Agus Lenyot

Dua Film tentang Jurnalisme

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Maret 14, 2016

Kill the Messenger

Keduanya berdasarkan kisah nyata. Menyoroti bagaimana jurnalisme investigasi bekerja.

Saya menonton dua film bertema jurnalistik beberapa waktu yang lalu. Selain Kill the Messenger, film lainnya adalah Spotligth yang meraih Piala Oscar. Spotlight tentu saja bagus, meskipun seharusnya tak menang Academy Awards sebagai film terbaik 2015. Ada film lain yang lebih layak memenangkan Oscar: The Revenant.

Sudahlah.

Saya ingin membahas dua film ini, karena erat dengan pekerjaan saya saat ini.

Jurnalisme investigasi adalah pekerjaan yang tidak selamanya menyenangkan. Setidaknya bagi Gary Webb, seorang jurnalis di media San Jose Mercury News. Suatu ketika dia mewawancarai seorang pengedar narkoba. Di tengah tanya jawab, segerombolan polisi menggerebek mereka. Hasilnya? Webb mendapatkan reportase yang amat basah.

Webb tidak sepakat dengan perlakuan hukum yang menyita asset si tersangka pengedar narkotika karena belum ada putusan bersalah. Ada perdebatan antara Webb dengan editor karena menghilangkan paragraf paripurna.

Dari sinilah persoalan dimulai. Beritanya dibaca seorang perempuan, kekasih bandar narkotika yang sedang menjalani proses peradilan. Si gadis seksi, Coral Baca menyediakan satu informasi yang amat diimpikan semua jurnalis (investigasi): keterlibatan jaksa federal dalam sindikat perdagangan narkotika di Amerika Serikat. Di awal film, Gary Webb sempat mengatakan, “Orang jahat lebih jujur ketimbang orang baik.”

Proses pengejaran dilakukan Webb. Dia bertemu dengan banyak sumber, masuk ke penjara hingga datang ke tempat penyelundupan narkotika. Webb membangun hipotesis, ada keterlibatan CIA dalam perdagangan narkotika ini. Lembaga intelejen Amerika Serikat itu berkepentingan melawan komunis. Karena itu mereka membantu tentara pemberontak di Nikaragua dengan mengirimkan senjata. Kira-kira begitu gambaran besarnya.

Sebagai sebuah film jurnalistik, Kill the Messenger adalah film yang menyenangkan. Tempo yang dibangun amat cepat dan menghentak. Cuma sang sutradara, Michael Cuesta kerap tergesa-gesa membangun alur. Saking terburu-burunya, saya merasa sering kehilangan momentum untuk menikmati proses jurnalistik yang dikerjakan Webb. Ada sesuatu yang terlewat, sesuatu yang hilang tentang kerja seorang jurnalis. Gaya menghentak ini mengingatkan saya dengan duo The Washington Post dalam All The President’s Men. Bedanya, Webb seorang diri.

Kesendirian inilah yang justru menjadi persoalan Webb kelak. Investigasi dalam kerja jurnalistik bukan pekerjaan sehari selesai, tidak cuma menampung ludah narasumber. Butuh etos kerja, daya tahan, sekaligus militansi tanpa batas. Webb, tentu saja memiliki itu semua. Setidaknya yang tergambar di film ini. Tetapi sekali lagi, dia mengerjakan itu sendirian. Pada titik ini, saya teringat dengan film Spotlight.

Sebentar, kita melipir dulu ke Spotlight.

Spotlight adalah nama desk investigasi di Boston Globe. Tim ini, terdiri dari satu editor dan tiga reporter, memiliki kemewahan menyelidiki sebuah peristiwa dalam jangka waktu berbulan-bulan. Suatu ketika mereka kedatangan editor baru. Sang editor, meminta tim ini menyelidiki pelecehan seksual di lingkungan gereja.

Selebihnya nonton sendirilah film ini. Bagus dan menyentuh. Setelah berpuluh tahun rujukan film jurnalistik adalah All The President’s Men, kini ada Spotlight yang bisa menjadi acuan. Spotlight menarik, karena dia fokus pada aspek jurnalistik, bukan pada perilaku wartawan. Dia memotret perilaku, sekaligus etos. Spotlight bercerita tentang jurnalisme itu sendiri, tentang dirinya sendiri. Dia tidak bercerita tentang apapun di luar itu. Karena itulah, mungkin, film ini menang Oscar.

Balik lagi ke Kill the Messenger.

Hipotesis Webb nyaris sesuai dengan apa yang dia perkirakan. Namun ada satu hal kunci yang sepertinya luput dari Webb. Tak ada satupun pejabat CIA yang membenarkan soal keterlibatan mereka dalam transaksi narkoba-senjata dengan pemberontak di Nikaragua. Bahkan satu sumber anonim sekalipun, tidak.

Lalu bagaimana? Satu-satunya yang menguatkan dugaan Webb adalah percakapannya dengan seorang pejabat Gedung Putih. Webb, yang pernah meraih Pulitzer pada 1989, bersikukuh dengan keputusannya dengan menuliskan tiga rangkaian artikel berjudul Dark Alliance pada 1996. Tulisannya disambut dengan pujian sekaligus kritik. Editornya di San Jose Mercury News mulanya memuji karyanya. Tepuk tangan menyambut Webb saat masuk ke ruang redaksi.

Pada saat yang sama, media besar yang kebobolan menguliti proses jurnalistik Webb. The New York Times, The Washington Post hingga LA Times. Banyak orang meragukan validitas datanya. Jeff Leen, asisten editor desk investigasi di The Washington Post menyebut film murni fiksi. Sedangkan tulisan Webb dia sebut, “Overblown claims and undernourished reporting.”

Seorang jurnalis yang mengikuti perang dan perdagangan obat terlarang, Eliane Shannon juga tak meyakini reportase Webb sebagai fakta sesungguhnya. “Even sources who are routinely skeptical of the official line on the contras agree that the idea that the agency was behind drug smuggling by the contras is fantasy,” kata Shannon.

Setahun setelah tulisan ini terbit, redaksi Mercury News menerbitkan editorial yang menghantam psikologis Webb sebagai seorang jurnalis. Mercury menyatakan, karya jurnalistik Webb tak memiliki cukup bukti untuk membuktikan keterlibatan CIA dalam penyelundupan narkotika. Webb memilih keluar dari pekerjaannya dan menerbitkan buku berjudul Dark Alliance: The CIA, the Contras and the Crack Cocaine Explosion. Tidak ada yang lebih berat dari seorang jurnalis selain dituduh berbohong atas kerja jurnalistik mereka. Apakah artikel yang ditulis Webb adalah fakta atau fiksi? Entahlah. Yang pasti, CIA mengakui membekingi pemberontakan di Nikaragua meskipun menyangkal soal transaksi narkotika dan senjata.

Dalam jurnalisme, fakta memang suci. Tapi bisakah jurnalisme menghadirkan fakta secara utuh untuk peristiwa yang terjadi puluhan silam? Bukankah selalu terbuka kemungkinan ada tafsir dari mereka yang bahkan mengalami sebuah peristiwa?Jurnalisme tak akan sepenuhnya menghadirkan kebenaran. Dia hanya akan mendekati kebenaran.

Jurnalisme adalah upaya mencari kebenaran yang tak akan pernah selesai.

Iklan
Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: