-kali di tengah cerita.

Kawanku ini, seorang perempuan, adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Pacarnya, juga seorang anak bungsu. Sebenarnya sudah sejak kuliah aku dengar cekcok mereka. Curhat soal putus nyambung juga sudah kudengar sejak lama. Tapi ya begitu, aku mendengar sambil lalu karena tahu habis bertengkar mereka pasti balikkan lagi.

Tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Pertengkaran mereka sebenarnya soal-soal klise bawaan sifat anak bungsu: manja, egois, ingin didengarkan dan kalau mau mesti diturutin. Dulu aku pernah memprediksi hubungan mereka tak akan bertahan lama. Tapi ajaib, mereka bisa bertahan pacaran selama bertahun-tahun.

“Aku capek mengalah terus,” kata kawanku ini.

Tuh kan, klasik. Keluhan ini sudah berkali-kali dia ucapkan.

“Coba kamu jadi aku, gimana rasanya!”

Lagi kan. Klasik. Aku manggut-manggut sembari menjauhkan telepon. Aku nggak mau jadi dia.

“Kayaknya udah nggak mungkin aku pertahankan lagi, deh.”

Dulu dia juga pernah ngomong begitu.

Aku menjawab, “Iya, iya..”

Aku mendengarkan cerita kawanku ini sambil dikejar deadline. Aku pikir, ya mendengarkan orang kena musibah nggak masalah. Mungkin dia nggak punya teman. Setelah curhat panjang lebar, di ujung percakapan dia bertanya begini, “Jadi aku harus bagaimana?”

Aku gelagapan. Kupikir dia cuma butuh tempat sampah. Aku memutar otak sejenak. Aku memilih nasihat yang seharusnya aku berikan tiga tahun yang lalu.

“Kamu sebaiknya putus deh. Keluhanmu siklus yang berulang. Nggak bakal ada ujung pangkal. Kamu berhenti, rehat sejenak dan cari pacar baru. Tapi cari pacar jangan anak bungsu, tapi cari anak pertama. Biar nanti dia bisa ngemong kamu.”

“Tapi aku masih sayang sama dia.”

Kemudian aku mendengar sesenggukan di ujung sana.

Aku menghela nafas.

Bingung mau kasih nasihat apa.

Aku sebenarnya berkali-kali menyarankan kepada kawanku ini. Cari pacar itu jangan yang sifatnya sama. Mungkin awal-awal kenalan, banyak kesamaan itu menyenangkan. Suka dengan klub bola yang sama, suka dengan makanan yang sama, suka dengan band yang sama, atau suka dengan film yang sama. Atau soal sifat. Sama-sama keras kepala, segala mau mesti dituruti hingga sama-sama manja.

Waktu pedekate emang asyik kalau akhirnya pas ngobrol terus bilang, “Eh, ternyata kita banyak kesamaan ya.”

Dalam hati kemudian mikir, “Ini nih orang yang tepat untuk hidup gue.”

Tapi lama-lama, kesamaan itu justru membosankan. Kita tak lagi memiliki rasa penasaran terhadap pasangan kita.

Nah, balik lagi ke soal kawanku ini.

Sebenarnya sudah sejak lama aku menyarankan: jangan cari pacar anak bungsu, apalagi anak tunggal. Anak bungsu dan anak tunggal itu berkecenderungan punya kesamaan sifat. Manja, keras kepala dan mesti dituruti apa maunya. Bisa jadi karena mereka selalu menjadi pusat perhatian sejak dalam keluarga. Nah ini kemudian kebawa ketika bergaul di luar rumah.

Saranku sejak lama pada kawanku; cari pacar anak pertama dari banyak bersaudara. Cari seorang kakak. Udah tahu manja, masih aja nyari yang keras kepala. Mbok cari yang sabar dan pengertian. Seorang kakak yang punya adik, umumnya pasti bisa lebih ngemong, dewasa dan kebapakan. Family man gitulah. Anak bungsu yang ketemu anak pertama pasti bakalan lebih klop. Mereka bisa saling mengisi dan melengkapi.

Lalu, aku pun mikir rekam jejak ‘pergebetanku’. Hahaha. Ternyata, aku punya kecenderungan untuk gampang dekat dengan anak kedua atau anak bungsu. Hmmm. Barangkali karena aku anak pertama yang punya banyak adik, bukan adik ketemu gede. Gebetanku, atau setidaknya orang-orang yang pernah kutaksir dulu ya kalau bukan anak kedua ya pasti anak bungsu. Malah nggak ada yang anak pertama. Jadi minimal dalam hidupku, teori soal menemukan orang yang tepat sudah cocok.

Tentu tidak mesti semua anak kedua dan anak bungsu yang aku temuin mesti dipacarin. Ngefans dan kagum itu kan naluri alamiah seseorang terhadap orang lain yang kita anggap punya kelebihan. Istilahnya begini, “Naksir boleh, pegang jangan.”

Aku sih merasa, kita selalu punya naluri untuk mencari teman yang menyenangkan. Saat berkenalan dengan orang baru, aku selalu punya feeling bahwa, “Oh, orang ini bakal nyambung diajak ngobrol.”, “Orang ini jadi teman pun kayaknya nggak cocok.” atau “Oh, orang ini mungkin bisa aku taksir.” Tinggal pandai-pandai kita menjaga hati saja.

Balik lagi ke soal menemukan orang yang tepat.

Dari titik itu aku berkesimpulan, oh preferensi kita terhadap pasangan itu tak lepas dari urut-urutan kelahiran. Mungkin karena soal karakter dan kebiasaan. Kalau kamu anak pertama, cari pacar anak bungsu. Kalau kamu anak bungsu, cari pacar anak pertama. Kalau anak tengah, cari pacar anak tengah juga. Kalau anak tunggal, jangan cari pacar yang sama-sama anak tunggal.

Anak yang sejak kecil kehilangan ayah, mungkin bakal nyari pacar yang kebapakan. Begitu juga sebaliknya, mereka yang mungkin ditinggalkan ibunya bakal mencari sosok pacar yang sabar, lembut dan keibuan. Seorang anak yang segala-galanya sudah terpenuhi sejak kecil mungkin akan mencari pacar yang badung, yang butuh usaha untuk ditaklukkan.

Tapi ya itu, aku bisa saja salah.

Yang pasti aku percaya, kita tak akan pernah bisa menemukan orang yang benar-benar tepat dalam hidup kita.

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gung Ws said, on September 4, 2014 at 4:27

    sepakat, Le…
    eh tapi aku masih susah fokus antara tulisan atau gambar diatas..boleh ditambah lagi gambarnya di akhir tulisan?
    *usul aja sih..

  2. notedcupu said, on Desember 28, 2014 at 4:27

    Mas bli, gambare lo, gak ada FPO kan di sini hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: