Agus Lenyot

Menjadi Jurnalis Kagetan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 7, 2015

Jurnalis yang terkaget-kaget mendapati suatu peristiwa bisa disebabkan sejumlah hal. Kurang baca, kurang riset atau memang pada dasarnya tak tahu.

Aku teringat dengan wartawan kagetan saat membaca kicauan Bagja Hidayat, editorku di media tempatku bekerja. Dia sedang membahas soal wartawan kagetan. Di dalam akun Twitternya, sepekan lalu Bagja menulis, “Menulis kagetan juga membuat kesan wartawan miskin, meskipun memang begitu faktanya. Kaget melihat pelayan warteg berbelanja tas Rp 2 juta.”

Screenshot_2015-04-07-18-41-17-1

Usai membaca beberapa kicauan itu, aku teringat bahwa ada banyak berita yang mengesankan wartawan kaget dengan fakta yang mereka temui. Di jurnalisme daring, indikator paling nyata soal jurnalis kagetan adalah berita berjudul dengan awalan, ‘Wow’, ‘Wah’, atau ‘Wuih’. Bisa jadi maksudnya adalah untuk menarik pembaca. Seolah-olah ada peristiwa luar biasa yang jarang diketahui publik. Sehingga perlu ditambah diksi yang, menurutku, lebay.

Wartawan dituntut memang dituntut tidak menjadi manusia kagetan. Sebab, profesi ini akan menemukan berbagai macam fakta baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tentu disesuaikan dengan latar belakang si jurnalis. Lalu, siapa yang berhak kaget? Biarkan pembaca saja. Wartawan, rasanya, tak perlu terlibat secara emosional dalam artikel yang mereka buat. Apalagi sampai membawa kakegatan mereka ke dalam tulisan. Alangkah merepotkan jika seorang wartawan jika acap terkaget-kaget. Stay cool aja. Biar tidak terkesan norak juga.

Ambil contoh soal berita Sasa Darfika, penjaga warung tegal cantik yang sempat ramai diberitakan media daring. Kenapa Sasa Darfika ditulis? Tentu karena ada news value atau nilai berita. Bukankah salah satu syarat sesuatu disebarkan ke khalayak karena ada nilai berita? Pertanyaan berikutnya, kenapa Sasa Darfika menjadi berita? Apakah karena dia ‘penjaga warteg’ dan ‘cantik’? Pertanyaan berikutnya, apakah aneh jika ada penjaga warteg cantik?

Berita-berita dengan model kagetan seperti ini akan menjadi stereotif atau labeling. Bisa menjadi justfikasi terhadap sesuatu yang sebenarnya lumrah saja. Mungkin ini berlebihan, tetapi bisa jadi benar. Wartawannya saja yang kurang gaul, kurang baca atau malah kurang riset. Seolah-olah penjaga warteg cantik, sama seperti hakim cantik, satpol PP cantik atau pengacara cantik adalah sesuatu yang tak lazim. Wanita dengan fisik menarik kan tidak melulu mesti menjadi foto model, pemain sinetron atau bintang iklan kan?

Lalu stereotifnya apa? Kok selama ini ada kesan penjaga warteg selama ini identik dengan mbok-mbok tua berumur, gendut dengan fisik yang tidak menarik. Memangnya tidak ada penjaga warteg muda dan kece? Jangan-jangan nih wartawan nggak pernah makan di warteg. Atau kebetulan saja dia bertemu Sasa Darfika yang muda, putih dan masuk kategori cantik. Dia heran, merasa ini sesuatu yang luar biasa, perlu memberitakan keheranannya kepada publik. Jadilah si penjaga warteg ini berita.

Aku merasa, banyak kok penjaga warteg yang cantik. Tidak cuma cantik, tetapi berpendidikan tinggi. Lumrah saja. Penjaga warteg di dekat tempat tinggalku di Kalibata cantik. Judes sih kalau melayanin pelanggan. Dulu, pas masih indekos dekat jembatan layang Kebayoran Lama, seorang tukang kopi langganan juga masuk kategori menarik. Ya, berita-berita macam begitu seakan mengamini bahwa penjaga warteg jarang yang memiliki fisik menarik.

Begitu pula saat membaca berita seorang petani atau tukang bakso memakai motor sport berkapasitas mesin besar. Lho, emang salah petani mempunya motor mahal? Kok kesannya, seakan-akan tak ada petani kaya. Saat melihat ada satu petani kaya, punya motor sport atau mungkin mobil miliaran, langsung menjadi berita.

Kalau jurnalis mau agak membuka mata sedikit saja, di banyak daerah, terutama yang medannya cadas, banyak petani memiliki motor sport. Selain untuk gagah-gagahan, tentu mereka membeli motor mesin besar karena kebutuhan. Motor sport lebih tangguh untuk diajak menjelajah daerah pegunungan. Lagipula, tidak ada anehnya petani, tukang cireng, atau pedagang pecel lele punya motor mahal. Berita macam begini meragukan penghasilan pedagang-pedagang kecil. Padahal sehari kerja, omzet mereka sama dengan gaji wartawan sebulan.

Sebagai anak desa yang datang ke Jakarta, aku juga pernah mengalami gegar liputan. Kaget dengan aneka fakta baru yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan. Suatu waktu, ketika aku masih di desk ekonomi, aku diminta redaktur meliput rapat pemegang saham Astra di sebuah hotel berbintang. Saat mereka presentasi, aku tercengang bukan main. Komisaris Utama atau apalah aku lupa, bergaji lebih dari Rp 1 miliar per bulan. Aku kaget bukan main. Tercengang.

Aku riset lagi. Berapa sih gaji bos-bos korporasi raksasa ini? Ooh, ternyata memang segitu angkanya. Untung aku tidak sampai membuat artikel dengan judul, “Wow, ternyata ada orang berpenghasilan Rp 1 miliar per bulan.” Jatuhnya norak. Nanti pembaca malah nyenyein, “Banyak keles orang yang penghasilannya satu miliar sebulan.” Kan malu. Karena itu, gegar liputan atau wartawan kagetan bisa jadi memalukan dan menjadi bahan lelucon di kalangan pembaca yang paham masalah.

Di Majalah Tempo, ada satu liputan tentang Hummersonic 2015. Aku tidak menonton acara ini tetapi membaca ulasannya karena salah satu band favoritku, Mesin Tempur, manggung di festival ini. Aku memang tak pernah menonton band ini secara langsung. Tapi berkali-kali melihat videonya di Youtube, termasuk aksi panggung mereka yang kocak abis.

Screenshot_2015-04-07-18-59-19-1

Di artikel itu sang wartawan menulis, “Yang mengejutkan, di pengujung penampilan, mereka melempar mi instan berbungkus hijau dan belasan celana dalam ke arah penonton.” Buat penggemar Mesin Tempur, aksi ini tidak mengejutkan. Sebab, dalam berbagai konsernya, mereka memang melempar celana dalam, mi instan dan bahkan uang ke arah penonton. Menurutku, tidak tepat jika aksi ini disebut mengejutkan. Barangkali, cuma si penulis artikel yang terkejut dengan aksi ini. Seharusnya, dia tidak membawa kekagetan itu (yang sebenarnya lumrah) ke dalam tulisan. Paparkan saja faktanya. Persoalan ada yang kaget, itu urusan pembaca.

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bang Cup(uh) said, on April 24, 2015 at 4:27

    Jika wartawannya kagetaan, kan masih ada editornya bang. Yang bisa ngebenerin tuh pola kalimatnya. Iya toh?

  2. Oka Wisnawa said, on Juni 11, 2015 at 4:27

    Paparkan saja faktanya. Persoalan ada yang kaget, itu urusan pembaca.

    Bahasannya menarik kak, kebetulan saya pembaca kagetan yang kurang belajar ^ ^”
    Ini memberi wawasan baru tentang jurnalistik bagi saya 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: