Agus Lenyot

Selamat Jalan, Pak Suhardi

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Agustus 30, 2014

suhardi-gerindra

Prof. Suhardi adalah salah satu narasumber di Partai Gerindra yang menyenangkan dan mudah dihubungi.

“Mas, pesawat saya delay. Nanti saya kabarin kalau sudah take off.”

Pesan singkat masuk sekitar pukul 12 siang pertengahan Oktober 2013. Saya sedang berada di Damri menuju Bandara Soekarno Hatta. Sang pengirim pesan adalah Pak Suhardi, Ketua Umum Partai Gerindra. Kami memang sudah membuat janji wawancara khusus sebelumnya. Pak Suhardi sendiri lebih sering tinggal di Yogyakarta. Selain menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada, Pak Suhardi juga menjadi caleg dari daerah itu.

Oktober 2013, Majalah Tempo menulis persiapan Prabowo Subianto menjadi calon presiden. Setelah wawancara Prabowo dua kali, di kantor Tempo dan rumahnya yang megah di Hambalang, saya diminta oleh redaktur wawancara Ketua Umum Gerindra, Suhardi. Pak Suhardi adalah narasumber yang gampang dihubungi, jadi ya akhirnya saya bikin janji dengan beliau.

“Tak masalah, Pak.” Saya menjawab singkat. (more…)

Tagged with:

Terjebak di Toilet Perempuan

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 31, 2013

+cewe-curang3

Bayangkan jika kamu adalah seorang lelaki, terjebak di toilet perempuan? Sampai sekarang aku bergidik trauma setiap mengingat peristiwa itu.

Kejadian ini terjadi sudah lebih dari dua bulan. Tapi menghapus trauma dan menghilangkan bayang-bayang kejadian itu, aku perlu waktu lama. Sesekali, peristiwa itu kerap-kerap datang malam-malam dan mengganggu tidur. Model trauma ini sama seperti saat aku kecelakaan lalu lintas dulu. Kerap menghantui dan menimbulkan ketakutan sendiri.

Jadi ceritanya begini. Sore itu, lupa persis tanggalnya, aku sedang duduk di gedung Nusantara I Komplek DPR, persisnya di depan ruang Komisi X. Sore-sore, lokasi ini menjadi tempat nongkrong favorit beberapa wartawan DPR. Setidaknya untuk dua alasan. Pertama, karena bisa mencegat beberapa anggota DPR yang keluar dari ruangannya. Lumayan, bisa nambah produktivitas berita dan lobi-lobi ke narasumber. Kedua, bisa ngeliat staf-staf DPR yang kece-kece, bening dan seksi abis. Cewek-cewek cakep ini biasanya selalu pulang melewati gedung ini. Jika harus memilih, aku sih lebih percaya, wartawan nongkrong di sini karena alasan kedua. (more…)

Pekerjaan Ideal itu ya Jadi Anggota DPR

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 16, 2013

korupsi-banggar-DPR

Kenapa? Karena bisa isa kerja tanpa target dengan gaji besar plus tunjangan macam-macam.

Beberapa waktu lalu aku ngobrol santai dengan seorang teman wartawan. Sore-sore sambil ngopi sembari melihat staf ahli yang kece-kece lewat di Nusantara I Sebagai wartawan DPR, obrolan kami tak lepas dari korupsi, perilaku anggota Dewan dan staf-stafnya yang, ya itu tadi kece dan seksi-seksi abis.

“Pekerjaan itu ideal itu ya menjadi anggota DPR,” kata teman saya itu.

Lho, kok?

“Iya, target kerja nggak ada, gaji gede, staf cantik-cantik. Dibayarin negara pula!”

Aku manggut-manggut membenarkan.

“Coba apa susahnya menjadi anggota DPR?” dia bertanya.

“Yang susah adalah cara memperoleh kursinya!” Aku langsung nyamber. (more…)

Menyimak Kiprah Wakil Rakyat Asal Bali

Posted in Bali, Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on April 20, 2013

gedung-dpr-mpr1

Tidak banyak politikus asal Bali yang menonjol di level nasional.

Aku bukan bermaksud melakukan kampanye hitam terhadap figur atau partai politik tertentu. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku lihat selama setahun terakhir di DPR. Kiprah politikus Bali memang rata-rata air. Menonjol tidak, tenggelam-tenggelam amat juga tidak. Apakah ini memang sesuai dengan karakter masyarakat Bali? Aku tidak bisa menebak dengan benar. Tetapi kebanyakan orang Bali memang lebih senang menarik diri dari persoalan daripada berkonfrontatif dengan lawan.

Pada Pemilu 2009, Bali kebagian 9 kursi. Jumlahnya ini tidak berubah karena sudah dikunci melalui Undang-Undang Pemilu. Pemilu lalu, PDI Perjuangan masih mendominasi dengan menyumbangkan empat wakil yakni I Wayan Koster, I Made Urip, Nyoman Dhamantra dan I Gusti Agung Rai Wirajaya. Dua kursi milik Golkar yakni Gde Sumarjaya Linggih alias Demer dan I Gusti Ketut Adhiputra. Dua kursi berikutnya jatah Demokrat yakni Gede Pasek Suardika dan I Wayan Sugiana. Sedangkan satu kursi tersisa milik Partai Gerindra yakni Agung Jelantik Senjaya. (more…)

Tidak Ada yang Salah Menteri jadi Caleg

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on April 10, 2013

Menurutku seperti itu sih. Makanya aku agak bingung dengan banyaknya politikus yang menolak atau mengecam menteri yang jadi caleg.

Wacana ini dimulai ketika Senin kemarin aku iseng mengontak Ketua Satgas Penyeleksian Caleg Partai Demokrat, Suaidy Marasabessy. Di tengah gangguan sinyal Telkomsel, berkali-kali telepon ini putus nyambung. Aku bertanya, apakah lima menteri mereka akan menjadi caleg? Demokrat memang punya menteri paling banyak, Menteri Perhubungan, Menteri ESDM, Menteri Koperasi, Menteri Hukum dan Menteri Pemuda. Pak Ketua Satgas menjawab iya. Siangnya aku bertanya kembali pada Ketua Bapilu Demokrat, Agus Hermanto dan ada penegasan dengan sejumlah alasan: lima menteri akan nyaleg.
(more…)

Tagged with: , ,

Menunggu Partai Demokrat Menjadi Dewasa

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Maret 31, 2013
Foto ini hanya untuk menyegarkan tulisan.

Foto ini hanya untuk menyegarkan tulisan.

Aku mengikuti dinamika Demokrat dalam jarak dekat.

Sebagai sebuah partai, Demokrat terlalu cepat menjadi besar. Akibatnya, partai ini gagap menghadapi serangan politik dari kiri kanan, gugup kala berhadapan dengan kritik publik dan gagal menyelesaikan konflik internal akibat belum matang berpolitik. Ibarat manusia, Demokrat seperti seorang anak yang berusia sepuluh tahun tetapi disuruh menjadi kepala keluarga dan menyelesaikan persoalan yang belum semestinya ada. Gugup dan terseok-seoklah jadinya.

Bagi Demokrat, memiliki tokoh seperti SBY adalah keuntungan di satu sisi dan kerugian di sisi lain. Beruntung karena SBY, diakui atau tidak adalah magnet bagi partai ini. Melambungnya popularitas Demokrat sebagian besar juka karena kesukaan publik kepada SBY. Aku pernah terpukau pada sosok ini pada Pemilu Presiden 2004. Sebagai pemilih pemula kala itu, aku gampang terlena oleh citra yang dibuatnya. Aku menjadi salah satu pemilih pemula yang membuat SBY menempati kursi presiden pada 2004. Pemilu 2009, aku tidak memilih orang yang sama. (more…)

Panas Adem Partai NasDem

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Januari 28, 2013

ditinggal-hary-tanoe-nasdem-terancam-rontok-di-pemilu

Tidak ada penanda apapun pada gedung tua di Jalan Diponegoro 29 Jakarta Pusat itu. Sebagian dinding gedung berbentuk oval dua lantai itu kusam, kotor dan berlumut. Sejumlah komputer diletakkan sekenanya, tak jauh dari meja pingpong. Di halaman belakang, sebagian rumput dan tanaman liar tampak belum lama dipangkas. Gedung di kawasan elit ini sebelumnya merupakan Museum Adam Malik. Museum bangkrut lalu dibeli oleh Harry Tanoesoedibjo, bos Grup Media Nusantara Citra.

“Di sinilah gerakan perubahan baru akan kami mulai,” kata bekas Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat, Ahmad Rofiq kepada Tempo, Rabu, 23 Januari 2012 lalu. Wajahnya terlihat lelah. Rofiq menjelaskan, gedung ini menjadi sentra NasDem saat menjalani verifikas. Tetek bengek kebutuhan partai disiapkan di sini.

Senin lalu, dia baru saja mengambil langkah besar: mundur dari NasDem. Setelah ini, disokong oleh Harry Tanoe tentu saja, dia sedang merumuskan langkah politik baru. “Bentuknya ormas, tetapi namanya belum ketemu.” Rofiq mengaku didukung oleh sejumlah anak muda yang penuh idealisme.
(more…)

Selamat Hari Ibu, Mbah….

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Desember 22, 2012

aku dan mbah

Nenekku, aku biasa memanggilnya dengan nama Mbah, adalah ibu sesungguhnya sejak aku masih kecil, sekolah, kuliah hingga bekerja kini. Menelepon Mbah, adalah pekerjaan yang relatif rutin aku lakukan belakangan ini. Hanya untuk menanyakan kabar keluarga di rumah dan memastikan dia sehat-sehat saja, apa lauk yang dimakan hari ini hingga bagaimana kondisi kebun di rumah. Entah mengapa, menanyakan lauk adalah tradisi yang lumrah kami tanyakan setelah sekian lama tidak ketemu. Meskipun tidak lebih dari lima menit, memastikan dia tetap sehat adalah anugerah yang sangat kusyukuri hingga hari ini.

Mbahku adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal. Dialah yang membesarkanku sejak aku masih orok hingga sekarang sudah ganti pacar beberapa kali. Hahaha. Seseorang yang menyekolahkanku hingga tamat sarjana hanya dengan bermodalkan menjual jajanan Bali. Selain kakekku, Mbah adalah orang yang benar-benar berharga bagi hidupku.

Aku ingin bercerita tentang pengalaman buruk dan membuatku kangen dengan Mbah hari ini. (more…)

Tagged with: , ,

Mengapa Kita (Tidak) Harus Selalu Percaya Dahlan Iskan?

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on November 30, 2012

dahlan-vs-dpr

Aku termasuk orang yang tidak selalu percaya dengan sepak terjang Dahlan Iskan.

Dahlan punya segalanya untuk menjadi sumber berita. Sebagai bos media terbesar di Indonesia, dia pintar membaca psikologis wartawan. Dia tahu apa yang dibutuhkan wartawan untuk diberitakan. Terlepas kemudian memang itu sudah menjadi ciri khas Dahlan jauh sebelum dia jadi menteri.

Tetapi, aku bukan orang yang gampang percaya dengan semua tindak tanduk Dahlan. Aksinya di beberapa hal memang mengundang simpati. Tetapi, dalam pandanganku, justru lebih banyak tingkah lakunya yang mengundang antipati. Dalam pandanganku tentu saja.

Aku simpati dengan gaya kasualnya. Saat pejabat tinggi pakai beragam busana dengan harga mahal, Dahlan justru memakai sepatu kets. Kalau satu stel busana pejabat bisa puluhan juta, aku memperkirakan nilai pakaian yang melekat dalam keseharian si menteri sekitaran Rp 1 juta. Aku sering memperhatikan sepatu kets merk New Balanced yang kerap dia pakai. Ini menurutku unik untuk pejabat tingkat menteri. Bahkan, ada yang menjadikan ini sebagai judul novel. Luar biasa magnet seorang Dahlan. (more…)

Tagged with:

Seharusnya Kita Mengawasi Partai Politik

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on November 25, 2012

Aku membaca beberapa kicauan dari Coen Hasan Pontoh hari ini.

Kicauan itu, entah sebuah gugatan atau keprihatinan, soal partai politik. Coen mengatakan, partai politik muncul hanya jelang pemilu. Bahkan, parpol sekarang lebih mundur ketimbang era demokrasi liberal pada 1950-an. Pada masa itu, parpol hadir di masyarakat, bikin sekolah, acara budaya, ngajarin bertani, punya media dan sebagai. Kata Coen, ketika partai melakukan politics of everyday life. Sekarang, partai politik hanya jadi mesin electora.

Tempatku liputan sekarang, DPR adalah salah satu muara dari partai politik. Artinya salah bagaimana gambaran partai politik seharusnya terbaca dari bagaimana kualitas DPR kita. Publik pasti memiliki persepsi sendiri bagaimana wajah DPR kita. Dihujat jalan terus, dicaci tak peduli, diabaikan malah ngelunjak.

Kita memang sudah kadung antipati dengan partai politik. Bisa jadi karena kita muak dengan perilaku elit. Gaya hidup mewah, koruptif dan jauh dari rakyat. Gambaran itu menjadikan partai politik menjadi seolah-olah haram dan harus dijauhi. Tanya deh kepada kawan terdekatmu, yang biasa kamu ajak bergaul sehari-hari, bagaimana persepsi mereka terhadap partai politik. (more…)

%d blogger menyukai ini: