Agus Lenyot

Dua Film tentang Jurnalisme

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Maret 14, 2016

Kill the Messenger

Keduanya berdasarkan kisah nyata. Menyoroti bagaimana jurnalisme investigasi bekerja.

Saya menonton dua film bertema jurnalistik beberapa waktu yang lalu. Selain Kill the Messenger, film lainnya adalah Spotligth yang meraih Piala Oscar. Spotlight tentu saja bagus, meskipun seharusnya tak menang Academy Awards sebagai film terbaik 2015. Ada film lain yang lebih layak memenangkan Oscar: The Revenant.

Sudahlah.

Saya ingin membahas dua film ini, karena erat dengan pekerjaan saya saat ini.

Jurnalisme investigasi adalah pekerjaan yang tidak selamanya menyenangkan. Setidaknya bagi Gary Webb, seorang jurnalis di media San Jose Mercury News. Suatu ketika dia mewawancarai seorang pengedar narkoba. Di tengah tanya jawab, segerombolan polisi menggerebek mereka. Hasilnya? Webb mendapatkan reportase yang amat basah. (more…)

Iklan
Tagged with: ,

Menjadi Jurnalis Kagetan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 7, 2015

Jurnalis yang terkaget-kaget mendapati suatu peristiwa bisa disebabkan sejumlah hal. Kurang baca, kurang riset atau memang pada dasarnya tak tahu.

Aku teringat dengan wartawan kagetan saat membaca kicauan Bagja Hidayat, editorku di media tempatku bekerja. Dia sedang membahas soal wartawan kagetan. Di dalam akun Twitternya, sepekan lalu Bagja menulis, “Menulis kagetan juga membuat kesan wartawan miskin, meskipun memang begitu faktanya. Kaget melihat pelayan warteg berbelanja tas Rp 2 juta.”

Screenshot_2015-04-07-18-41-17-1

Usai membaca beberapa kicauan itu, aku teringat bahwa ada banyak berita yang mengesankan wartawan kaget dengan fakta yang mereka temui. Di jurnalisme daring, indikator paling nyata soal jurnalis kagetan adalah berita berjudul dengan awalan, ‘Wow’, ‘Wah’, atau ‘Wuih’. Bisa jadi maksudnya adalah untuk menarik pembaca. Seolah-olah ada peristiwa luar biasa yang jarang diketahui publik. Sehingga perlu ditambah diksi yang, menurutku, lebay. (more…)

Jurnalisme Itu Verifikasi Tanpa Henti

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Mei 26, 2013
Tintin juga wartawan lhooo...

Tintin juga wartawan lhooo…

Aku tergelitik dengan pertanyaan seorang wartawan kepada politikus di DPR beberapa hari lalu. Pertanyaannya begini, “Apa perlu ada tindakan tegas kepada pejabat yang membocorkan dokumen rahasia?”

Konteksnya tentu saja adalah bocornya nama aliran dana Ahmad Fathanah kepada 45 perempuan. Aku tidak perlu jelaskan siapa Ahmad Fathanah. Tetapi 45 perempuan yang menerima dana ini menjadi fenomenal karena cantik, seksi dan beberapa diantaranya pesohor publik. Secara hukum, PPATK dilarang menyebutkan aliran dana seseorang kepada publik, termasuk jurnalis. Namun, selalu saja ada wartawan yang berusaha dengan lebih gigih untuk mendapatkan data seperti ini.

Maksud pertanyaan rekan wartawan tadi tentu saja termasuk bocornya berita acara pemeriksaan kepada media massa. Padahal seandainya mereka tahu, dokumen penting bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Perlu pendekatan, lobi dan kepercayaan tingkat tinggi untuk meyakinkan narasumber. Seperti kebenaran, dokumen berharga seperti perlu perjuangan untuk mendapatkannya.
(more…)

Sedikit Mitos tentang Profesi Wartawan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Januari 22, 2012

Banyak yang salah sangka tentang pekerjaan wartawan.

Begitulah, sesuatu yang berkilau di luar kadang pengap di dalam. Termasuk profesi wartawan (iya, AJI mengkategorikan wartawan sebagai kerja profesional). Saat kecil, kakekku bilang kalau mau sering muncul di televisi dan jalan-jalan ke luar negeri jadilah wartawan. Faktanya? Tidak sepenuhnya benar.

Dulu, mungkin ya, menjadi wartawan bisa jadi adalah profesi bergengsi. Bayangkan saja, media cetak terbatas. Kalau mau bikin, perlu segala ijin. Sementara, televisi juga tak banyak. Makanya, kita hafal sampai sekarang penyiar berita macam Desi Anwar dan Dana Iswara. Portal-portal berita nyaris nggak ada. Wartawan juga otomatis tidak sebanyak sekarang. (more…)

%d blogger menyukai ini: