Agus Lenyot

Dua Telepon dan Dua Tangan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 26, 2015

Seorang kawan kehilangan telepon genggamnya. Karena tak ingin direpotkan persoalan administrasi yang memang menjemukan, kawanku ini memilih sebuah nomor baru. Nomor berbeda dari penyedia jasa layanan seluler yang berbeda pula. Karena hanya bersifat sementara, aku sengaja tak menyimpan nomor baru kawanku ini di daftar kontak ponselku.

Lama berkomunikasi dengan nomor tanpa nama ini, sebuah notifikasi percakapan masuk ke layar ponselku. Nomor lama kawan yang beberapa waktu kehilangan ponsel. Setelah berbincang sejenak, akhirnya aku bertanya, “Nomor mana yang lebih sering kamu pegang?”

Kawanku menjawab, dua-duanya.

Aku mahfum. Di Indonesia orang lazim memiliki banyak ponsel. Setiap nomor, memiliki fungsi yang berbeda-beda pula. Satu nomor untuk keluarga, nomor kedua untuk rekan bisnis, nomor berikutnya untuk kawan lama hingga dan nomor selanjutnya buat kawan arisan. Mereka yang memiliki banyak telepon genggam, barangkali berpikir praktis saja: jika satu telepon berdering dia sudah tahu siapa yang menghubunginya.

Tapi perilaku macam begini acap tak aku pahami. Mengapa orang tak memiliki satu ponsel saja? Bukankah telepon cerdas memiliki fitur yang menyimpan ribuan nomor? Toh pada akhirnya, kita hanya memiliki dua tangan yang umumnya tak bisa digunakan secara bersamaan untuk menggenggam ponsel cerdas. Tapi ya sudahlah, itu adalah pilihan setiap orang.

Dulu, aku pernah memiliki dua nomor telepon. Tapi itu dulu, ketika gaji masih kecil sekali (sekarang masih kecil tapi tidak sekali). Kenapa aku memakai dua nomor, lebih pada alasan finansial. Pekerjaanku dulu mengharuskan menghubungi banyak orang. Orang-orang yang aku kerap hubungi datang dari aneka penyedia jasa layanan seluler. Demi alasan keamanan keuangan, aku memilih satu provider baru yang aku kira paling sering aku hubungi. Alasan praktisnya, ini bisa menghemat biaya.

Kini, setelah gaji agak gedean dikit, aku punya satu nomor saja. Lebih praktis dan tidak ribet. Barangkali aku adalah orang yang amat efisien. Beberapa kawan menyebutnya pelit. Masa bodo. Memiliki dua nomor, artinya aku mesti membeli pulsa untuk dua ponsel. Artinya itu pemborosan.

Pada titik itu, aku berpikir barangkali aku adalah orang yang berpikir fungsional.

Karena itulah, aku jarang memiliki dua barang yang sama untuk satu fungsi. Ya motor, yang arloji, ya tas. Termasuk ya ponsel ini. Buat apa memiliki banyak barang yang aku tak bisa gunakan dalam waktu bersamaan. Kecuali untuk terlihat keren dan mungkin sedikit gagah-gagahan.

Untuk ponsel, aku pun berpikir fungsional. Barangkali karena aku tak kaya. Jarang aku membeli ponsel karena tren. Ganti ponsel karena kebutuhan, rusak atau hilang. Setahun yang lalu aku beli Lenovo karena Blackberry sering rusak dan akhirnya menyusahkan. Sebulan yang lalu aku beli Xiaomi karena Lenovo rusak. Layarnya retak karena aku tindih saat tidur. Aku mengambil kesimpulan, aku mengganti sesuatu yang baru jika yang lama sudah tak bisa dipakai lagi. Sekarang aku kembali membeli Xiaomi yang sama karena kecopetan di kereta.

Sembari menulis soal ini, aku teringat dengan curhatan seorang kawan perempuan masa SMA. Dia datang tiba-tiba. Sudah lama tak bersua, dia menyapa di dunia maya lalu berlanjut ke aplikasi percakapan di ponsel cerdas. Jika perempuan datang menyapa dan berlama-lama, rasa-rasanya dia pasti ingin bercerita.

“Mau cerita apa?” Aku tak punya cukup waktu untuk berbasa-basi.

Dengan lancar, mengalirlah cerita soal kehidupan asmaranya yang sedang digoncang bahaya.

Mula-mula hidupnya bahagia. Lulus kuliah tepat waktu, ada seorang kekasih yang amat sayang padanya, dan kemudian mendapatkan pekerjaan dengan masa depan yang bisa diharapkan. Manusia acap tak puas dengan rasa nyaman. Soekarno dulu pernah bilang, vivere pericoloso, hidup mesti menyerempet-nyerempet bahaya. Acap bahaya datang tanpa dicari, sebab dia datang sendiri.

Jadi ceritanya begini.

Suatu ketika, dia berkenalan dengan seorang rekan kerja. Relasi dan tuntutan pekerjaan membuat mereka, kawanku dan rekan kerjanya acap berada di ruang dan waktu yang sama. Mereka berbicara soal pekerjaan, target hingga visi-misi kantor mereka. Habis bahasan soal pekerjaan, mereka kemudian saling bercerita tentang pasangan masing-masing.

Dulu, kata dia, kesempatan datang tanpa dicari. Dia datang sendiri, sebut saja kebetulan atau ketidaksengajaan. Atau mungkin kebetulan yang disengaja. Misalnya, tak sengaja bertemu di kantin saat makan siang bareng. Atau bertemu di tempat parkir sembari sekadar bertegur sapa. Setelah perbincangan yang menyenangkan, “Dia bisa membuatku tertawa terbahak-bahak,” kata kawanku, keinginan untuk selalu bersama menjadi tak terhindarkan.

Dulu kesempatan datang tanpa dicari. “Kini aku berusaha menciptakan kesempatan.” Ketika jam makan siang, dia sengaja berlama-lama di ruang kerja sembari menunggu sang rekan kerja lewat di jendela, menoleh dan melambaikan tangan. “Padahal bisa saja aku makan duluan,” kata kawanku. Kemudian hubungan mereka memasuki satu tahap lebih tinggi. Bercerita dan terbuka terhadap diri kita masing-masing.

“Bercerita tentang diri kita kepada lawan jenis adalah tahap berbahaya,” kataku, berdasarkan pengalaman.

“Bercerita tentang diri kita, berarti memberi peluang padanya apakah dia bakal menerima kita apa adanya.”

Kegembiraan itu berlangsung lama, menjadi candu dan menggairahkan.

Sampai suatu ketika, rekan kerjanya menghilang entah ke mana selama beberapa lama. Mau bertanya, segan. “Gengsi dong!” kata kawanku. Namun, tanpa bertanya, degup di satu titik pada kawanku yang mesti terpuaskan. Akhirnya, kata kawanku itu, aku mengalahkan rasa gengsi. Aku memberanikan diri mengirim pesan di Wasap.

Kok lama nggak kelihatan? Ke mana saja?

Tak beberapa lama, kata kawanku, dia membalas.

Orang bertanya di mana minimal untuk tiga alasan yang saling berurutan. Pertama, penting. Kedua, butuh bantuan. Ketiga, kangen. Aku tak yakin kamu datang dengan alasan nomor tiga. Tapi aku berharap, kamu datang dengan alasan itu.

Jawaban ini membuatku kawanku tersenyum. Singkat cerita, mereka akhirnya kembali bisa berbincang. “Aku selalu punya alasan untuk lama-lama di kantor. Ya sengaja menunda pekerjaan,” kata kawanku. Cinta kadang memang datang di tempat yang tak kita kira.

Sampai suatu ketika, persimpangan itu datang. Pacarku, kata kawanku, curiga kenapa aku betah di kantor? Padahal tidak ada teman-temanku yang berlama-lama. Dia bertanya, dan kemudian aku menjawab jujur. “Aku sedang dekat dengan seorang rekan kerja. Aku tidak tahu apakah aku suka, tetapi berbincang dengannya membuatku senang.” Mereka kemudian bertengkar panjang, tanpa ciuman yang menggairahkan sesudahnya, hubungan yang saling curiga dan tak ada lagi rasa percaya.

Pada titik inilah kemudian dia datang padaku. Meminta saran, karena aku pernah dirundung pengalaman serupa. Putuskan saja. Itu saranku. “Rasanya tidak adil, tidak jujur pada orang yang menyayangi kita dengan tulus.” Kita tak boleh serakah, menepikan risiko dan mengambil untungnya saja.

Satu hal yang sama tidak dituntut saling melengkapi. Mereka ditakdirkan saling menggantikan.

Karena aku pun dulu pernah mengalami hal serupa.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gung Ws said, on Juni 26, 2015 at 4:27

    aku sejak gaji kecil banget sampe sekarang juga ga jauh beda sih, nomer hp tetep satu, ga mampu melihara dua..
    itu topik kedua no comment ah, ga pengalaman ;))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: