Agus Lenyot

Menyimak Kiprah Wakil Rakyat Asal Bali

Posted in Bali, Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on April 20, 2013

gedung-dpr-mpr1

Tidak banyak politikus asal Bali yang menonjol di level nasional.

Aku bukan bermaksud melakukan kampanye hitam terhadap figur atau partai politik tertentu. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku lihat selama setahun terakhir di DPR. Kiprah politikus Bali memang rata-rata air. Menonjol tidak, tenggelam-tenggelam amat juga tidak. Apakah ini memang sesuai dengan karakter masyarakat Bali? Aku tidak bisa menebak dengan benar. Tetapi kebanyakan orang Bali memang lebih senang menarik diri dari persoalan daripada berkonfrontatif dengan lawan.

Pada Pemilu 2009, Bali kebagian 9 kursi. Jumlahnya ini tidak berubah karena sudah dikunci melalui Undang-Undang Pemilu. Pemilu lalu, PDI Perjuangan masih mendominasi dengan menyumbangkan empat wakil yakni I Wayan Koster, I Made Urip, Nyoman Dhamantra dan I Gusti Agung Rai Wirajaya. Dua kursi milik Golkar yakni Gde Sumarjaya Linggih alias Demer dan I Gusti Ketut Adhiputra. Dua kursi berikutnya jatah Demokrat yakni Gede Pasek Suardika dan I Wayan Sugiana. Sedangkan satu kursi tersisa milik Partai Gerindra yakni Agung Jelantik Senjaya. (more…)

Iklan

Tidak Merayakan Hari Galungan

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on Maret 26, 2013

Menurutku, tidak semua ajaran agama harus dipercayai dan dilaksanakan.

Besok Galungan. Simbol kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan). Hari raya, semua agama aku rasa, pasti didahului basa-basi dengan ucapan selamat merayakan, lengkap dengan embel-embel doa dan ucapan manis. Dulu disampaikan dengan kartu ucapan. Masih ada kesan romantis, tulus dan pengorbanan. Tapi teknologi mengubah semuanya.

Ucapan selamat hari raya disampaikan melalui pesan singkat, ketik teks lalu send all. Komodifikasi ini terus berkembang. Zaman Facebook, kita tinggal cari foto, ilustrasi dengan gambar penjor atau pura (paling sering sih Pura Danau Beratan), tag atau tandai kawan di Facebook. Beres. Di zaman Twitter, tinggal mention atau sebut kawan-kawan. Selemah-lemahnya iman, menurutku, adalah tinggal RT tweet menarik tentang ucapan hari raya. Simpel. Bermodalkan ibu jari.

Kini ada juga cara murah(an), broadcast pesan ucapan selamat hari raya lewat Blackberry. Beres. Aku sih merasa, mengucapkan selamat hari raya (Hindu saking banyaknya punya hari raya), bukan semacam doa yang tulus ikhlas, tetapi semacam ritual yang tak boleh dilewatkan. Aku, mungkin saja salah. (more…)

Memaknai Nyepi untuk Diri Sendiri

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on Maret 13, 2013

Kita lebih sering merayakan Nyepi untuk orang lain.

Setidaknya, itulah yang aku rasakan. Kita lebih sering merayakan Nyepi bukan untuk instropeksi diri, tetapi bagaimana agar kita terlihat-lihat seolah-olah di depan orang lain. Seolah-olah umat Hindu di Bali sepenuhnya taat pada agama. Seolah-olah perayaan Nyepi dilangsungkan dengan hikmat. Padahal, bisa jadi yang sebenarnya kita lebih banyak terpaksa dengan Nyepi.

Nyepi itu adalah pergantian tahun Caka, tahun penanggalan umat Hindu. Mirip dengan Imlek untuk orang Cina. Selisih tahun baru Caka (atau ada yang menulisnya Saka) adalah 78 tahun dengan tahun Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun baru lain yang identik dengan keramaian, Nyepi justru sebaliknya. Makanya, aku sebenarnya merasa kurang tepat jika Nyepi disebut hari raya. Raya, yang berarti besar, pasti diidentikan dengan keramaian, keriuhan, dan pesta pora. Nyepi, seperti kata dasarnya Sepi, Sipeng, justru momen untuk berkontemplasi.

Ada empat pantangan yang wajib dilakukan umat Hindu, disebut Catur Brata Penyepian. Pertama, Amati Geni yang artinya tidak menyalakan api. Kedua, Amati Karya yang artinya tidak bekerja. Ketiga, Amati Lelanguan tidak berfoya-foya. Terakhir adalah Amati Lelungan yang berarti dilarang bepergian. Di era modern, barangkali Catur Brata Penyepian ini perlu komodifikasi. Misalnya, apakah Twitteran dan internetan termasuk berfoya-foya. Atau, apakah menyalakan komputer termasuk melanggar Amati Geni. Ini bakalan menjadi panjang untuk diperdebatkan. (more…)

Antipluralisme dan Sinisme Rocket Rockers di Bali

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on September 27, 2012

Tulisan ini bukan tentang JIL atau Anti JIL. Tetapi tulisan ini adalah pilihan untuk hidup di tengah kebhinekaan.

Sinisme ini berawal dari Surat Terbuka untuk Rocket Rockers yang ditulis oleh Rudolh Dethu, mantan manajer band sejuta umat, Superman is Dead. Surat terbuka ini kemudian mendapat tanggapan dari manajer band yang bersangkutan. Balasan surat terbuka bisa dibaca sini. Ucay , sang biduan sudah menuliskan tanggapan atas tulisan Dethu dan bisa dibaca di blognya.

Ringkas tulisan Dethu, dia gelisah karena tulisan, Pluralisme? Injak Saja! yang menjadi jargon gerakan yang diikuti oleh Ucay, sag vokalis. Mereka yang pro keberagaman resah karena tulisan itu berarti yang berbeda dari golongannya, boleh diinjak. Apalagi, jargon memiliki makna yang amat ofensif, agresif dan menyerang kelompok yang berbeda pandangan.

Dalam perjalanannnya, ada semacam klarifikasi bahwa pluralisme yang dimaksud bukan keberagaman. Tetapi pluralisme versi Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan semua agama adalah sama. Si biduan sendiri, mengakui, dia amat toleran dengan pemeluk agama lain, dalam masalah bisnis. Well, ternyata toleransi bisa muncul ketika masuk urusan perut. (more…)

Nama Alias Lelaki Bali

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on Januari 20, 2012

Mengapa kebanyakan lelaki Bali memiliki nama alias?

Tulisan ini ringan saja. Oke, jadi kali ini aku akan bercerita tentang diriku dan sedikit orang-orang yang kuketahui. Tentang lelaki Bali. Ide ini terlintas begitu saja ketika aku ngobrol dengan seorang kawan di DPR. Dia bertanya, kenapa namamu Lenyot? Agak bingung juga jawabnya. Kenapa ya? Aku sendiri balik bertanya.

Nama ini sendiri sudah disematkan, ceilah, sejak kelas 6 SD. Sudah bertahun-tahun. meskipun kedengaran aneh, nama ini tidak mengganggu. Bahkan, orang yang memanggilku dengan nama ini sudah meninggal dunia. Jadi, kenapa dia memanggilku “Lenyot” sudah tidak bisa dijelaskan lagi dan memang tidak perlu diperjelas. My name is Le, Lenyot! (more…)

Tagged with: ,
%d blogger menyukai ini: