Agus Lenyot

Sekali Lagi, Cinta Beda Agama

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 31, 2014

Mencintai itu satu hal. Menjadikan cinta itu ke satu hubungan yang direstui itu soal lain.

“Hubungan kami sudah pada level tak mungkin dilanjutkan tapi diberhentikan pun tak sanggup.” Sekalimat pesan masuk ke ponselku saat aku sedang duduk santai di Bandara Soekarno Hatta. Aku yang lagi bengong memantau hilir mudik penumpang, merenung sejenak membaca pesan sahabat sekolahku ini.

Kawanku ini, seorang perempuan.

Dulu dialah yang mendengarkan berbagai kisah cinta monyetku. Naksir teman sekelas, ngasih nasihat ngehadapin cewek sampai menjadi comblang dengan gebetanku. Sebaliknya, aku juga menjadi tempat sampah saat dia berantem dan punya masalah dengan pacarnya dulu.

Sampai awal kuliah, aku masih sering mendengarkan kisah cintanya yang selalu berakhir tragis. Semester makin besar kami terjebak pada rutinitas masing-masing dan mulai saling melupakan. Pada akhirnya hidup kami berjalan di atas jalannya masing-masing.

Itu sudah hampir delapan tahun yang lalu.

Aku tersadar sudah bertahun-tahun kami nggak saling sapa. Bahkan untuk menanyakan kabar atau mengucapkan selamat ulang tahun. “Enam tahun? Tujuh tahun?” Aku bertanya padanya soal lenyapnya komunikasi diantara kami berdua. Aku merasa berdosa. Rupanya sejak sekian lama kawanku ini tak punya orang yang bisa dipercaya untuk bercerita

Kawanku kemudian bercerita tentang kisah cintanya. Kali ini yang ketiga aku ketahui. Dia bertemu dengan seseorang karena menyukai band yang sama. Nyambung saat diskusi lalu jadian karena saling menyayangi. Pertemuan-pertemuan yang intensif adalah candu dan kemudian mereka terjebak dalam hubungan yang saling membutuhkan.

Semua berjalan baik-baik saja. Hingga kemudian mereka menemukan satu selaput yang mengganjal hubungan mereka hari ini: agama. Tidak ada yang bersedia mengalah.

Dulu mereka berprinsip, “Jalani saja dulu, yang bakal terjadi nanti kami pikirkan nanti.” Apa yang rencana untuk dipikirkan dulu rupanya menjadi beban hari ini. Mereka rupanya hanya menunda masalah karena perjalanan sudah terlampau jauh dan perasaan sudah terlampau dalam.

“Kamu punya opsi apa?” Aku bertanya.

“Barangkali ini yang namanya masih sayang tapi mesti putus.”

Aku diam mendengar jawabannya.

Aku selalu kagum pada mereka yang menjalani hubungan beda agama. Mereka yang bertahan pada hubungan ini meyakinkanku bahwa kekuatan cinta mengatasi perbedaan apapun. Agama adalah hal fundamental yang membentuk watak dan perilaku kita. Aku percaya ada nilai-nilai universal yang dibawa semua agama. Tetapi dalam prakteknya, cara untuk mencapai nilai universal itu tetap saja berbeda. Cara inilah yang kemudian membentuk sudut pandang setiap dari kita. Dalam konteks ini, antara kawanku dan pacarnya.

Soal cinta beda agama, aku hanya berani berkoar-koar dan menuliskannya dalam blog. Pengalaman sih nol besar. Tapi aku mengamati dari dekat, mereka yang menjalani hubungan beda agama. Mereka adalah orang yang teguh dan ulet. Setidaknya untuk memperoleh restu dari kedua orang tua masing-masing. Cinta beda agama mungkin tak menjadi apa-apa jika tak ada beban membakukan hubungan ke jenjang pernikahan. Pembakuan hubungan itu akan berbenturan agama, keluarga dan negara.

Sialnya (atau untungnya?), beberapa kawan yang menjalani hubungan beda agama bisa mempertahankan hubungan dengan sangat lama. Perbedaan yang terentang membuat mereka saling menguatkan dan mengingatkan. Pada akhirnya rasa senasib sepenanggungan adalah salah satu kiat ampuh mengapa sebuah hubungan bisa bertahan lama. Ketika perjalanan sudah terlampau jauh, semakin tak ada waktu untuk kembali ke titik awal. Tapi itulah, mencintai adalah menyerahkan diri untuk disakiti, dengan kesakitan-kesakitan yang manis.

Tidak mudah, memang.

Iklan

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Obat tradisional kolesterol said, on Agustus 7, 2014 at 4:27

    nice post gan

  2. Made Wirautama said, on Agustus 19, 2014 at 4:27

    Ndak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjalani hubungan beda agama. Di Bali, menjalani hubungan beda kasta aja sudah susah kok.

  3. abdi said, on November 1, 2014 at 4:27

    gw pernah jalani hal seperti ini, dan akhir nya hubungn yg dijalani lama berakhir dengan perpisahan ,
    sempat terpuruk,prustasi, tapi dya meyakin kan 1 hal sblum kami berpisah, meski kita tidak bisa bersama, tapi cinta dan sayang ini hanya untuk mu, itulah yg membuat aku kuat sampai sekarang 😦

  4. Ms.Utami said, on Desember 26, 2014 at 4:27

    Hanya satu hal yang pasti dalam hubungan cinta beda agama, ganti pacar, atau ganti Tuhan
    Apa yang harus kita pilih, Tuhan kita..atau dia
    Kepercayaan kita, atau kepercayaannya
    Jika tidak ada kepercayaan terhadap apa yang dianutnya, begitupun ia tidak ada keyakinan atas apa yang kita yakini benar selama ini
    Lebih baik dilepaskan saja, menjalani dulu..menjalani dulu.. jika tidak dibarengi komitmen, percuma saja
    Ujung suatu hubungan pasti ada.. 😦
    Awalnya juga saya ga pernah membayangkan ini bisa terjadi.. tapi esok kita bertemu siapa, ga ada yang tau
    Semoga saya segera sembuh dari luka, dan segera bisa bertemu cinta baru..yang lebih indah..tanpa harus beda agama

  5. Dewi said, on Desember 27, 2014 at 4:27

    berbeda agama, dan tidak di restui pula.
    Sakitt… itu kata2 yang paling pas. disaat orang2 terdekat anda memberikan penilaian terhadap pasangan anda tanpa tau lebih banyak dan lebih dekat lagi. Dengan mengatakan kalau mereka melakukan semua itu hanya karna keperdulian mereka dg masa depan anda.
    Terlalu perih untuk di terima, tp sangatlah sulit untuk di perjuangkan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: