Agus Lenyot

Dua Film tentang Jurnalisme

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Maret 14, 2016

Kill the Messenger

Keduanya berdasarkan kisah nyata. Menyoroti bagaimana jurnalisme investigasi bekerja.

Saya menonton dua film bertema jurnalistik beberapa waktu yang lalu. Selain Kill the Messenger, film lainnya adalah Spotligth yang meraih Piala Oscar. Spotlight tentu saja bagus, meskipun seharusnya tak menang Academy Awards sebagai film terbaik 2015. Ada film lain yang lebih layak memenangkan Oscar: The Revenant.

Sudahlah.

Saya ingin membahas dua film ini, karena erat dengan pekerjaan saya saat ini.

Jurnalisme investigasi adalah pekerjaan yang tidak selamanya menyenangkan. Setidaknya bagi Gary Webb, seorang jurnalis di media San Jose Mercury News. Suatu ketika dia mewawancarai seorang pengedar narkoba. Di tengah tanya jawab, segerombolan polisi menggerebek mereka. Hasilnya? Webb mendapatkan reportase yang amat basah. (more…)

Tagged with: ,

Learn from Rolling Stone Article

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 20, 2015

Rolling Stone’s article about rape in campus realized us that how important to critical our anonymous resources. Even, they were reliable sources or closed friends. A Rolling Stone reporter Sabrina Rubin Erdely wrote an article, A Rape on Campus. This story told about gangbang rape befall a student was called Jackie, just Jackie, without her last name. Jackie told Erdely that she was raped by many students after the party in fraternity house called Phi Kappa Psi.

This article was amazing story, about faced rape brutally. Ederly believed in her and forgot to crosscheck to other sources that was mentioned by Jackie, people who was accused as a rapist. Immediately, Rolling Stone realized that this article infringes a standard procedure in journalism: verification. And then they asked Columbia Journalism School to investigating the making process of this article. Eventually, Rolling Stone acknowledge that this story was hoax, which was being recorded as new scandal in America’s history journalism. (more…)

Tagged with: , ,

Menjadi Jurnalis Kagetan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 7, 2015

Jurnalis yang terkaget-kaget mendapati suatu peristiwa bisa disebabkan sejumlah hal. Kurang baca, kurang riset atau memang pada dasarnya tak tahu.

Aku teringat dengan wartawan kagetan saat membaca kicauan Bagja Hidayat, editorku di media tempatku bekerja. Dia sedang membahas soal wartawan kagetan. Di dalam akun Twitternya, sepekan lalu Bagja menulis, “Menulis kagetan juga membuat kesan wartawan miskin, meskipun memang begitu faktanya. Kaget melihat pelayan warteg berbelanja tas Rp 2 juta.”

Screenshot_2015-04-07-18-41-17-1

Usai membaca beberapa kicauan itu, aku teringat bahwa ada banyak berita yang mengesankan wartawan kaget dengan fakta yang mereka temui. Di jurnalisme daring, indikator paling nyata soal jurnalis kagetan adalah berita berjudul dengan awalan, ‘Wow’, ‘Wah’, atau ‘Wuih’. Bisa jadi maksudnya adalah untuk menarik pembaca. Seolah-olah ada peristiwa luar biasa yang jarang diketahui publik. Sehingga perlu ditambah diksi yang, menurutku, lebay. (more…)

Intervensi Bos Televisi Tak Kunjung Henti

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Juni 29, 2014

Cover-buku-AJI-Semarang-Independensi-Media

Raymond Rondonuwu tak bisa menutupi rasa jengkelnya. Tangannya menggenggam kertas berisi susunan isi berita Seputar Indonesia Sore. Pada Rabu, 11 Juni, produser acara Seputar Indonesia Malam itu diminta menayangkan kembali isu bocornya pertanyaan debat calon presiden putaran pertama yang digelar Komisi Pemilihan Umum.

Perintah Pemimpin Redaksi RCTI Arya Mahendra Sinulingga itu langsung ditolak Raymond. Dia beralasan, sumber informasi berita tersebut tak kredibel. Kalau dipaksakan, pengulangan berita tersebut memojokkan salah satu calon presiden.”Ini menunjukkan bahwa pimpinan tak punya integritas dan kompetensi dalam memilih berita,” kata Raymond. (more…)

Disiplin Menggunakan Sumber Anonim

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 21, 2014

1383693590251579338

Ada filosofis baru di kalangan wartawan: makin anonim makin keren. Buat saya justru sebaliknya, banyak sumber anonim justru akan merendahkan tingkat kepercayaan pada produk jurnalistik.

Saya tertarik (lagi) membahas sumber anonim ketika membaca tulisan di The Jakarta Post, Jokowi Shrugs off infighting. Dalam artikel ini, sumber anonim The Jakpost mengatakan Puan Maharani marah pada Jokowi dan mengusirnya pada rapat evaluasi usai pencoblosan 9 April lalu. Megawati menangis mendengar pertikaian anaknya, Puan dan Prananda Prabowo. Konflik klasik antara dua orang saudara tiri. Drama abis. Hehehe.

Produk jurnalistik menurut saya setidaknya mesti memenuhi dua kebenaran yaitu kebenaran prosedur dan benar secara substansif. Seorang mentor saya di Tempo mengatakan, jurnalis itu mesti jujur sejak dalam proses. Setiap tahapan pembuatan berita yaitu riset, reportase dan wawancara harus transparan dan dapat diuji. Ini untuk meminimalisir kesalahan dan agar lebih dekat pada fakta yang ingin kita laporkan. (more…)

Tagged with: ,

Bola Liar ‘Dugaan Lobi di Toilet’ Seleksi Hakim Agung

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Oktober 3, 2013

jurnalisme gosip1

Pertanyaan besar yang sering ada di kepalaku, bagaimanakah menyampaikan fakta dalam jurnalistisk?

Aku sendiri sejak awal memutuskan tidak menulis dugaan lobi toilet antara calon hakim agung dengan seorang anggota Komisi III DPR karena dua alasan. Pertama, aku tak melihat sendiri peristiwa itu terjadi. Kedua, aku tak yakin di sana ada lobi, kemudian transaksi atau pemberian sesuatu.

Karena tak yakin, aku memutuskan untuk tidak menjadikannya berita. Aku cuma berpikir, bagaimana mungkin aku menulis sesuatu yang tidak aku lihat sendiri peristiwanya dan tidak aku yakini kebenarannya. Meskipun saat itu, berbagai media daring menjadikan isu sebagai berita hangat kala itu. (more…)

Mereka (yang) Pelan-Pelan Terlupakan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Agustus 16, 2013
Dua bocah terkecil di foto itu adalah Sidika dan Khotam, pengungsi di Transito.

Dua bocah terkecil di foto itu adalah Sidika dan Khotam, pengungsi di Transito.

“Ayah kapan kita pulang ke rumah sendiri?”

Ucapan polos dua anaknya, Maryam Nur Sidikah, 6 tahun, dan Muhammad Khotaman Nabiyyin, 4 tahun, kerap mengusik pikiran Sahidin, koordinator pengungsi Ahmadiyah di Wisma Transito Majeluk, Kota Mataram. Sahidin hanya mengelus dada. “Sabar ya Nak, nanti kita pulang kok ke rumah.”

Sidikah dan Khotam merupakan dua dari 24 anak Ahmadiyah yang lahir di pengungsian Asrama Transito. Kini sebanyak 32 kepala keluarga yang berjumlah 130 jiwa menghuni tempat pengungsian ini. Mereka resmi berstatus pengungsi sejak penyerbuan perumahan Ahmadiyah di 4 Februari 2006 silam. Anak-anak ini tak pernah mencecap hidup nyaman di rumah sendiri. (more…)

Tagged with: ,

Amplop, Wartawan dan Independensi Media

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Juli 3, 2013

Jurnalis Tolak

Tidak semua wartawan menolak amplop. Tapi banyak wartawan yang permisif pada pemberian. Kriteria amplop seharusnya diperjelas, sekaligus dipertegas.

Menurutku, ada beberapa kategori relasi wartawan dengan amplop. (more…)

Jurnalisme Itu Verifikasi Tanpa Henti

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Mei 26, 2013
Tintin juga wartawan lhooo...

Tintin juga wartawan lhooo…

Aku tergelitik dengan pertanyaan seorang wartawan kepada politikus di DPR beberapa hari lalu. Pertanyaannya begini, “Apa perlu ada tindakan tegas kepada pejabat yang membocorkan dokumen rahasia?”

Konteksnya tentu saja adalah bocornya nama aliran dana Ahmad Fathanah kepada 45 perempuan. Aku tidak perlu jelaskan siapa Ahmad Fathanah. Tetapi 45 perempuan yang menerima dana ini menjadi fenomenal karena cantik, seksi dan beberapa diantaranya pesohor publik. Secara hukum, PPATK dilarang menyebutkan aliran dana seseorang kepada publik, termasuk jurnalis. Namun, selalu saja ada wartawan yang berusaha dengan lebih gigih untuk mendapatkan data seperti ini.

Maksud pertanyaan rekan wartawan tadi tentu saja termasuk bocornya berita acara pemeriksaan kepada media massa. Padahal seandainya mereka tahu, dokumen penting bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Perlu pendekatan, lobi dan kepercayaan tingkat tinggi untuk meyakinkan narasumber. Seperti kebenaran, dokumen berharga seperti perlu perjuangan untuk mendapatkannya.
(more…)

Jurnalis Belum Layak Hidup di Jakarta

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Mei 9, 2013

antarafoto-1282971907-

Beberapa waktu lalu, Aliansi Jurnalis Independen Jakarta merilis mengenai upah layak jurnalis setingkat reporter di Jakarta. Dari survei AJI, upah layak jurnalis Jakarta adalah sebesar Rp 5,4 juta. Kalau angka ini menjadi indikator, sebagian besar wartawan belum layak hidup di Jakarta. Hanya Jakarta Post dan Bisnis Indonesia yang bisa menggaji wartawannya dengan layak. Aku sendiri? Yah, anggap saja seolah-olah sudah hidup layak.

Banyak yang salah kira mengenai pekerjaan wartawan. Banyak yang mengira menjadi wartawan itu kerjaannya jalan-jalan saja. Hmmm.. Sebagian kecil yang mengira demikian, jawabannya mungkin benar. Tetapi sebagian besar yang berpikir demikian mempunyai asumsi yang salah. Jika, kalian yang masih bocah-bocah pengen punya cita-cita, jadi wartawan bukan pilihan tepat. Prosesnya agak berliku dan panjang. (more…)

%d blogger menyukai ini: