Agus Lenyot

Jangan Nonton Batman v Superman Sebelum Baca Ini!

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Maret 26, 2016

batman-v-superman

Ekspektasi berlebihan menimbulkan kekecewaan. Film ini menyumbang salah satunya.

Bruce Wayne (Ben Affleck) memacu mobilnya dengan lihai, meliak-liuk di sela jalanan Kota Gotham yang terimbas perang. Nun jauh di udara sana Superman (Henry Cavil) dan Jenderal Zod sedang berkelahi dengan amat hebat. Pertarungan ini merupakan lanjutan film Man of Steel.

Perkelahian ini memakan banyak korban. Seorang karyawannya gagal terselamatkan meskipun sempat dia telepon. Kemudian seorang laki-laki kehilangan dua kakinya meskipun juga sempat ditolong. Yang paling heroik, Wayne menyelamatkan seorang gadis kecil dari reruntuhan bangunan. Pertarungan Superman vs Zod menghancurkan Wayne Enterprise, simbol kekayaan keluarganya.

Wayne pantas kesal. Pahlawan sih pahlawan tapi ya mbok jangan menghancurkan properti orang dong! Bikin mati banyak warga Metropolis pula. Nah, gaya kepahlawanan Superman inilah yang membuat Wayne mangkel. Meskipun seharusnya Superman tinggal bilang sama Wayne, “Memangnya gedung sebesar itu nggak lo asuransikan, bro?”

Balik lagi ke film.

Kalau kamu manusia biasa, jangan coba-coba melakukan adegan model yang Wayne lakukan. Menerjang kota yang runtuh tanpa pelindung apapun. Ingat, kamu bukan super hero. Wayne alias Batman boleh. Sebab dia adalah jagoan di film ini. Wayne tentu saja nggak akan cedera, apalagi mati. Film baru saja dimulai, masa tiba-tiba langsung selesai karena sang jagoan mati?

Sebenarnya, adegan pembuka film ini amat menjanjikan.

Tapi kekerenan ini nggak berlanjut pada adegan selama nyaris 150 menit. Sisanya, saya terkantuk-kantuk karena pertarungan yang kelewat lebay dan cerita yang seakan-akan dibuat rumit tapi nggak memberikan sensasi nendang. Terlalu banyak masalah yang ingin dibangun, akhirnya malah jadi bingung sendiri. Aduh, maaf ya.

Spoiler dikit boleh ya untuk jalan cerita.

Suatu ketika, seorang reporter Lois Lane (Amy Adams) menyelidiki gembong teroris di (aduh lupa), pokoknya di suatu gurunlah. Di tengah wawancara, ternyata si kameraman ketahuan bawa alat penyadap. Si teroris menuduh dia CIA, lalu ditembaklah si kameramen ini. Mati.

Nah, si reporter perempuan ditawan sebentar sama si gembong teroris. Nah dia sempat bilang gini, “I am not a lady, I’m a journalist.” Kutipannya sih keren.

Di tengah todongan pisau, datang deh manusia super. Wuuuuuus, datang aja dari langit. Si reporter yang tahu kekasihnya datang, dengan sedikit kode dia merenggangkan tubuhnya dari si gembong teroris dan jdaaaar! Si gembong teroris terjengkang ke belakang.

Kemudian kita tahu, sehari-hari si pahlawan super ini bernama Clark Kent dan bekerja sebagai wartawan online desk metropolitan di Daily Planet.

Kota tempat tinggal Superman dan Batman bertetangga. Nah, si Clark Kent ini kesel dengan gaya sok jago Batman dalam menangani kejahatan. Kok ya gitu cara menghukum penjahat? Masa setelah dihajar habis-habisan, para penjahat itu dikasih stempel besi panas berlogo kelelawar? Macam sapi yang mau dikirim ke tempat pejagalan hewan saja. Huh!

Bagian lain film ini adalah si Batman, yang banyak dipakai sudut pandangnya oleh sang sutradara. Si jomblo ini cemas melihat ulah Superman menjadi pahlawan Kota Metropolis. Apalagi propertinya sudah dirusak. Terus, nggak ada permintaan maaf lagi. Bahaya nih buat masa depan kota jika gayanya ugal-ugalan.

Sebenarnya saya sih menduga, Batman cemburu sama Clark Kent. Selain superhero, kan Superman punya pacar. Lengkap! Biasa, kesirikan orang jomblo! Si Wayne, kagak jelas siapa pacarnya. Padahal tajir.

Tapi beneran, pokok persoalan film ini adalah kekesalan dua pahlawan super. Manusiawi yak? Selain itu, masa ada dua jagoan di satu film? Ya nggak mungkinlah. Mulailah si sutradara membangun asumsi penonton, Superman bisa menjadi ancaman buat Kota Metropolis. Keduanya harus dibuat berhadap-hadapan satu sama lain. Berhadap-hadapan ya, bukan menjadi musuh, sesuai judul dan poster film.

Dan Batman tidak sendiri. Kebetulan seorang senator, June Finch juga terganggu dengan kelakuan Superman. Dari sini, pelan-pelan konstruksi cerita mulai terbangun. Si senator, didekati pengusaha muda, Alexander “Lex” Luthor (Jesse Eisenberg). Dia meminta izin mengimpor batu hijau, material dari Planet Krypton.

Nah, penonton pasti bisa menebak kalau dialah sebenarnya penjahat sesungguhnya di film ini. Lex Luthor ini dibuat sok lucu, ceria dan mungkin sedikit kejam. Tapi melihat humor dan cara dia ketawa (khususnya potongan rambutnya), saya kok melihat dia berusaha menjadi Joker ya? Usaha si Jesse Eisenberg, yang memerankan Lex, menjadi Joker ala Heath Ledger gagal total.

Tapi, bentar-bentar. Kok rasanya ada yang aneh ya? Lex Luthor kan aslinya botak, terus kenapa tiba-tiba dia menjadi gondrong? Apakah ini konspirasi agensi iklan penumbuh rambut?

Sebenarnya inti film ini adalah ada dua pahlawan yang salah paham. Salah paham ini membuat ini membuat mereka berantem deh satu sama lain. Berantemnya sih seru, dibuat dengan nada gelap tapi durasinya kelamaan sehingga malah menjadi membosankan. Saya jadi capek nontonnya. Kok nggak mati aja sih salah satu?

Belakangan, mereka jadi akur. Tahu kenapa? Karena mereka punya nyokap yang namanya sama! Sodara-sodara, dua orang berseteru jadi akur karena nama ibunya sama? Sinetron macam apa ini? Apakah mereka pahlawan super yang tertukar?

Nah, kira-kira begitu deh inti cerita film Batman v Superman.

Eh bentar, ada satu yang ketinggalan. Gal Gadot alias Wonder Woman (Diana Prince). Nggak klop dong kalau Batman tanpa Wonder Woman. Mereka bertemu dalam sebuah pesta, yang di sana juga ada Clark Kent. Pesta siapakah itu? Kok ada begitu banyak orang penting di sana?

Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Pesta dibikin agar Gal Gadot bisa masuk ke jalan cerita. Biar dia nongol di film. Padahal, peran si Gal Gadot juga nggak penting-penting amat. Kalau dia dihilangkan, keseluruhan film juga nggak ngaruh-ngaruh banget.

Tetapi kan DC Comic mau bikin film khusus Wonder Woman nanti. Hitung-hitung teaser. Jadi, sekalian jualanlah. Ya sudah, nggak apa-apa.

Secara keseluruhan, film ini amat jauh dari harapan. Saya sudah siap-siap membandingkan karya Zack Snyder ini dengan trilogi Batman-nya Christoper Nolan. Nyatanya, harapan saya ketinggian. Saya justru khawatir, setiap sutradara film Batman bakal selalu dibandingkan dengan Batmannya Nolan. Dan (mungkin) tidak bakal mencapai apa yang dibuat Nolan.

Film ini terselamatkan oleh akting Ben Affleck, yang nggak kalah sadis dengan Christian Bale sebagai Batman. Namun, saya kecewa motor Batman yang super keren dengan ban yang gahar nggak nongol di film ini. Ada sih mobilnya si Bruce Wayne yang super cepat, tapi kesannya kurang sophisticated untuk generasi milenals macam saya.

Untung film ini diselamatkan sama musik Hans Zimmer yang memang selalu keren. Atau karena tata suara di bioskop yang menggunakan perangkat terbaru? Musik dan dentumannya, menggelegar. Enak, lumayan buat menghilangkan kantuk.

Begitu film mendekati babak akhir, dengan mulai matinya sejumlah tokoh, saya menarik nafas lega. Apalagi saat lampu bioskop mulai menyala. Mata saya kerjap-kerjap.

Fiuuuh, film ini selesai juga.

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Isma said, on Maret 26, 2016 at 4:27

    setujuuuu.. bikin bosan abis apalagi di sejam pertama. Apalagi endingnya malah jadi film Bangkit dari Kubur gitu. Yuk mari.. wkwk

  2. SIge ( sI Gede ) said, on Juni 11, 2016 at 4:27

    hi semeton..
    woow suka betmennya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: