Agus Lenyot

Terinjak-injak di Konser Iwan Fals

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 29, 2015

iwan_fals_konser_iwan_fals_panggung_utama_prj_jakarta_18_juni_2013-20130619-022-bambang
Pekan lalu, sembari menunggu seorang narasumber aku iseng membuka linimasa Twitter. Dari akun seorang kawan, aku memperoleh informasi Iwan Fals bakal konser di Pekan Raya Jakarta. Segera aku membuka webiste resmi PRJ dan mendapati jadwal konser Iwan Fals: Sabtu, 27 Juni. Akhir pekan. Aku sontak kegirangan.

Lagu-lagu Iwan Fals sudah lama menjadi teman hidup. Aku pertama kali mendengar lagu ‘Orang-orang Pinggiran’ saat masih kelas 2 SD. Liriknya, yang ‘hidup gue banget’, langsung menancap di kepala. Seketika aku merasa terwakili dengan lagu itu. Setelah itu, aku mulai mencari tahu lagu-lagu Iwan Fals, menelusuri segala informasi tentangnya meskipun tak pernah bergabung secara resmi dengan Orang Indonesia, organisasi resmi penggemar Iwan Fals. Aku hafal sebagian besar lirik lagunyanya karena kerap menemani saat aku kerja. Tema lagunya lintas batas. Mulai kisah cinta anak SMA, pengangguran yang sedang mencari kerja hingga cerita orang gedongan.

Aku membaca banyak artikel tentang sosok ini. Salah satu artikel keren tentang Iwan Fals adalah yang dibikin Andreas Harsono dengan judul Dewa dari Leuwinanggung. Tulisan ini sudah tak terhitung kali aku baca setiap ada waktu.

Aku juga menonton talk shownya di Kick Andy. Dari sana aku tahu, dia tak pernah bercita-cita mewakili banyak orang, tak pernah ingin menjadi pahlawan tapi lagu-lagunya mewakili suara hati jutaan rakyat Indonesia. Di tayangan ini pula, aku menyadari Iwan pun adalah seorang biasa-biasa saja (tetapi ini menjadi alasan mengapa dia layak menjadi idola jutaan orang), seorang ayah yang pernah terpuruk karena kehilangan seorang putra tercinta, seorang suami yang sangat menyayangi istrinya. Aku ingat menonton kemunculan pertamanya di publik setelah sang putra, Galang Rambu Anarki meninggal. Intinya, Iwan Fals adalah seorang manusia seutuhnya.

Impian menonton langsung konser Iwan Fals sudah terpendam sejak lama. Dan tak pernah terealisasi. Beberapa kali aku berniat menonton konser Iwan Fals di rumahnya di Leuwinanggung tapi tak pernah kesampaian. Entah mengapa. Niat sudah ada, kadang waktu yang tak pas. Ada saja hambatan. Dulu ketika Iwan Fals menggelar konser akbar di penghujung tahun 2012 (atau 2013?) aku juga tak bisa datang langsung karena urusan pekerjaan.

Kabar gembira kembali datang ketika Iwan Fals hendak menggelar konser Nyanyian Raya di Monas dengan target 4 juta penonton. Membaca berita ini saja, (dan membayangkan betapa hiruk pikuknya) membuat aku merinding. Aku tak bisa membayangkan empat juta orang berkumpul menyanyikan lagu Bento dan Bongkar. Tapi, lagi-lagi aku menelan kekecewaan. Konser Nyanyian Raya di Jakarta dibatalkan dan kemudian dipindah ke Bali, di kawasan Garuda Wisnu Kencana. Kabarnya, pembatalan ini karena alasan keamanan.

Aku maklum. Penggemar Iwan Fals lintas kelas, meskipun aku yakin mayoritas berasal dari kelas menengah bawah yang terwakili oleh lirik lagu-lagunya. Aku bisa membayangkan, bagaimana ketika jutaan orang frustasi dengan hidup dan muak dengan ketidakadilan berkumpul menjadi satu. Gelora kemarahan yang tak tersalurkan bisa jadi bencana untuk kita semua. Siapa yang bakal menjamin keamanan jutaan orang yang berkumpul menjadi satu? Aku memaklumi itu.

Kesempatan itu datang di ulang tahun Jakarta tahun ini. Iwan Fals manggung di PRJ Kemayoran.

Kepada seorang kawan, Tini Bohang, aku bilang ingin menonton konser Iwan Fals. Jauh-jauh hari aku mengajaknya, dan dia setuju.

Sabtu dini hari, aku ketiban piket majalah di kantor. Sepanjang Jumat malam hingga Sabtu subuh, redaktur pelaksana di kantorku bekerja menyetel lagu Iwan Fals. “Lumayan untuk pemanasan jelang konser,” pikirku.

Singkat cerita, Sabtu sesudah magrib, aku dan Tini siap berangkat.

“Gue mau pakai sandal jepit,” kataku. Maklum, konser Iwan Fals, yang datang pasti lebih banyak dari kelas sudra dan proletar. Aku tak punya persediaan kaos, aku memilih kemeja jins warna abu-abu. Terasa agak keren untuk sebuah konser yang penontonya kebanyakan rakyat jelata kelas menengah bawah.

“Lo nggak pakai sandal jepit saja?” Aku menunjuk sandal jepit warna merah milik Tini.

“Gue mau pakai ini saja,” kata Tini, menunjuk sandal lain. Warnanya sama merah muda, cuma lebih banyak tali (Belakangan aku tahu merk sandalnya, Havainas. Harganya ternyata mahal juga). Aku tak mempersoalkan. Yang penting praktis dan simple. Sebelum berangkat, kami sempat mengisi perut di warung padang di sekitar Palmerah. Saat mencicipi ikan bawal bakar, ponsel Tini berdering (sejak beberapa hari lalu ponselku hilang). Sebuah pesan Whatsapp masuk.

“Ayu ngajakin nongkrong,” kata Tini. Ayu, adalah Ayu Prima Sandi, kawanku di kantor, seorang wartawan yang ngepos di Kementerian ESDM.

“Ajakin aja nonton konser,” kataku. Tini kemudian mengetik pesan balasan.

Awalnya Ayu nggak bersedia. Tapi setelah kubujuk sedikit, mereka berdua (Ayu bareng Syailendra, pacarnya) akhirnya mau juga ikut konser Iwan Fals.

Singkat kata, kami berangkat bareng ke Kemayoran. Di perjalanan, kami melihat konvoi motor dengan bendera besar-besar bertuliskan “OI, Orang Indonesia”. Aku amat deg-degan, antara senang dan bersemangat. Ketika tiba di depan arena PRJ, ratusan anak muda aneka rupa dengan pakaian hitam bertuliskan lirik lagu Iwan Fals sudah mengular.

Hari itu, Iwan Fals main di panggung utama. Saat kami masuk ke arena konser, ribuan penggemar Iwan Fals sudah berkerumun dan berdesak-desakkan merapat ke bibir panggung. Awalnya, Ayu dan Lendra tak bersedia masuk ke arena panggung utama. Lagi-lagi aku membujuk mereka. Mereka pun bersedia masuk. Kami berdesak-desakan dengan ribuan manusia dengan aneka aroma menyengat hidung. Bau matahari, bau keringat hingga parfum murahan. Kami sempat menemukan posisi agak enak, sedikit lapang. Tidak terlalu dekat dengan panggung, tapi juga tidak di belakang amat. Pengisi acara terlihat kecil saja.

Aku menyesal tidak membawa kacamata.

Sebelum Iwan Fals manggung, ada dua band pembuka, yang tidak kutahu namanya, tampil. Berkali-kali penggemar Iwan Fals yang sudah tak sabar meminta band ini turun panggung. Kami masih berkumpul berempat ketika itu. Saat dua band ini selesai tampil, dorongan penonton dari belakang semakin kuat.

“Mau ke depan?” kataku pada Tini. Dia mengangguk.

Aku menawarkan hal yang sama pada Ayu-Lendra. Mereka menggeleng.

Kami akhirnya terpisah. Aku dan Tini merangsek ke depan mengikuti arus manusia yang terus mendesak dari belakang mendekat ke pagar pembatas panggung. Aroma minuman keras meruap dari mulut orang-orang di sekitar kami. Setelah bersusah payah, kami akhirnya sampai di baris ketiga pagar pembatas panggung. Tak ada ruang gerak lega, kaki berpijak sekenanya. Di kiri kanan depan belakang sudah sesak dengan sesama penggemar Iwan Fals, yang lagi-lagi datang dengan aneka aroma.

“Berdua saja, Kak?” tiba-tiba seseorang bertanya kepada kami. Anak muda yang usianya aku perkirakan lebih muda dari kami.

Aku mengangguk.

“Hati-hati dijaga kakaknya,” kata anak muda ini menunjuk pada Tini, satu-satunya perempuan di sekitar kerumunan kami. Aku kembali mengangguk. Kami sempat berbasa-basi sejenak. Dia bersama rombongan Cengkareng. “Kami dari Palmerah,” kataku menjawab pertanyaannya. Dia sempat menawarkan minuman botolan, tetapi dengan sopan kami menolaknya.

Sebelum konser dimulai, tanda-tanda kericuhan sebenarnya sudah terasa. Di sisi kanan tempat kami berdiri, beberapa kali penonton berkelahi. Iwan Fals sempat menunda waktu tampil. Pembawa acara sempat turun tangan. Dia mengancam Iwan Fals tak akan main jika penonton tetap berkelahi. Diancam seperti itu, kericuhan sempat mereda.

Iwan Fals pun mewanti-wanti soal sikap penontonya.

“Kita tidak bisa membebankan tanggung jawab keamanan hanya pada petugas yang jumlahnya sedikit. Keamanan menjadi tanggung jawab kita bersama. Saya kemarin mendengar ada yang sobek dan tak mau itu terjadi kembali. Jika nanti ada keributan, saya akan menghentikan konser. Setujuuu?” Pertanyaan ini dijawab dengan koor “Setujuuuu!!” oleh penggemar Iwan Fals.

Iwan Fals memulai konsernya dengan lagu, Satu Nusa Satu Bangsa tanpa iringan alat musik. Selesai lagu pembuka, dia sempat membenahi posisi harmonika di kepala yang terpasang terbalik. Petikan gitar kemudian menjadi awal lagu pertamanya malam itu, “Belum Ada Judul.” Ini salah satu lagu favoritku. Aku ikut berdendang, berteriak keras-keras dengan nada sumbang. Yang penting senang. Semua orang bernyanyi dan bergoyang. Himpitan orang makin terasa kuat. Tubuh kami semakin bergerak ke arah kiri mengikuti arus. Dorongan orang dari depan dan belakang semakin terasa namun bisa kuatasi. Aku melingkarkan tanganku ke Tini agar dia tidak terkena senggolan orang-orang yang bergoyang tanpa melihat. Kami bergoyang, bergoyang dna tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar senang.

Lagu pertama sukses berlangsung tanpa hambatan. Aku kegirangan. Tetapi hawa terasa panas, campuran keringat manusia dan minimnya oksigen di sekitar tempat kami berdiri. Nafas sebenarnya sudah mulai tersengal. Tapi itu tertimbun dengan euphoria yang meledak-ledak. Semprotan air dari petugas lumayan membuat adem kepala, meskipun risikonya baju kami basah kuyup. Udara terasa lebih segar.

Pada lagu kedua, “Liburan Kaum Kusam”, tanda-tanda kerusuhan kembali terasa. Dorongan semakin kuat. Beberapa kali kakiku terinjak orang yang bergerak mengikuti irama lagu. Iwan Fals sempat menghentikan lagu keduanya ketika terjadi perkelahian di sisi kanan kami. Aku menjinjitkan kaki, memantau keadaan. “Agak jauh,” pikirku. Aku menguatkan lingkaran tanganku pada badan Tini.

Pada akhir lagu kedua, atau menjelang lagu ketiga itulah bencana akhirnya datang. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, kericuhan besar merangsek ke arahkami. Secara bergelombang orang-orang di sisi kiriku berhamburan.

Druaaaaaak!!! Tiba-tiba, belasan orang di samping kiriku jatuh dan menimpa kami berdua. Aku tak cukup sigap tanpa sempat memasang kuda-kuda. Pegangan tanganku pada tubuh Tini terlepas dan kami berdua terjebak di posisi paling bawah. Belasan orang sudah menindih bagian tubuh kami berdua dari pinggul ke bawah. Aku hanya bisa menggerakan badan dari pinggang ke atas, itupun dengan pergerakan seadanya.

Aku panik. Tini sudah berteriak-teriak kesakitan. Kakiku mati rasa, karena diinjak-injak belasan orang yang menyelamatkan diri. Belasan orang berlarian di atas tubuh kami menyelamatkan diri. Aku menghalau orang-orang agar mereka tak menginjak tubuh kami berdua. Mata kaki kiri bagian dalam sudah menggesek aspal. Aku melihat Tini, dia satu-satunya perempuan, yang terjebak dalam kerumunan. Wajahnya meringis meskipun tidak sampai menangis. Aku tak bisa bergerak. Aku terus berteriak-teriak menghalau orang-orang.

Aku melihat sekeliling, di belakangku sudah tak ada kerumunan padat. Gantinya, ada sejumlah orang mulai berkelahi. Mereka saling menerjang satu sama lain. Tak peduli siapa kawan, siapa lawan. Kembali aku berteriak-teriak, mengingatkan ada perempuan yang tertimpa belasan tubuh manusia. Aku khawatir terjangan itu menghantam kepala kami dari ruang kosong yang ada di belakang.

Aku terus berteriak-teriak berusaha agar tidak terjadi apa-apa pada kami, terutama Tini. Aku ingat kakinya pernah patah tebu dan mesti dioperasi dua kali. Memikirkan ini aku jadi semakin cemas. Aku takut seandainya kaki bocah ini kenapa-kenapa lagi. Sebab aku yang mengajaknya datang ke konser ini. Dalam sekian waktu kejadian ini, entah mengapa aku berpikir bagaimana menjelaskan kejadian ini seandainya terjadi apa-apa terhadap kami berdua.

Aku berusaha menarik kakiku, agar bisa menarik Tini dari kerumunan. Namun, menggeser kaki yang ditimpa belasan tubuh bukan pekerjaan mudah. Setengah kakiku ditindih belasan manusia. Kupaksa menarik kakiku. Perih, bergesekan dengan aspal. Aku sudah pasrah, jangan sampai mati saja malam itu, patah kaki tak apa. Sandal jepit yang kupakai entah terlepas di mana. Kakiku serasa mati rasa. Ditimpa belasan tubuh manusia, nafasku semakin sesak. Tiba-tiba aku teringat, kejadian konser Sheila on 7 yang pernah memakan korban jiwa. Apakah kami bakal menjadi korban sebuah konser?

Aku berusaha agar tak mati konyol dan menjadi bahan berita. Aku kembali menoleh ke arah Tini, wajahnya mengerang kesakitan. Aku kembali berteriak-teriak agar orang yang berdiri menghalau orang-orang yang menimpa tubuh kami. Suaraku habis.

Aku lupa berapa lama kami terjebak dalam kerusuhan. Mungkin dua menit, mungkin tiga menit, aku tak ingat. Namun berapa menitpun itu, kerusuhan ini terasa lama sekali.

Pada satu titik, beberapa orang di atasku mulai bisa bangun. Seorang lelaki di atas tubuh Tini berteriak kalau ada perempuan yang tergencet badannya. Dia berteriak-teriak agar Tini dibantu bangun. Syukurlah, teriakan ini didengar orang-orang. Dengan susah payah, kami akhirnya bisa bangkit dan terlepas dari kerusuhan. Pikiranku saat ini, bagaimana kami bisa keluar dari kerumunan. Orang-orang di belakang kami masih berkelahi entah sebab apa.

Aku mendorong Tini ke depan, mengangkatnya ke pagar depan panggung. Seorang petugas membantu mengangkatnya. Aku menyusul kemudian. Tanpa sempat menoleh, kami diminta segera keluar melalui pintu di samping panggung.

“Lo nggak apa-apa?” aku bertanya pada Tini. Dia menggeleng. Kami sudah tak lagi memakai sandal, hilang saat tertimpa tubuh belasan manusia.

“Sandal gue harganya mahal,” Tini menggerutu. Dia menyebut harga dan aku terkejut. “Nanti setelah bubaran kita cari,” usulku. Dia menolak.

Aku teringat kembali dengan kaki Tini yang sempat patah.

“Kaki nggak kenapa-napa kan?” Aku memastikan sekali lagi. Dia kembali menggeleng. Aku mengecek seluruh tubuhku. Mata kakiku lecet, bekas gesekan dengan aspal. Celana jinsku robek lurus di bagian lutut. Entah kesabet apa, mungkin ada seseorang yang mencoba menyabetku dengan kunci. Robekan di jins bukan robek karena bergesekan dengan aspal. Aku mengintip ke dalam, tempurung kakiku luka mengeluarkan darah.

Dengan tertatih-tatih kami berjalan ke posko kesehatan. Di sana, aku mendapati sejumlah orang mengalami luka-luka. Bahkan aku melihat ada seseorang yang bahunya luka mengeluarkan banyak darah dan sedang dijahit. “Sepertinya disabet dengan kunci,” kataku pada Tini. Kakiku akhirnya dibersihkan dengan alkohol dan obat merah oleh petugas.

Kami keluar pagar, tak peduli lagi dengan konser. Iwan Fals masih meneruskan lagunya. Artinya, perkelahian mungkin sudah berhenti.

“Gue sudah tidak bisa nafas tadi,” kata Tini. Aku menyahut, “Gue juga.”

Dengan kaki masih gemetar, kami mampir sebentar ke Indomaret, kemudian membeli minuman botol. Tiba-tiba aku teringat dengan Ayu-Lendra. Pesan masuk ke telepon Tini. “Ponsel Lendra kecopetan,” kata Tini. Aku merasa bersalah, sebab akulah yang mengajak mereka datang ke konser ini. Ayu bilang, sandalnya juga raib entah ke mana.

Mahal sekali harga sebuah konser malam itu.

Di luar semua itu, kami lega. Kami mendapat pengalaman baru. Sebab, inilah kali pertama aku dan Tini datang ke Pekan Raya Jakarta. Ini pula pertama kali kami menonton konser Iwan Fals. Sejenak kemudian aku teringat, kami hendak berniat menonton konser Bon Jovi di Gelora Bung Karno pada September nanti.

“Kapok nonton konser?” tanyaku pada Tini.

Dia menggeleng, kemudian kami tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian ini.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Grosir Fitnes said, on Juli 6, 2015 at 4:27

    coba ada yang VIP kan enak tanpa berdesakan.. 🙂 biasa yang nonton konser kan biasanya emang ada juga yang pengen tawuran dan jago jagoan beraninya keroyokan, disuruh duel satu lawan satu malah mlengos. 😛 lucu negeri ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: