Agus Lenyot

The Sixth Sense Review: Drama Psikologi yang Mengejutkan

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Februari 22, 2016
Cole dan Malcolm

Cole dan Malcolm

Film thriler psikologis, dialog yang intens dan mendalam serta gagasan yang eksekusi dengan brilian. Diakhiri dengan kejutan yang menakjubkan.

Cole Sear (Haley Joel Osment), 8 tahun, adalah bocah yang menderita. Kemampuannya melihat sesuatu yang gaib, membuat hidupnya tersiksa. Berkali-kali sang bocah, yang tinggal dengan ibunya Lynn Sear (Toni Collette), didatangi arwah penasaran. Datang kapanpun mereka mau tanpa bisa Cole hindari. Lynn pun frustasi menghadapi kelakuan sang putra semata wayang.

Selanjutnya kita tahu, ada hantu gentayangan yang menakut-nakuti seorang anak kecil. Kelakuan para arwah ini menakutkan Cole. Dia menciptakan benteng berkain merah, di dalam kamarnya. Akibatnya bocah cerdas ini menjadi introvert, digelayuti ketakutan setiap saat, dan penyendiri. Seorang bocah aneh yang sepanjang harinya berwajah muram. Modal yang cukup untuk menjadi film horor.

Sesaat setelah musim gugur, dia bertemu dengan Malcolm Crowe (Bruce Willis), seorang psikolog yang dirundung rasa bersalah. Beberapa bulan sebelumnya, Malcolm baru saja diganjar penghargaan atas dedikasinya sebagai seorang psikolog anak. Dia pun merayakan anugerah ini bersama sang istri, Anna Crowe (Olivia Williams). Pekerjaannya, membuat sang istri merasa dinomorduakan.

Di tengah kebahagiaan itu, seseorang dari masa lalunya mendatanginya. Sang pasien, Vincent Gray (Donnie Wahlberg), menggugat Malcolm karena gagal karena merawatnya dengan cara yang salah. “Do you know why you’re afraid when you’re alone? I do. I do,” kata Vincent. Dengan tatapan nanar, Vincent memandang Malcolm kemudian meletupkan pistolnya ke perut psikolognya itu. Dia lalu memilih bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.

Rasa bersalah inilah yang membawa Malcolm bersua dengan Cole, bocah penyendiri. Keduanya terlibat percakapan yang intens. Cole yang setiap hari dirundung ketakutan, gelisah dan tak tahu harus bercerita kepada siapa. Apalagi dia tak bisa bercerita kepada ibunya yang menganggap perilakunya menjengkelkan. Cole pun mulanya tak bisa percaya pada Malcolm.

Malcolm pun mengalami permasalahan yang tak kalah pelik. Sang istri, yang merasa dinomorduakan, mulai mengacuhkan dirinya. Malcolm membuntuti kegiatan istrinya sampai dia Anna berselingkuh dengan rekan kerjanya. Pernah suatu ketika mereka makan malam di restoran, namun sang istri pergi meninggalkan dirinya lebih dulu.

Komunikasi antara dua orang ini, yang kesenjangan usia seperti ayah dan anak, berlangsung intens dan mendalam. Duet Haley Joel Osment dan Bruce Willis berakting dengan sangat brilian. Haley sukses memerankan seorang bocah murung dengan mimik wajah dan mata berkaca-kaca yang membuat trenyuh sepanjang film. Bruce Willis, tampil tak kalah ciamik sebagai seorang lelaki dewasa yang frustasi.

Suatu ketika, Cole berkata kepada Malcolm, “I’m ready to communicate with you now.” Berceritalah dia soal siksaan batin yang dia alami sepanjang hidupnya. “I see dead people,” kata Cole berbisik. Mulanya Malcolm tak percaya. Namun dia kemudian meminta Cole berbicara kepada para hantu itu, salah satunya seorang anak perempuan yang dibunuh, apa yang ingin Cole seharusnya lakukan.

Cole dan Malcolm kemudian mendatangi pemakaman bocah perempuan ini. Berbekal pesan dari arwah itu, Cole menyerahkan sebuah rekaman video kepada si ayah perempuan. Akhirnya, kita tahu anak perempuan itu diracun oleh ibu tirinya. Pelan-pelan misteri mulai terkuak, kenapa hantu itu mengganggu Cole, inti dari cerita film berdurasi 107 menit ini.

The Sixth Sense disutradarai oleh M. Night Shyamalan, yang juga sutradara After Earth dan The Last Air Bender. Dia juga menyutradarainya Unbreakeable, yang juga dibintangi oleh Bruce Willis. Meskipun alur film ini terkesan lambat, namun saya berhasil dikejutkan oleh para hantu yang muncul nggak pecicilan. Kehadiran mereka terasa tak berlebihan namun mampu memicu andrenalin (ya, iyalah), tanpa ada tendensi menakuti penonton.

The Sixth Sense adalah karya yang luar biasa. Gagasan yang sebenarnya mungkin dipikirkan banyak orang namun dieksekusi dengan sangat cerdas oleh Shyamalan, yang sempat muncul di pertengahan film sebagai seorang dokter. Dengan ide yang keren, pemeran yang mumpuni, tak heran film ini dinominasikan meraih Oscar untuk enam kategori, termasuk film dan sutradara terbaik.

Jika ada pemilihan film thriller terbaik, tak lengkap rasanya tak memasukkan film ini ke dalam daftar. Film ini layak disejajarkan dengan Se7en, The Fight Club dan Gone Girl ataupun Memento dan Inception. Hebatnya ketika film ini dirilis, sang sutradara baru berusia 29 tahun. Sayang setelah itu, Night Shyamalan tak lagi menghasilkan karya sespektakuler film ini. Dia gagal melewati batas yang telah dia ciptakan sendiri.

Di ujung cerita, Cole pun berterus terang kepada ibunya, mengapa dia berperilaku aneh. Bagaimana dia didatangi arwah neneknya yang memendam perasaan bersalah pada sang ibu. Adegan ‘pengakuan dosa’ Cole kepada ibunya inilah rentan menguras air mata penonton.
Sekali lagi, Haley Joel Osment di film ini adalah aktor yang menjanjikan. Haley, yang juga bermain sebagai anak Forest Gump (1994), tampil dengan amat meyakinkan. Atas perannya ini, Haley sempat dinominasikan sebagai aktor pendukung terbaik di ajang Golden Globe 2000.

Tapi daya tarik terbesar film ini adalah akhir yang brilian ketika Malcolm pulang dan bertemu istrinya. Kita tahu, mengapa Malcolm menemani Cole bercerita tentang hantu-hantunya. Saya hanya geleng-geleng kepala, “Anying, endingnya keren banget.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: