Agus Lenyot

Resensi Dangal: Mimpi-Mimpi Sang Ayah

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 3, 2017

dangal

Di pertandingan terpenting dalam hidupnya, sang ayah justru tak hadir untuk menyemangatinya. Hari itu, Geeta Phogat mesti berhadapan dengan pegulat Australia dalam Commonwealth Game 2010. Lalu kita tahu apa hasilnya jika pertandingan sepenting itu tak dihadiri oleh sosok yang sangat kita harapkan kehadirannya.

Itulah adegan di babak-babak akhir film Dangal, film besutan sutradara Nitesh Tiwari. Sebuah film yang menguras emosi penonton, yang mampu mengocok perut sekaligus membuat penonton mewek tersedu sedan di sepanjang cerita. Mohon siapkan tisu sebelum masuk ke bioskop. Saya penasaran menonton film ini karena skornya yang begitu tinggi di IMDB. Alasan lain, film ini dibintangi Amir Khan, yang sebelumnya tampil memukau dalam film PK.

Film Dangal terinspirasi dari kisah nyata Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat amatir dari Haryana, sebuah kampung kecil di India. Dia meraih medali emas untuk kejuaraan nasional namun mesti memupus ambisinya menjadi juara internasional akibat ketidakbecusan pemerintah. Karirnya berakhir sebagai pegawai kantoran. Tekadnya tak pernah padam, keinginan mempersembahkan emas untuk negaranya tak pernah hilang dari kepalanya.

Seperti budaya India yang amat patriaki, dia berharap memiliki anak laki-laki untuk meneruskan mimpinya. Berkali-kali dia dan istrinya mencoba berbagai resep dan mitos agar melahirkan seorang anak laki-laki. Tak ada satupun yang kesampaian. Istrinya justru justru memberinya empat anak perempuan. Mahavir mengubur mimpinya dalam-dalam.

Harapannya kembali bersemi saat dua putri tertuanya menghajar sejumlah anak laki-laki. Dua putrinya membuat babak belur laki-laki yang mengejeknya. Bukannya marah, kejadian ini membuat hasrat pegulat di tubuh Mahavir kembali bergelegak. Dia merasa, darah gulat mengalir di tubuh dua putrinya. “From now on, they will only wrestle,” katanya.

Asa untuk ayah kadang-kadang menjadi neraka untuk dua putrinya. Mahavir berhenti dari pekerjaannya dan melatih putri kecilnya (diperankan dengan sangat apik oleh Zaira Wasim and Suhani Bhatnagar) menjadi seorang pegulat. Dia mewajibkan anaknya bangun jam lima pagi, mengajaknya berlari dan aneka latihan fisik yang amat tabu untuk perempuan India. Dia mengabaikan cemooh dari tetangganya dan memantapkan tekadnya menjadikan sang putri sebagai juara gulat.

Sebagai lawan tanding, dia mengajak keponakannya Omkar kecil (Ritwik Sahore) turut berlatih. Dari sudut pandang Omkar inilah film Dangal diceritakan. Saya tidak tahu apakah Omkar merupakan karakter fiktif atau nyata. Namun, karakter inilah yang berhasil mengocok perut saya sepanjang film.

Ekspektasi yang tinggi terhadap film terpenuhi berkat akting Amir Khan yang amat memukau. Totalitas perannya tak usah diragukan. Soal ini, saya teringat dengan Matthew McConaughey dalam Dallas Buyers Club, yang badan aslinya ideal menjadi kurus kering seperti pecandu narkoba yang terjangkit HIV.

Bedanya, Amir Khan tak membuat dirinya menjadi ceking. Di awal film Amir menjadi seorang Mahavir, pegulat yang ototnya berlekuk-lekuk layak seorang binaragawan. Di tengah film, ketika harus pensiun, dia menaikkan beratnya hingga 22 kilogram menjadi seorang bapak-bapak berperut buncit nan gempal. Fatima Sana Shaik yang memerankan Geeta dewasa juga tampil cemerlang.

Salah satu yang saya suka dari film Amir Khan adalah kritiknya terhadap nilai. Di film PK, dia mengkritik nilai-nilai agama. Kali ini, di tengah budaya patriakis India dia mendobrak tradisi perempuan India yang membuat perempuan terjebak dalam urusan domestik. Mahavir, atau Amir Khan percaya, mengabaikan tradisi ini. Dia yakin suatu ketika putrinya bakal membanggakan negara. “Bukan mereka yang bakal dipilih lelaki, tetapi mereka yang bakal memilih lelaki,” kata Mahavir.

Toh Bollywood tetap saja Bollywood. Dia datang dengan tarian-tarian yang kadang-kadang terlalu panjang dan sebenarnya bisa diperpendek. Di beberapa adegannya ada komentar-komentar minor soal perempuan. Misalnya, ketika Geeta kecil bertanding mengikuti kompetisi gulat amatir untuk pertama kali. Apa ya sebutan yang tepat untuk celetukan itu? Seksis? Mungkin. Dangal juga memperlihatkan ego seorang lelaki, seorang suami dan ayah, yang tak mau berkompromi terhadap anggota keluarga lainnya.

Meskipun berakhir bahagia, film ini membuat kesal betul bagaimana seorang bapak memaksakan mimpi-mimpinya, tanpa ada seorang pun yang berani melawan. Dia menyingkirkan apapun untuk memenuhi ambisinya. Namun yang patut dicatat, sejak awal sudah ada disklaimer bahwa ada adegan yang dilebih-lebihkan dan juga mungkin didramatisasi. Karenanya, mungkin bakal ada kesan simplifikasi di beberapa adegan.

Dangal merupakan salah satu film terbaik yang saya tonton sepanjang 2016 selain, misalnya The Nice Guys and Everybody Wants Some. Durasi selama 2 jam 44 menit, pun terlewati tanpa terasa. Di Indonesia, Dangal hanya diputar di bioskop Plaza Senayan dan Kelapa Gading. Buruan tonton deh!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: